Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 67. Sandiwara Berujung Celaka


__ADS_3

Pertengkaran antara Tamara dan Yuri semakin sengit. Yuri tetap mempertahankan pecahan piring itu di tangannya, sedangkan Tamara terus berusaha merebutnya.


"Yuri ... kamu dimana, Sayang?"


Di saat yang sama tiba-tiba terdengar teriakan Pandu yang saat itu sedang mencari keberadaan Yuri.


Tanpa bermaksud saling melepaskan cengkraman tangannya, Yuri dan Tamara justru saling menatap tajam dan sama-sama menggeram saling memberi tantangan.


"Yuri ... apa kamu ada di dapur?"


Suara diiringi derap langkah Pandu terdengar semakin mendekat ke arah dapur.


Menyadari Pandu pasti akan melihat pertengkaran mereka, Tamara bergegas melepaskan tangannya dari tangan Yuri lalu menarik sebelah tangan Yuri dan dia tempelkan di kepalanya. Tamara sengaja mengacak rambutnya sendiri dan menciptakan sebuah drama penganiayaan, sebelum Pandu melihat ke arah mereka.


"Hei, ada apa ini?" Mata Pandu terbelalak lebar melihat kedua istrinya tengah bertengkar sengit, apalagi dengan posisi tangan kanan Yuri memegang pecahan piring, sedangkan tangan kirinya ada di atas kepala Tamara dan terlihat seolah sedang menjambak rambut Tamara.


"Yuri mengancamku, Mas! Dia sengaja memecahkan piring untuk melukai tanganku dan dia juga menjambak rambutku." Tamara mengadu, dengan ekspresi wajah yang dia buat seperti sedang sangat ketakutan.


"Sakit, Yuri! Tolong lepaskan tanganmu dari rambutku." Tamara merintih dan berpura-pura kesakitan akibat jambakan Yuri.


"Itu tidak benar, Mas. Tamara berbohong. Dia sengaja ingin memfitnahku," sanggah Yuri tidak mau disalahkan, sambil berusaha melepaskan tangannya dari kepala Tamara. Akan tetapi, Tamara justru semakin kuat memegang tangan Yuri dan menekannya lebih kuat di atas kepalanya.


"Dia yang bohong, Mas. Kamu lihat ini ... tanganku terluka dan berdarah, semua itu karena perbuatan istri mudamu yang serakah ini!" pekik Tamara membela diri sambil berpura-pura menangis ketakutan dan menunjukkan luka di tangannya.


"Entah apa yang sedang kalian berdua lakukan disini? Pagi-pagi sudah buat keributan. Apa kalian tidak malu di dengar tetangga?" bentak Pandu marah, kesal akan kelakuan Tamara dan Yuri.


"Lepaskan tanganmu dari Tamara, Yuri!" Pandu terus membentak seraya memberi tatapan tajam ke arah Yuri, seakan terhasut oleh tuduhan Tamara.

__ADS_1


Yuri kini berhasil menarik tangannya dari kepala Tamara, karena Tamara langsung melepaskannya setelah mendengar bentakan Pandu. Dia juga ikut menatap Pandu dengan sorot tidak senang.


"Buang pecahan piring itu, Yuri!" perintah Pandu dengan suaran kian meninggi. "Apa kamu tahu, mengancam dengan benda tajam adalah tindakan kejahatan? Tamara bisa menuntut dan melaporkanmu ke polisi!" imbuhnya menegaskan akan sebuah kemarahan.


"Tapi, Mas ... aku tidak pernah mengancamnya. Dia bohong, Mas. Justru Tamara yang ingin merebut benda ini dari tanganku dan ingin melukaiku, Mas!" tampik Yuri membeberkan yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak mau dengar apapun, Yuri! Cepat buang dan bersihkan semua pecahan-pecahan itu!" Pandu berkacak pinggang dan menudingkan telunjuknya kepada Yuri.


Tamara semakin mengeraskan suara tangisnya, tetapi sebenarnya dalam hati dia tersenyum licik, merasa sangat senang karena merasa yakin sudah berhasil mempengaruhi Pandu dan menyalahkan Yuri atas semua yang terjadi.


"Aku tidak mengerti, kenapa Yuri selalu saja ingin menyakiti aku, Mas. Aku sudah berusaha bersikap baik padanya. Tapi dia memang sangat membenciku." Tamara kembali terisak dan menumpahkan air mata palsunya. Melihat Yuri kembali berjongkok dan memunguti semua pecahan piring itu, akal busuk kembali mengisi pikiran Tamara. Dengan berpura-pura menjadi korban, dia menghampiri Yuri dan merebut kembali pecahan piring itu dari Yuri.


"Aku tahu, Yuri! Kamu memang dari dulu ingin menyakiti aku, 'kan? Supaya keinginanmu berhasil dan Mas Pandu tidak menyalahkanmu, biar aku saja yang melakukannya. Aku akan akhiri hidupku sekarang juga seperti keinginan kamu, Yuri!" Tamara kembali merebut paksa pecahan piring tersebut dari tangan Yuri, seolah sangat frustasi dan menyakiti dirinya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan, Tamara? Heiii ... lepaskan benda tajam itu!" seru Yuri menahan tangan Tamara. Aksi rebutan pecahan piring itu terjadi lagi. Yuri semakin tidak mau melepaskannya, karena takut Tamara akan benar-benar nekat menyakiti dirinya dengan benda tajam tersebut.


Ketika kejadian saling rebut itu berlangsung sengit, tanpa sengaja kaki Tamara menginjak salah satu pecahan yang masih ada di lantai dan membuatnya terkesiap, merasakan kakinya perih dan mengeluarkan darah. Di saat itulah, keseimbangan tubuhnya seakan tidak mampu dia kontrol.


Tubuh Tamara terjatuh dan bagian perutnya menabrak pinggir meja.


"Aarghh ... " Tamara meringis kesakitan dan tubuhnya ambruk ke permukaan lantai sambil memegang perutnya.


"Tamara ... " Pandu dan Yuri berteriak panik bersamaan. Kejadiannya begitu cepat sehingga mereka tidak sempat menangkap tubuh Tamara yang kini sudah terkapar di lantai.


Pandu bergegas menghampiri Tamara dan mengangkat punggungnya.


"Tamara ... kamu nggak apa-apa?" Pandu mengusap wajah Tamara yang tiba-tiba tampak pucat pasi.

__ADS_1


"Perutku ... perutku sakit sekali, Mas," rintihnya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya.


"Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kehamilan Tamara, Mas. Sebaiknya kita bawa dia segera ke rumah sakit," sergah Yuri, ikut merasa panik menyaksikan dengan keadaan Tamara saat itu.


"Iya, ayo, Tamara! Aku akan membawamu ke rumah sakit!"


Dibantu oleh Yuri, Pandu mengangkat tubuh Tamara lalu membopongnya keluar dari rumah mereka.


"Cepat buka pintu mobilnya, Yuri!" perintah Pandu ketika mereka tiba di garase dan akan membawa Tamara segera masuk ke mobil itu.


"Baik, Mas." Yuri segera membuka pintu penumpang lebar-lebar dan memberi ruang agar Pandu bisa membaringkan Tamara di jok mobil bagian tengah.


Bersamaan dengan Pandu yang sudah masuk ke mobil itu, Yuri juga masuk di kursi penumpang bagian depan dan mereka akan sama-sama mengantar Tamara ke rumah sakit.


"Aduh ... perutku makin sakit, Mas. Aku tidak tahan!" Dalam perjalanan, Tamara terus meringis merasakan perutnya semakin sakit dan juga dibarengi rasa perih akibat luka di jari dan kakinya yang masih mengeluarkan darah.


"Mas Pandu ... tolong percepat laju mobilnya! Aku tidak kuat lagi. Aku juga tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan bayiku," rengek Tamara sambil menahan semua rasa sakit.


"Iya, bersabarlah, Tamara. Ini sudah kecepatan maksimal." Pandu yang juga sangat khawatir dengan keadaan Tamara, hanya bisa menenangkan dan sebisa mungkin mempercepat laju mobilnya.


"Ini semua gara-gara kamu, Yuri! Kalau sampai terjadi apa-apa denganku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Walau sambil menahan sakit, Tamara masih sempat mengumpat dan menyalahkan Yuri sebagai biang dari semua hal yang tengah menimpanya.


"Maafkan aku, Tamara. Tapi aku tidak pernah sama sekali punya niat seperti itu. Kamu sendiri 'kan yang merebut pecahan piring itu dari tanganku. Kamu juga terjatuh karena kecerobohanmu sendiri." Yuri tetap mengelak, merasa tidak bersalah dan tidak senang karena Tamara selalu saja menuduhnya.


"Banyak alasan kamu, Yuri!" umpat Tamara lagi.

__ADS_1


"Sudah diam! Sekarang ini keadaan sedang sangat darurat, tapi kalian masih saja bertengkar! Mau kalian apa, hah?!" bentak Pandu ingin segera menghentikan adu mulut antara Yuri dan Tamara.


"Bukan saatnya meributkan semua itu lagi. Yang terpenting sekarang Tamara harus cepat-cepat sampai di rumah sakit dan mendapat pertolongan. Aku tidak mau mendengar kalian bertengkar terus," tukas Pandu membentak kesal, karena kedua istrinya masih saja bertengkar meski keadaan tengah sangat darurat.


__ADS_2