Akan Kurebut Cinta Suamimu

Akan Kurebut Cinta Suamimu
Eps. 09. Perhatian Kecil


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Pandu tampak gelisah duduk di ruang tengah.


Beberapa kali dia berusaha menghubungi Tamara serta mencoba memberitahu keadaan bayinya, tetapi ponsel Tamara tidak aktif. Pesan yang dia kirim sebelumnya pun tidak dibaca oleh istrinya itu.


"Aahh, entah sesibuk apa Tamara sampai harus mematikan ponselnya seperti ini? Dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan anaknya. Dia selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri." Pandu menatap nanar layar ponselnya dan merasa sangat kesal.


Perlahan dia mengusap kepalanya. "Tamara sekarang benar-benar sudah berubah. Semenjak kembali bekerja, dia semakin tidak pernah peduli terhadapku dan juga bayinya," sungut Pandu menyesali perubahan sikap istrinya, yang semakin hari semakin tidak perhatian terhadapnya.


"Ibu Tamara belum pulang ya, Pak?"


Tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita bertanya kepadanya dan semua itu berhasil membuyarkan lamunan Pandu.


"Belum, Yuri. Ponsel Tamara juga tidak aktif. Aku sudah kirim pesan, tapi belum dibacanya," ungkap Pandu dengan nada kecewa, sambil menoleh ke arah baby sitternya yang kini sudah berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


"Chia mana? Apa dia sudah tidur?" lanjut Pandu menanyakan putrinya.


"Sudah, Pak. Setelah minum obat, suhu badannya sudah mulai turun dan Chia sekarang sudah bisa tidur dengan nyenyak," terang Yuri sambil tersenyum menatap wajah tampan yang masih terlihat gelisah di hadapannya.


"Apa Pak Pandu mau saya siapkan makan malam? Semenjak pulang kerja, saya lihat Pak Pandu belum makan apapun," sambung Yuri menunjukkan kepeduliannya terhadap sang majikan.


"Tidak usah repot. Nanti aku akan pesan makanan online saja. Sedari tadi kamu sibuk mengurus Chia, sekarang kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu beristirahat juga, Yuri," tolak Pandu. Dia sangat paham, menjaga bayi dalam keadaan kurang sehat pastilah sangat melelahkan, karena Chia selalu rewel apabila ada hal kurang nyaman dalam dirinya.


"Nggak apa-apa, Pak. Dari pada harus menunggu kiriman ojek online, saya bisa siapkan makan lebih cepat. Lagi pula, bahan makanan tersedia banyak di kulkas," ucap Yuri percaya diri. Tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memberi perhatian kecil kepada pria yang selalu jadi idolanya itu.


"Baiklah kalau begitu. Sementara kamu memasak, biar aku yang menjaga Chia." Pandu tersenyum setuju lalu bergegas berdiri dari tempat duduknya dan menuju kamar putrinya.


Dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya, Yuri ikut melangkah ke dapur.


"Aku akan memasak makanan istimewa untuk Pak Pandu," gumam Yuri seraya membuka pintu kulkas dan memilih beberapa bahan makanan yang akan dimasaknya.


Dengan sangat cekatan, kedua tangan terampil Yuri mengolah semua bahan makanan itu. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah menyelesaikan memasak ayam bakar, sambal terasi serta beberapa jenis lalapan.


Yuri kembali tersenyum puas. "Hmm ... cukup enak. Pak Pandu pasti menyukai masakanku," harap Yuri, setelah mencicipi rasa masakan yang dia buat dan menurutnya terasa sudah cukup pas di lidahnya.


Beberapa bulan tinggal di rumah itu, Yuri sangat hafal apa saja yang menjadi kegemaran Pandu dan ayam bakar adalah makanan kesukaannya.

__ADS_1


Dengan sangat cantik, Yuri menata makanan itu di piring, kemudian menyajikannya di meja makan.


Yuri lalu meninggalkan ruang makan untuk memanggil Pandu di kamar Chia.


"Pak Pandu, makanannya sudah siap. Sebaiknya bapak makan dulu," ujar Yuri ketika melihat di kamar itu Pandu hanya duduk sambil memainkan ponselnya, sedangkan Chia masih tidur dengan tenangnya.


"Baiklah," angguk Pandu menurut, karena dia memang merasa sangat lapar saat itu. "Kamu juga harus makan, Yuri. Berhubung Chia masih tidur, kamu bisa makan dengan tenang dan nanti kalau dia bangun lagi, kamu sudah siap menjaganya." Pandu menyambung kata-katanya dengan sebuah perintah.


"Iya, Pak." Yuri tidak menolak. Keduanya lalu berjalan bersama menuju ruang makan.


"Bagaimana, Pak. Apa masakan saya enak?" tanya Yuri ketika Pandu sudah mulai menyuap makanannya. Tentunya dia sangat berharap Pandu akan memuji masakannya.


"Hmm ... tidak perlu kamu tanyakan lagi, Yuri. Masakanmu memang selalu enak."


Kata-kata pujian yang begitu diharapkan Yuri, terdengar sangat indah keluar dari mulut Pandu dan seketika membuat senyum semakin mengembang di bibir Yuri.


"Terima kasih karena bapak menyukai masakan saya," ucap Yuri tersipu.


"Kamu kenapa tidak makan juga, Yuri?"


"Kenapa harus ke dapur, Yuri? Ayo ikut makan bersamaku disini!" perintah Pandu, mengajaknya ikut menemaninya makan.


"Tidak, Pak. Saya tidak pantas menemani bapak disini. Saya akan makan di dapur saja," tolak Yuri.


"Kenapa tidak pantas? Kamu disini sudah seperti keluargaku. Tidak ada salahnya kamu juga makan disini," pungkas Pandu. Meski Yuri hanya seorang baby sitter, tetapi bagi Pandu, Yuri sudah seperti anggota keluarganya. Bahkan, kehadiran Yuri sangat dibutuhkan di rumah itu.


Yuri menundukkan wajahnya dan merasa canggung, tetapi dia semakin terkesan akan perilaku Pandu terhadapnya.


.


Malam sudah cukup larut ketika Tamara tiba di rumahnya. Saat dia membuka pintu, wajah kesal Pandu sudah terlihat menyambutnya.


"Kemana saja kamu sampai pulang selarut ini, Tamara?" Pertanyaan menohok itu langsung terlontar dari mulut Pandu yang merasa tidak suka istrinya pulang terlalu malam.


"Kan tadi pagi aku sudah bilang kalau akan ada acara bersama rekan-rekan kerjaku, Mas. Tadi pagi kamu juga sudah mengizinkan aku pergi, tapi mengapa sekarang kamu tiba-tiba marah seperti ini," jawab Tamara dengan seringainya.

__ADS_1


"Iya! Tapi tidak seharusnya kamu mematikan ponselmu. Chia sakit ... apa kamu tidak sedikitpun punya rasa peduli terhadapnya?"


"Apa ... Chia sakit?" Tamara membulatkan matanya. "Maafkan aku, Mas. Ponselku low bat, dan aku lupa mengisi daya," ucap Tamara menunjukkan penyesalannya.


"Aku akan menemui Chia sekarang." Tanpa pikir panjang, Tamara bergegas menuju kamar bayinya.


Tamara hanya tersenyum kecil. Pada saat tiba di kamar putrinya, dia melihat bayi itu sudah lelap tertidur dan terlihat tenang di dalam box bayi. Sedangkan, Yuri juga terlihat setia menunggunya walau dia sudah ikut tertidur, merebahkan kepalanya di tepi box bayi.


Buru-buru Tamara menutup kembali pintu kamar itu dan hendak langsung ke kamarnya karena ingin segera mandi dan beristirahat.


"Bagaimana ... apa kamu sudah lihat keadaan putri kita?"


Tamara terlonjak kaget. Baru saja dia menutup pintu kamar itu, Pandu sudah berdiri di belakangnya dan menatapnya tajam.


"Chia sudah tidur dan Yuri juga masih menemaninya. Sekarang aku mau mandi dan ganti baju dulu, kalau nanti Chia bangun lagi, aku yang akan mengurusnya," sahut Tamara sambil mengalihkan pandangannya dari Pandu dan melangkah menuju kamarnya meninggalkan Pandu disana.


Pandu hanya menatap datar ke arah istrinya. Setelah Tamara masuk ke kamarnya, Pandu sengaja membuka pintu kamar Chia, dia hanya ingin memastikan pengakuan istrinya.


Di dalam kamar putrinya, Pandu menggelengkan kepalanya. Melihat Yuri tertidur dengan posisi masih duduk di lantai dan hanya menyandarkan kepalanya di tepi box bayi, Pandu merasa iba, pastinya Yuri sangatlah tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu.


Perlahan Pandu mendekati Yuri. "Yuri ... bangun!" ucapnya seraya menepuk lembut pundak Yuri untuk membangunkannya.


"Pak Pandu!" Yuri terbangun dan terkesiap. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja ketiduran disini," sesal Yuri sambil mengucek matanya dan berusaha berdiri dari sebelah box bayi.


"Tidak apa-apa, Yuri. Aku tahu kamu pasti kelelahan menjaga Chia. Sebaiknya kamu tidur di kasur! Chia sudah tenang kamu juga harus beristirahat dengan nyaman," ujar Pandu penuh perhatian.


"Cepatlah tidur, sebelum Chia terbangun dan rewel lagi!" perintah Pandu sambil menunjuk tempat tidur yang ada di samping box bayi.


"Baik, Pak." Yuri mengangguk dan langsung berpindah ke atas ranjang tersebut.


"Bobo yang tenang ya, Sayang dan jangan rewel. Kasihan Mbak Yuri kalau harus begadang nungguin kamu." Pandu mengusap lembut wajah putrinya yang tetap tertidur dengan lelapnya.


"Selamat tidur, Yuri. Aku juga akan istirahat. Aku titip putriku, kalau ada apa-apa dengannya, jangan ragu untuk membangunkan aku," pungkas Pandu dan Yuri kembali hanya mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Pandu segera membalikkan badannya hendak keluar dari kamar itu. Tidak lupa ia menekan saklar lampu dan mematikan lampu di kamar itu agar Yuri serta putrinya bisa tidur lebih nyenyak.

__ADS_1


"Pak Pandu memang laki-laki yang perhatian." Yuri menggumam sendiri ketika Pandu sudah keluar dari kamar tersebut. Kekaguman terhadap pria yang menjadi majikannya itu, semakin tidak dapat disembunyikannya.


__ADS_2