
Jarum jam berputar tanpa pernah lelah dan tiada akan berhenti, siang dan malam terasa begitu cepat berganti. Tanpa terasa, waktu satu bulan yang sudah berlalu, telah menyisakan banyak asa baru dalam kehidupan Yuri.
Kebesaran hati dan kesabaran Pandu dalam mengajarinya komputer serta Bahasa Inggris, membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Walau dalam segala keterbatasan, Yuri yang sebelumnya sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer, kini sudah cukup mengenal fitur-fitur serta fungsi dari benda yang selama ini sangat asing baginya itu. Kecekatannya dalam belajar banyak hal, membuat Pandu juga tidak ragu akan kemampuan Yuri. Bahkan, tak jarang dia mempercayakan laporan hasil penjualan di tokonya untuk dikerjakan oleh Yuri.
Menyadari kemampuan Yuri yang sudah cukup saat itu, Pandu berniat mulai mencarikannya pekerjaan yang lebih baik untuknya. Dia sengaja menghubungi beberapa orang temannya untuk menanyakan lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok untuk Yuri.
.
Hari itu, Pandu tampak tergesa melajukan mobilnya, karena waktu sudah cukup sore. Tidak ingin terlambat menjemput Chia di kontrakan Yuri, sesudah semua urusan pekerjaan di tokonya selesai, dia langsung menuju kesana. Akan tetapi, tampak sebuah senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Ada sebuah kabar menyenangkan yang ingin segera dia sampaikan kepada Yuri.
"Ada kabar baik yang ingin aku sampaikan sama kamu, Yuri," ujar Pandu sesaat setelah seperti biasa dia menikmati makan malam, hasil masakan Yuri disana.
"Kabar baik apa, Pak?" Yuri mengernyitkan keningnya dan merasa tidak sabar ingin segera mengetahui kabar apa yang akan Pandu sampaikan kepadanya.
"Sebulan ini, aku perhatikan kamu sudah cukup terampil mengoperasikan komputer dan Bahasa Inggris kamu juga sudah lumayan bagus." Pandu tersenyum, memberi pujian jujur, terhadap wanita yang semakin hari semakin dekat dengannya tersebut.
"Tadi siang aku sudah sempat menghubungi salah seorang rekanku. Dia itu kepala bagian personalia di sebuah perusahaan besar di kota ini. Kebetulan, perusahaan tempatnya bekerja sedang mencari staff magang untuk bagian administrasi. Aku rasa peluang ini cocok buat kamu, Yuri." Pandu menjelaskan panjang lebar berita baik yang sudah sangat ingin dia sampaikan kepada Yuri.
"Benarkah?" Yuri tersenyum sumringah dan melebarkan kedua matanya.
"Tapi ... apa saya pantas bekerja di perusahan besar seperti itu, Pak? Kalau boleh jujur, saya masih belum cukup percaya diri untuk bisa mendapatkan pekerjaan semacam itu," terang Yuri dengan keraguannya.
"Hmm ... " Pandu kembali hanya tersenyum menanggapi rasa kurang percaya diri yang ditunjukkan oleh Yuri.
"Kamu tidak perlu berkecil hati seperti itu, Yuri! Lagipula, untuk sementara kamu hanya magang disana. Kalau kinerja kamu bagus barulah ada kemungkinan kamu bisa diangkat jadi karyawan disana," ungkap Pandu berusaha menghilangkan keraguan Yuri.
"Besok pagi, kamu datangi perusahaan itu untuk wawancara. Dan disana, kamu bisa temui Pak Rudi, Human Resouces Manager!" Pandu mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya dan dia serahkan kepada Yuri.
"Hah ... besok pagi, Pak?! Secepat itukah?" Seraya meraih sebuah kartu nama yang disodorkan oleh Pandu, Yuri kembali membulatkan matanya.
"Iya! Mereka butuh secepatnya, karena salah seorang staff disana akan segera cuti melahirkan."
"Tapi sepertinya saya belum siap, Pak. Pakaian formal untuk wawancara saja saya belum punya." Yuri menggeleng, merasa belum cukup siap menjalani wawancara kerja itu.
Pandu terus tersenyum menatap wajah ragu Yuri. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, Yuri. Aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu."
Pandu kemudian mengambil tas ransel yang memang selalu dia bawa ketika berangkat bekerja. Dari dalam ransel itu, Pandu mengeluarkan sebuah tas belanja dan logo sebuah butik ternama ada di tas belanja itu.
"Aku membelikan beberapa potong pakaian kerja wanita untukmu, Yuri. Sekarang coba kamu pakai!"
__ADS_1
"Ini beneran buat saya, Pak? Pak Pandu membelikan baju ini khusus buat saya?" Yuri berdecak kaget dan masih merasa tidak percaya, dia tidak menyangka perhatian Pandu begitu besar terhadapnya.
"Iya, Yuri! Sekarang ayo kamu coba! Aku ingin melihat kamu memakai pakaian formal itu!" ucap Pandu menegaskan perintahnya.
Yuri tersenyum senang dan hanya mengangguk. Bergegas dia masuk ke kamarnya dan mencoba satu persatu blouse polos tanpa motif yang dibelikan oleh Pandu tersebut.
Sembari menatap bayangan pada cermin yang menempel di dinding kamar itu, Yuri terus memasang senyum indah di wajah cantiknya. Baju-baju itu sangat pas dengan ukuran tubuhnya.
Dengan memakai salah satu kemeja berwarna putih serta rok span seukuran lutut, berwarna biru dongker, Yuri bergegas melangkah keluar dari kamarnya. Sesuai keinginan Pandu, Yuri harus menunjukkan kala dia mencoba pakaian itu kepadanya.
"Yuri kamu cantik sekali! Kamu sangat cocok memakai baju itu." Mulut Pandu ternganga lebar mengagumi penampilan Yuri yang seketika berubah drastis setelah memakai pakaian formal yang dia belikan.
Dalam hal memilih outfit wanita, Pandu memang cukup berpengalaman. Selama ini dia sering membelikan aneka jenis pakaian untuk Tamara. Sebelumnya, Tamara juga sangat menyukai apapun baju pilihan Pandu. Hanya saja, belakangan ini semua yang diberikan Pandu, selalu saja salah di mata istrinya itu.
"Jangan memuji saya seperti itu, Pak. Semua ini kan Pak Pandu yang memilihkannya untuk saya." Yuri tersipu malu. Dia tidak ingin kata-kata pujian Pandu membuatnya besar kepala.
"Aku tidak sedang memuji, Yuri. Kamu lebih cocok memakai pakaian ini dalam keseharian kamu. Kamu pantas bekerja di kantoran. Bukan hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga atau baby sitter saja." Pandu masih sangat terpesona dengan penampilan Yuri yang terlihat nerbeda dengan pakaian formalnya.
Yuri menundukkan wajahnya mendengar kalimat sanjungan yang berulang kali Pandu ucapkan tentangnya. Ada rasa takut di hatinya apabila semua perhatian serta kebaikan yang Pandu berikan untuknya, justru akan membuat dirinya berharap lebih dari laki-laki yang sangat dia idolakan itu. Akan tetapi, dia sadar kalau sangat tidak mungkin dia berani berpikir untuk menjadi oarang ketiga di kehidupan pria yang sudah memiliki seorang istri tersebut. Bahkan, Yuri tahu kalau Pandu sangatlah mencintai Tamara, istrinya. Meskipun dia juga bisa merasakan kalau selama ini hubungan Pandu dan Tamara terlihat sedikit kurang harmonis.
****
Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda.
"Sudah ya, Hans. Jangan lakukan lagi. Aku sangat lelah," bisik wanita yang tubuhnya sudah lemas bermandikan keringat setelah sebuah permainan panas baru saja mereka lewati.
"Apa kamu puas, Tamara?" bisik sang pria seraya mengecup punggung wanitanya yang kini berbaring miring membelakanginya dengan nafas tersengal dan masih belum mengenakan pakaian sama sekali.
Sudah sebulan ini, Tamara dan Hans sangat sering bertemu secara diam-diam untuk melepaskan semua hasrat mereka yang masih begitu bergelora. Keduanya selalu janjian di hotel tersebut, karena tempat itu memang sangat menjaga privasi mereka. Tentu saja, karena Hans sudah membungkam beberapa orang karyawan di hotel itu, agar tidak membocorkan tentang dia dan Tamara kepada siapapun, dengan cara menyogoknya dengan sejumlah uang tips.
"Hans, kamu memang selalu bisa memuaskan aku. Aku harus akui kalau kamu sangat perkasa." Tamara burucap genit. Tak ada kata sanjungan lain yang dia bisa berikan kepada Hans, kecuali hanya jujur mengakui keunggulan pria itu dalam hal bercinta.
Hans tersenyum lebar mendengar ucapan Tamara. Semua itu kembali membuat hasratnya bangkit dan ingin menyerang lagi wanita yang sudah sangat membuatnya mabuk kepayang itu.
"Jangan, Hans! Aku tidak ingin berlama-lama denganmu malam ini. Aku mau pulang lebih awal. Aku malas harus berbohong tiap hari kepada suamiku." Tamara mendorong dada Hans agar tidak kembali mendesaknya.
"Jangan buru-buru, Sayang! Aku masih kangen sama kamu." Tangan Hans justru semakin erat memeluk tubuh Tamara seakan sangat tidak ingin dia lepaskan.
"Masih banyak waktu di lain hari, Hans. Sekarang jadwal imunisasi Chia. Aku harus mengantarnya ke dokter," tolak Tamara berbohong mencari alasan agar Hans mau melepaskannya.
__ADS_1
Hans hanya mendengus dan merasa sedikit kesal seraya melonggarkan pelukannya dari tubuh Tamara.
"Baiklah, Sayang. Kalau kamu mau pulang sekarang, aku akan mengantarmu," ucap Hans sambil mengangkat punggungnya dan bersandar di headboard ranjang.
"Kali ini kamu tidak usah mengantarku pulang, Hans. Aku akan naik taksi saja. Aku capek kalau harus mengarang kebohongan tiap hari kepada Mas Pandu." Tamara kembali menolak.
"Tapi aku tidak tega membiarkan kamu naik taksi online, Tamara!"
"Nggak apa-apa sesekali saja, Hans."
Hans hanya terdiam mendengar penolakan Tamara.
"Oh ya ... kamu pernah bilang ingin punya mobil sendiri, kan? Kapan kamu akan membelinya?" Hans menyipitkan sebelah matanya, dia teringat akan satu keinginan Tamara yang belum juga kesampaian hingga saat itu.
"Entahlah, Hans. Tabunganku sepertinya belum cukup untuk membayar DP mobil." Tamara menggeleng dan tersenyum datar. Memiliki mobil sendiri tidak semudah bayangannya. Dia harus pintar mengatur keuangan dan berhemat untuk bisa membayar uang muka sebuah mobil baru.
"Kamu ingin mobil yang seperti apa, Tamara?"
"Mobil yang sesuai kantongku ya hanya LCGC, Hans." Tamara tersenyum samar. Keinginanya memang tidak terlalu muluk-muluk. Sebuah Low Cost Green Car dengan harga ramah di kantong saja, sudah cukup baginya.
"LCGC?" Hans terkekeh bernada mengejek mendengar apa yang dikatakan oleh Tamara.
"Seorang wanita karir dengan jabatan setinggi kamu, hanya menggunakan LCGC? Yang benar saja, Sayang?!" seringai Hans semakin menertawakannya.
"Jangan mengejekku seperti itu, Hans. Aku memang tidak bisa membeli yang lebih bagus dari itu. Kebutuhan hidupku banyak, gaji bulananku nggak hanya untuk bayar cicilan mobil saja!" sahut Tamara ketus. Ejekan Hans membuatnya sedikit tersinggung.
"Hmm ... jangan marah seperti itu, Sayang. Aku tidak bermaksud mengejekmu." Hans kembali memeluk Tamara dan mengecup pipinya, untuk menghilangkan kekesalan wanita selingkuhannya itu.
"Kalau kamu mau, aku bisa membelikan sebuah mobil baru untukmu. Bukan LCGC, tapi kamu itu cocoknya menggunakan sebuah compact SUV!" beber Hans menunjukkan mulut besarnya.
"Serius, Hans? Kamu mau membelikan aku sebuah mobil?" Mata Tamara berbinar. Selama berhubungan dengan Hans, pria itu memang sangat loyal terhadapnya. Banyak barang-barang mewah dan berharga mahal sudah diberikan khusus oleh Hans untuk dirinya. Itu adalah cara berbeda yang dilakukan Hans, untuk selalu menarik perhatiannya. Karena itu, Tamara sangat yakin kalau Hans lah satu-satunya orang yang bisa mewujudkan mimpinya untuk segera memiliki sebuah mobil baru.
"Untuk wanita cantikku ini, apapun akan aku berikan." Hans tersenyum lebar sangat meyakinkan. Sudah pasti, dia akan memberikan apa saja untuk wanita yang sudah selalu mampu memuaskan hasratnya itu.
"Terima kasih banyak, Hans. Selama ini kamu memang selalu bisa menyenangkan hatiku." Tamara kembali memeluk erat tubuh Hans. Dia sangat senang karena Hans selalu bisa memanjakannya dalam segala hal, terutama dalam urusan materi.
"Iya tentu saja, Sayang. Tapi sebagai gantinya, kamu juga harus menyenangkan aku sekali lagi," bisik Hans kembali dengan nada genit dan pupil matanya yang juga kian melebar.
Kedua tangan Hans terus menggerayangi setiap jengkal tubuh Tamara dan gairah pun kembali menguasainya.
__ADS_1
"Oouuhh ... Hans!" Mulut Tamara juga kembali melenguh manja, tak mampu lagi menolak semua perlakuan Hans.
Untuk kedua kalinya, malam itu keduanya mengulang memacu hasrat dan memuaskan jiwa mereka yang sedang didera panasnya nafsu birrahi nan membara. Hingga, Tamara juga lupa kalau dia harus pulang secepatnya malam itu.