
"Look at this!" Tim menyodorkan sebuah map ke hadapan Tamara.
"Apa ini, Bos?" Perlahan Tamara meraih map itu dan membukanya.
"Kita mendapat undangan presentasi untuk sebuah tender besar dengan salah satu anak perusahaan dari Hardianto Corporations. Tapi sayangnya kesempatan untuk bisa mendapatkan project ini sangat sulit. Kita harus bersaing dengan banyak perusahaan lain dan saya yakin akan banyak permainan di bawah tangan dalam tender ini." Tim menerangkan isi surat yang ada di dalam map itu kepada Tamara.
"Tapi, bagaimanapun caranya ... aku ingin kamu bisa mendapatkan project ini, karena ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kita! You have to win this competition!" tegas Tim lagi, menaruh harapan besar kepada Tamara.
Tamara terpaku membaca sebuah surat dengan rincian nilai tender mencapai triliunan rupiah itu. Tentu saja nilai itu sangat menggiurkan, dan apabila dia berhasil memenangkannya, sudah pasti Tim akan membayar bonus sangat tinggi untuknya.
"This is not a big deal, Sir. Saya yakin kita pasti akan bisa mendapatkan project ini," sahut Tamara percaya diri.
"Are you sure? Jangan terlalu percaya diri dulu, Tamara!" Tim hanya tersenyum kecut. "Mendapatkan project ini tidak semudah yang kamu pikirkan. Akan banyak yang bermain curang, karena perusahaan yang jadi competitor kita, pasti juga sangat menginginkan project ini," terangnya sedikit ragu.
"Do you have any idea, how to win this project?" Tamara mencoba meminta pertimbangan dari atasannya itu.
"Kamu coba datangi perusahaan ini, Tamara. Temui CEO barunya dan cobalah bernegosiasi dengannya. Sebelum acara tender, kita harus mencuri start lebih awal!" Tim mengutarakan ide briliannya.
Tamara mengangguk. "Alright, Boss! Siang ini juga, saya akan membuat janji untuk bertemu CEO perusahaan itu. Semoga saya bisa menemuinya sesegera mungkin." Tamara mulai bisa tersenyum lebar. Tender baru yang akan dia kerjakan, membuatnya merasa kembali bersemangat.
"Ok! The sooner the better and do your best, Tamara!" Tim juga tersenyum dan merasa senang mendengar kesanggupan Tamara.
Tamara melangkah dengan hati senang meninggalkan ruang kerja Mr Tim. Kalau sebelumnya pada saat akan masuk ke ruangan itu, Tamara memang merasa sangat tegang, tetapi apa yang terakhir ditugaskan oleh atasannya, justru membuatnya sangat ceria hari itu.
"Cara apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan project ini. Aku nggak mau kehilangan kepercayaan dari Mr Tim hanya karena aku banyak melakukan kesalahan selama ini!" Tamara menyemangati dirinya sendiri dan sangat berharap bisa memenangkan tender yang akan dia kerjakan.
Seusai makan siang, Tamara langsung meninggalkan kantornya untuk mendatangi sebuah gedung perusahaan besar penyelenggara tender yang akan dia ikuti. Tidak sulit baginya untuk membuat janji dengan CEO perusahaan itu. Dengan membawa nama besar Timothy Thimbleweed, tentunya dia dengan mudah bisa menemui pimpinan utama di perusahaan itu.
"Selamat sore, Mbak. Saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini." Tamara menyapa dan bertanya ramah kepada seorang sekretaris di perusahaan itu.
__ADS_1
"Apa ibu sudah membuat janji?" sambut sekretaris itu juga dengan senyum ramah.
"Sudah, Mbak," sahut Tamara seraya mengangguk penuh percaya diri.
"Dengan ibu siapa dan dari perusahaan apa ya, Bu?" Sekretaris itu menengadahkan tangannya untuk meminta kartu identitas dari Tamara.
"Saya Tamara Nagita. Saya kesini mewakili Mr Timothy Thimbleweed." Tamara menyodorkan kartu tanda pengenalnya kepada sekretaris itu.
"Oh ... baik. Mari silahkan ikut saya, Bu. CEO saya sudah dari tadi menunggu kedatangan ibu." Sang sekretaris langsung membungkuk hormat setelah mendengar Tamara menyebut namanya. Sekretaris itu sudah tahu kalau Tamara adalah orang yang sedang ditunggu oleh atasannya.
Sekretaris itu lalu mengantarkan Tamara masuk ke ruangan pimpinan perusahaan itu.
"Permisi, Pak Hans. Ibu Tamara sudah datang!" Sekretaris itu membungkuk di depan meja kerja atasannya.
Seorang pria berbadan tegap yang merupakan CEO baru di perusahaan tersebut, terlihat tengah berdiri di belakang meja kerjanya dan menghadap ke arah jendela dengan posisi membelakangi sekretarisnya bersama Tamara yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Baiklah! Kau boleh kembali ke ruang kerjamu!" Pria itu mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar sekretarisnya keluar dari ruangan dan meninggalkan dia berdua saja bersama Tamara.
"Selamat datang di kantorku, Tamara!" sambut CEO itu sambil perlahan membalikkan badannya, lalu tersenyum menatap Tamara yang masih berdiri karena belum dipersilahkan duduk olehnya.
"Hansel!" pekik Tamara ketika dia melihat wajah pria di hadapannya.
"Benarkah ini kamu? Aku nggak salah orang kan?"
Mata Tamara terbelalak lebar dan merasa sangat terkejut. Dia sama sekali tidak menduga kalau pria yang menjadi CEO di perusahaan itu ternyata adalah seseorang yang pernah sangat dia kenal.
"Iya, Tamara. Aku Hansel Sanjaya, sahabat semasa kuliahmu dulu. Aku sangat senang ternyata kamu belum lupa sama aku," seloroh pria itu sambil tersenyum dan terkekeh.
"Bagaimana kabarmu, Hans? Aku benar-benar tidak menyangka, kamu sudah menjadi orang sukses, sebagai CEO di perusahaan ini sekarang." Tamara langsung menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hansel.
__ADS_1
"Aku baik, Tamara. Dan kamu ... bagaimana kabarmu dan Pandu? Aku dengar kalian sudah mempunyai seorang anak," balas Hansel sembari meraih tangan Tamara lalu merangkul sahabat lamanya itu, kemudian keduanya pun saling cipika-cipiki.
"Iya, begitulah, Hans. Anakku sekarang sudah berusia tujuh bulan." Tamara menceritakan tentang putrinya. "Kamu sendiri, apa sudah menikah?" sambungnya bertanya.
"Iya, aku baru menikah beberapa bulan yang lalu," jawab Hans singkat.
"Oh ya, silahkan duduk, Tamara. Kita ngobrol santai saja." Hans lalu duduk di kursi kerjanya sambil mempersilahkan Tamara duduk di kursi di hadapannya.
Netra Tamara langsung tertuju pada sebuah foto yang ada di meja kerja Hans. "Apa ini foto pernikahanmu, Hans? Kok bisa sih kamu menikah tanpa mengundang aku dan Mas Pandu," tanyanya.
"Pernikahanku memang diselenggarakan secara tertutup, Tam. Aku dan keluarga istriku tidak ingin menjadikan acara pernikahan kami sebagai konsumsi publik," ujar Hans.
Tamara meraih foto pernikahan Hans dan memperhatikannya dengan seksama.
"Ini kan Sisca Martina, putri pengusaha terkenal dan terkaya di kota ini, serta pemilik banyak perusahaan itu! Apa ini serius? Kau menikah dengannya, Hans? Beruntung sekali kau bisa menikahi pewaris tunggal Hardianto Corporation?" celoteh Tamara terkagum-kagum. Matanya seketika membulat, seolah tidak percaya dengan foto pasangan pengantin yang tengah dilihatnya.
"Tidak salah, Tamara. Aku bisa duduk di kursi ini sekarang, tidak lain juga karena Bapak Hardianto, yang sekarang sudah menjadi papa mertuaku. Perusahaan ini juga adalah salah satu anak dari perusahaan Hardianto Corporation," terang Hans sembari menunjukkan senyum bangga dan sedikit menyombongkan diri.
"Memangnya kenapa, Tamara? Kau masih tidak percaya kalau aku ini adalah menantu konglomerat di kota ini?" seringai Hans bernada mencibir.
Tamara hanya tersenyum tipis mendengar cibiran Hans. Semenjak kuliah dia cukup mengenal pria itu. Seorang pria ambisius sekaligus juga seorang playboy. Dengan sejuta pesona yang dia miliki, Hans sangat mudah menarik perhatian lawan jenisnya serta mendapatkan apa saja yang menjadi keinginannya.
"Aku percaya, Hans. Kau dari dulu masih tetap sama. Dulu kau bercita-cita menjadi pemilik perusahaan besar, dan sekarang semuanya akhirnya bisa terwujud setelah kau menikah dengan putri tunggal dari Sultan Hardianto." Tamara teringat akan obsesi yang selalu diutarakan Hans semenjak dia masih kuliah.
"Aku memang beruntung dan aku juga bersyukur karena semua hal yang aku inginkan selama ini bisa aku raih dengan mudah. Tapi ada satu hal yang sampai saat ini tidak pernah aku dapatkan, Tamara." Hans menggeleng serta tersenyum kecut menatap wajah sahabat lamanya.
"Apa kamu tahu apa itu, Tamara?" Hans kembali bertanya dan Tamara hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu, Tamara!" goda Hans, kembali menatap wajah Tamara dengan sebuah senyum sarat akan makna.
__ADS_1
Tamara menundukkan wajahnya. Ucapan Hansel membuat jantungnya terasa berdegup sangat kencang.