
Jalanan kota siang itu tampak padat oleh lalu-lalang kendaraan yang saling berpacu silih berganti. Cuaca terik dan suhu udara yang sangat panas, seakan tidak menjadi halangan bagi warga kota untuk tetap melanjutkan usahanya dalam mengais rupiah.
Di tempat berbeda, suasana panas itu juga terasa membakar hati yang tengah dilanda kegalauan. Walau berada di ruangan berpendingin yang sangat sejuk, tetapi pikiran Hans terasa begitu gerah. Amarah, kecurigaan, penasaran dan juga kecemasan, kini sedang berkecamuk di hati seorang Hansel Sanjaya.
Setelah Sisca mendapatkan sebuah foto yang menunjukkan bukti perselingkuhan dirinya bersama Tamara, pikiran Hans tidak pernah merasa tenang. Hans memang merasa sudah berhasil membohongi Sisca dan meyakinkan kalau dirinya tidak sedang bermain api dengan Tamara. Kendati demikian, rasa khawatir tetap masih ada. Hans sangat takut kalau ternyata Sisca juga tanpa sepengetahuannya, tengah menyelidiki rahasia lain di balik foto itu.
Penasaran tentang dari mana Sisca mendapatkan foto dirinya bersama Tamara, diam-diam Hans meminta chief security di kantornya, untuk menyelidiki rekaman CCTV yang menyorot ke depan ruang kerjanya. Dari hasil rekaman itu, dia juga tahu, kalau Yuri lah yang sudah dengan sengaja mengambil gambarnya bersama Tamara saat itu. Namun, apa tujuan Yuri melakukan hal itu? Semua itu pula lah yang masih menjadi tanda tanya besar di kepalanya.
Sejauh yang Hans ketahui, Yuri hanya karyawan magang di kantornya. Bagaimana Yuri bisa kenal dan memberikan foto itu kepada Sisca? Hal itu juga lah yang sangat ingin dia selidiki.
"Permisi, Pak Hans! Apa anda memanggil saya?"
Terdengar ketukan pintu dan seorang pria masuk dengan tergopoh ke ruangan Hans.
"Aah ... iya, Rudi. Silahkan duduk! Ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu." Hans mempersilahkan Rudi, yaitu kepala bagian personalia di kantor itu untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Ini dokumen yang anda minta, Pak." Rudi langsung menyerahkan sebuah map kepada Hans ketika dia sudah duduk sesuai perintah atasannya itu.
Hans segera meraih map itu dan perlahan membaca isi di dalamnya.
"Ternyata, perempuan yang bernama Mayuri ini, latar belakang pendidikannya sangat rendah dan tidak punya pengalaman bekerja sama sekali. Bagaimana bisa kamu merekrut dia magang di sini?" Hans menatap tajam ke arah Rudi dengan sorot mata tidak senang.
"Yuri cukup pintar dan suka belajar, Pak Hans. Selain itu, dia juga pekerja keras. Itu lah sebabnya, mengapa saya berani menerima dia magang di sini." Rudi berkilah dan dengan sangat percaya diri mengutarakan penjelasannya. Melihat kinerja Yuri yang sangat bagus selama sebulan magang di perusahaan itu, tentu dia merasa tidak salah, telah merekrut Yuri.
Hans hanya menganggukan kepalanya sembari menyerahkan kembali map di tangannya kepada Rudi. Map itu adalah dokumen data diri Yuri sebagai pekerja disana.
"Selain alasan tadi, apa ada orang lain yang merekomendasikan wanita ini, agar bisa diterima bekerja di sini?" Hans bertanya lagi, tetapi pertanyaannya kali ini terdengar sedikit menginterogasi.
__ADS_1
Rudi seketika terhenyak, karena alasan utama yang sebenarnya dia mau menerima Yuri bekerja di sana, adalah karena rekomendasi dari Pandu, sahabatnya.
"Ee ... tidak ada, Pak. Yuri saya terima karena sewaktu interview, dia menunjukkan sikap sopan dan dia juga bisa mulai bekerja di hari yang sama. Karena itu, saya memutuskan langsung menerimanya," ujar Rudi, tetap berusaha memberi alasan yang cukup profesional.
"Apa benar seperti itu?" Hans terus menatap tajam, sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di atas meja kerjanya. Dia tidak sepenuhnya bisa mempercayai pengakuan bawahannya tersebut.
Rudi tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan seketika menundukkan wajahnya, merasa gugup karena dia sedang tidak sepenuhnya jujur.
"Lalu apa hubungan wanita ini dengan istriku? Apa menurutmu Sisca pernah mengenal Yuri sebelumnya?" Pertanyaan Hans kian menelisik. Dia sangat curiga kalau sebenarnya, Yuri adalah orang suruhan Sisca, yang sengaja dipekerjakan di kantor itu untuk mengawasi gerak-geriknya.
"Setahu saya, Yuri dan Nona Sisca tidak saling kenal, Pak. Bertemu di kantor ini saja, sepertinya juga mereka belum pernah." Rudi kali ini berkata jujur, seperti yang dia ketahui sebenarnya. Karena, adanya Yuri di kantor itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan putri tunggal pemilik Hardianto Corporations tersebut.
"Kalau boleh saya tahu, ada permasalahan apa ya, Pak? Kenapa Pak Hans menanyakan hal semacam ini pada saya?" Rudi balik bertanya. Ada rasa heran di benak Rudi, tidak biasanya Hans bertanya tentang karyawan yang sudah dia rekrut di sana. Sedangkan, untuk posisi rank and file employees, sepenuhnya adalah merupakan tanggung jawabnya.
"Tidak ada apa-apa. Sekarang kamu boleh kembali ke ruang kerjamu!" Hans mengibaskan telapak tangannya, memberi isyarat agar Rudi segera keluar dari ruangannya.
"Baik, Pak. Saya permisi!" Rudi beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan ruang kerja Hans.
"Apa hubungan Yuri dengan Sisca? Kalau mereka tidak saling kenal, lalu apa tujuan Yuri mengambil foto itu dan memberikannya kepada Sisca?" batin Hans masih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan itu.
Cukup lama Hans hanya duduk terpaku tanpa mengerjakan apapun. Dia terus memutar otaknya berusaha mencari solusi agar Sisca tidak sampai tahu lebih banyak hal, tentang sejauh mana hubungannya dengan Tamara.
"Hai, Hans! Aku datang untuk mengajakmu makan siang di luar lagi. Kebetulan hari ini aku ada tugas ke luar kantor. Jadi, aku sempatkan menemuimu!"
Sapaan seorang wanita yang langsung masuk ke ruangannya tanpa permisi, sedikit membuat hans terkejut dan membuyarkan lamunannya.
Kalau biasanya dia sangat antusias dan merasa senang dengan kehadiran wanita itu di kantornya, tetapi kali ini dia justru merasa terganggu.
__ADS_1
"Hari ini aku sibuk dan tidak ada waktu makan siang di luar sama kamu, Tamara!" Hans hanya tersenyum samar dan tidak menoleh ke arah wanita yang tengah menatapnya dengan senyum menggoda.
"Hmmm ... apa kamu yakin tidak ingin mengajakku pergi keluar?" Dengan gaya genit, Tamara mendekati Hans di kursi kerjanya dan duduk manja di pangkuan pria itu.
"Padahal aku maunya ngajak kamu seneng-seneng lagi." Di pangkuan Hans, Tamara sengaja menaikkan sedikit roknya, serta mengalungkan kedua tangannya dengan manja di bahu Hans.
"Sayang ... hari ini aku sibuk sekali. Maafkan, karena aku tidak bisa menemanimu," tolak Hans.
Tamara mendengus kesal. Dia segera melepaskan kedua tangannya dari bahu Hans, sambil menatap heran wajah yang hari itu tampak dingin, tidak sehangat biasanya.
"Kamu kenapa sih, Hans? Tumben kamu bersikap dingin seperti ini terhadapku. Kamu tidak suka akan kehadiranku disini atau kamu lagi ada masalah?" Tamara mencoba mencari tahu penyebab perubahan sikap Hans terhadapnya hari itu.
"Tamara, sebaiknya mulai hari ini, kita jaga jarak dulu untuk beberapa waktu. Aku takut ... bisa saja saat ini Sisca tengah mengawasi kita."
"Sisca?" Tamara terkesiap dan membulatkan matanya. "Kenapa tiba-tiba kamu menyebutkan nama istrimu itu? Memangnya apa yang dia sudah ketahui tentang kita?" tanyanya penasaran. Dari sikap dingin Hans dan apa yang dia baru saja katakan, Tamara ikut merasa cemas, takut kalau Sisca sudah mengetahui sesuatu tentang hubungannya dengan Hans. Bergegas dia berpindah dari pangkuan Hans dan duduk di kursi yang ada di depan meja Hans.
"Tadi malam, Sisca menunjukkan sebuah foto sewaktu kita bersama di kantorku ini, Tamara. Dan aku masih belum bisa mencari tahu dari mana dia bisa mendapatkan foto itu." Hans lalu menceritakan semua yang diketahui Sisca tentang mereka.
"Kau bilang, wanita itu hanya karyawan magang, bukan? Kenapa kamu nggak pecat saja dia?" usul Tamara jengah.
"Tidak semudah itu, Sayang! Aku harus menyelidiki apa hubungan Sisca dengannya. Aku curiga kalau wanita itu adalah orang suruhan Sisca dan dia sengaja melakukan semua ini untuk mengawasiku."
Tamara terdiam mendengar penjelasan Hans. Sejenak dia mencoba mencerna apa maksud perkataan pria itu.
"Siapa wanita itu, Hans? Sebelum bekerja di sini, apa kamu pernah melihat atau kenal dengannya?" Tamara merasa kian penasaran.
"Namanya Mayuri. Aku tidak pernah kenal dengan wanita itu ataupun melihatnya sebelum dia bekerja di sini." Hans hanya bisa menjelaskan apa yang dia ketahui.
__ADS_1
"Mayuri?" Tamara tersentak kaget mendengar Hans menyebut nama seorang wanita yang sangat dikenalnya.
"Iya! Apa kamu mengenalnya? Ini orangnya." Hans memutar layar laptopnya ke hadapan Tamara dan menunjukkan sebuah video hasil rekaman CCTV di saat Yuri secara sembunyi-sembunyi mengambil foto mereka. Video itu tentunya sudah Hans salin ke dalam data pada laptopnya tersebut.