Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 50. Dibawa Pergi


__ADS_3

"Mau apa kalian?" Yuri menatap kedua pria berwajah sangar di hadapannya dengan penuh rasa khawatir, takut kedua orang itu akan menyakitinya.


"Serahkan foto itu dan jangan pernah berani menyimpan atau menyebarkannya! Kalau tidak, kami tidak takut untuk melenyapkanmu!" Salah seorang dari pria itu mendesak Yuri serta memberi ancaman yang cukup membuat Yuri bergidik ketakutan.


"Foto?" Yuri tersentak. "Foto apa yang kalian inginkan dariku?" pekik Yuri merasa bingung karena belum paham apa yang dimaksud dua pria asing itu.


"Jangan pura-pura! Kalau sampai foto itu tersebar atau ada orang lain yang melihatnya, aku pastikan hidupmu tidak akan selamat!" Kedua pria itu kembali mengancam.


"Apa yang dimaksud pria-pria ini adalah foto Pak Hans dan Bu Tamara?" Sejenak Yuri berpikir dalam hatinya.


"Aku tidak ada menyimpan foto apapun! Kalian pasti salah orang," teriak Yuri mencoba mengelak.


"Aaah, banyak alasan! Cepat berikan ponselmu dan hapus semua foto-foto itu!" berang pria itu, sangat menyadari kalau Yuri tidak sedang berkata jujur.


"Paksa saja, Men. Kita sikat dia!" seru pria satunya dengan sangat tidak sabaran.


Tanpa basa-basi, kedua pria itu langsung mencekal lengan Yuri serta memberi tatapan penuh ancaman.


"Lepaskan! Jangan coba-coba menyakiti aku!" Sekuat tenaga Yuri berusaha melepaskan tangan kedua pria tersebut dari tangannya. Namun, tenaga Yuri pastinya tidak sebanding dengan pria-pria berbadan kekar itu.


"Sebenarnya kami tidak ingin menyakitimu, asalkan kamu mau menyerahkan ponselmu pada kami." 


"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan ponselku pada kalian. Itu barang pribadi milikku. Kalian tidak boleh seenaknya mengambilnya dariku!"


"Aaallahh, banyak bacot! Cepat serahkan atau kami benar-benar akan menyakitimu!"


"Aaarrggh!" Yuri meringis kesakitan ketika salah seorang pria itu memutar tangannya ke belakang punggungnya dengan cara yang sangat kasar.


"Tolong lepaskan aku!" rengek Yuri, tetapi kedua pria itu seolah tidak punya perasaan dan sama sekali tidak mempedulikan rintihan Yuri.


"Ponselku a-a-ada di ka-kamar," sahut Yuri sangat ketakutan, karena pria itu terus mengancam dan mencengkram tangannya lebih kuat, sehingga Yuri merasa semakin kesakitan. 


"Cepat serahkan ponselmu pada kami!" Pria itu terus mengancam serta menggiring Yuri untuk masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Aku akan mengambilnya sendiri. Kalian tidak boleh ikut masuk ke kamarku. Kalau kalian memaksa masuk, aku tidak akan pernah memberikan ponsel itu pada kalian," pekik Yuri lagi mencoba bernegosiasi. 


"Banyak cincong! Cepat serahkan ponsel itu!" bentak pria yang terus memegang tangan Yuri sambil membekap mulut Yuri dengan satu tangannya yang lain.


"Jangan terlalu kasar padanya, Bro. Berikan dia kesempatan untuk mengambil ponselnya!" ujar pria satunya, tidak ingin kawannya bertindak terlalu kasar kepada wanita lemah seperti Yuri.


"Ok, satu menit! Cepat ambil ponsel itu!" Pria itu langsung mendorong tubuh Yuri dengan kasar, agar dia segera masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Secepat kilat, tangan Yuri menyambar ponsel miliknya dari atas meja di dalam kamarnya. 


"Ini pasti kerjaan Pak Hans. Mungkin saja Nona Sisca sudah mengatakan kalau aku yang memberikan foto itu kepadanya." Yuri membatin. Pikiran lugunya hanya bisa mencurigai kalau Sisca lah yang sudah mengatakan pada Hans tentang asal usul foto itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Kalau foto itu sampai jatuh ke tangan Pak Hans semuanya pasti akan sangat kacau!" Yuri terus memutar otaknya, mencoba menemukan cara untuk bisa lepas dari dua pria yang sedang mengancamnya.


"Pak Pandu! Iya, tidak ada pilihan lain, aku terpaksa harus menelponnya. Hanya dia yang bisa menolongku saat ini!"


Tak ingin membuang waktu, Yuri lalu menekan nomor Pandu dan mencoba menghubunginya. Meski dia tahu kalau tidak seharusnya dia menelpon Pandu di jam tersebut, tetapi tidak ada pilihan lain. Hanya Pandu lah satu-satunya orang yang bisa dia harapkan bisa menolongnya saat itu.


"Pak Pandu, cepat ... angkat telponnya!" Yuri semakin terlihat panik. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Pandu, tetapi tidak ada jawaban. Pandu tidak kunjung mengangkat telponnya.


"Ngambil ponsel saja lama sekali. Apa yang sedang kamu kerjakan di dalam sana, hah!" Teriakan itu kembali terdengar dan rasa cemas semakin memenuhi hati Yuri. Sejauh itu Pandu belum juga bisa dia hubungi.


"Sebentar! Aku masih mencarinya. Aku lupa dimana tadi aku menaruh ponselku." Yuri menyahut dan mencoba mengulur waktu.


"Aaahh, jangan bohong kamu!"


Braak!


Pintu kamar Yuri ditendang dengan sangat kasar oleh kedua pria itu dan keduanya menerobos, menyusul Yuri masuk ke kamarnya.


Tersentak karena kedua pria itu sudah masuk ke kamarnya, spontan saja tangan Yuri bergerak, melemparkan ponsel ke bawah kolong tempat tidurnya tanpa sempat dilihat oleh kedua pria itu.


"Aku benar-benar tidak menemukan dimana ponselku! Sedari tadi aku mencarinya. Aku lupa menaruhnya dimana," terang Yuri kembali memberi alasan bohong.

__ADS_1


"Wanita sialan! Jangan coba-coba membohongi kami!" 


"Aku tidak bohong. Aku benar-benar tidak tahu ponselku ada dimana."


"Geledah saja kamar ini, percuma meminta darinya! Wanita ini pasti akan berbohong lagi!" 


Kedua pria itu langsung bergerak mencari-cari dimana Yuri menyembunyikan ponselnya.


"Ya, Tuhan! Jangan sampai mereka menemukan ponsel itu!" Yuri terus berdoa dalam hati.


Cukup lama dua pria tak dikenal itu mengobrak-abrik kamar Yuri, tetapi mereka tidak dapat menemukan ponsel itu. Yuri sendiri pun merasa heran, beberapa kali pria-pria itu menengok dan mencari-cari ponselnya di bawah tempat tidur, tetapi kedua pria itu tidak menemukan ponsel itu.


"Heh, perempuan sialan! Cepat katakan dimana ponselmu?" Merasa sangat kecewa karena tidak kunjung menemukan ponsel Yuri, dengan sangat berang, salah seorang dari pria itu mendekati Yuri dan mencengkram pipinya. 


"Aaww, lepaskan!" Yuri menangkis tangan pria itu agar melepaskan cengkramannya.


"Aku benar-benar tidak tahu dimana ponsel itu. Mungkin saja secara tidak sengaja ponsel itu terbawa oleh temanku." Yuri kembali berbohong.


"Temanmu? Apakah dia, pria yang tadi keluar dari rumah ini?"


"I-iya, benar!" sahut Yuri gugup.


"Kurang ajar! Berarti kita tidak bisa mendapatkan ponsel itu!" gerutu pria itu merasa kesal dengan pengakuan Yuri.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Pria yang satunya bertanya dan ikut merasa bingung.


"Kita bawa saja perempuan ini ke hadapan bos, sebagai bukti kalau kita sudah menjalankan perintah darinya!"


"Iya kamu benar. Kita culik wanita ini dan serahkan kepada Bos Hans!" angguk pria itu seraya menarik tangan Yuri dan kembali mencengkramnya lebih kuat.


"Tidak! Lepaskan aku. Uhhpp ... " 


Teriakan Yuri langsung tertahan dan dia tidak mampu lagi berbicara, karena pria yang mencengkramnya langsung membekap mulut Yuri dengan tangannya.

__ADS_1


Kedua pria itu lalu menyeret tubuh Yuri keluar dari rumahnya. Yuri sama sekali tidak mampu melawan. Dia tidak punya cukup kekuatan untuk sanggup memberontak dari dua pria itu.


Malam memang sudah sangat larut. Tidak seorangpun tetangga atau warga di komplek perumahan yang melihat atau mendengar kejadian itu, sehingga kedua pria itu dengan mudah membawa Yuri pergi dari sana


__ADS_2