AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Episode 10 : Adik Terimut dan Prinsip Sarapan Pagi


__ADS_3

Aku baru ingat bahwa bukankah aku tadi tak sadarkan diri dari jam lima sore sampai Sembilan malam. Pantas saja sekarang aku sulit tidur. Untuk membuatku mengantuk aku lalu mencoba menulis kelanjutan dari novel ringanku, tetapi setelah aku membuka Hp ku dan hendak menulis ternyata ada banyak notifikasi WA yang dikirimkan kepadaku. Notifikasi tersebut menunjukan semua pesan WA itu dikirim oleh satu orang, yakni Mandalina Dwi Pratiwi atau yang biasa aku panggil Manda. Dari semua pesan yang dia kirimkan aku bisa menyimpulkan jika dia mengobrol denganku, tetapi tidak aku respon. Bukan maksudku tidak peduli dengannya ya, tapi aku kan tadi pingsan hingga jam Sembilan malam. Pesan terakhir yang dikirim Manda pada pukul 20:30 WIB jadi jika dia marah besok, aku tinggal pakai saja alasan tadi.


Aku lalu mulai menulis lanjutan novel ringanku, tetapi baru sepertiga halaman aku kehabisan ide karena memikirkan perkataan bapak di ruang keluarga. Perkataan itu membuat suatu pertanyaan yang mengganjal di pikiranku, apa benar menyukai senyuman seorang gadis adalah tanda awal kamu mencintai gadis tersebut ?. Apa yang harus kulakukan untuk memperoleh jawaban dari pertayaan ini. Keesokan harinya aku bangun sesuai kebiasaanku yakni jam 04:30 WIB untuk melakukan sholat subuh dan dilanjutkan dengan kembali ke tempat tidur, eh maaf keceplosan kebiasaan hari minggu. Hari ini kan hari kamis, jadi kalo aku tidur lagi malah yang ada bakal telat kesekolah. Aku mengisi waktu sebelum jam 06:00 untuk belajar kembali pelajaran yang akan dipelajari disekolah hari ini atau jika ada PR yang belum selesai maka aku akan mengerjakannya saat itu juga.


Saat jam sudah menunjukan pukul 06:00, aku segera pergi kedapur untuk memakan sarapanku yang sudah dibuatkan oleh ibu. Ketika sarapan itulah aku bertemu dengan adikku, Nia yang juga hendak memakan sarapannya. Jarak kelahiranku dengan dia adalah tiga tahun, jadi perkembangan kami tak terlalu tertinggal jauh. Dia adalah adik paling manis dan imut yang aku ketahui, bagaimana aku tidak berkata begitu padanya karena Nia memang memenuhi semua kriteria untuk itu. Wajah yang manis dan imut, badan yang kecil, rambut warna hitam kecoklatan yang lurus, dan sikap yang sedikit manja membuatnya sebagai adik terbaik yang aku miliki. Tapi entah kenapa sejak dia masuk SMP dia sepertinya jadi semakin menjauh dariku, jadi walaupun satu rumah aku jarang bertemu dengannya. Oleh sebab itu kali ini aku akan menyapanya duluan :


"Hei Nia, lagi sarapan ya?"ucapku dengan nada ramah.


Nia lantas menghentikan tangannya yang sedang menyendok sarapannya seraya melihat ke arahku dan berkata :


"Udah tau kok nanya-nanya, rese banget sih."ucap Nia dengan ketus.


Yak seperti itu lah sikap Nia saat ini jika aku menyapanya. Entah apa tujuannya aku juga tidak tau. Apakah dia mengira aku ini mengidap SISCON (Sindrom suka berlebihan pada adik perempuan).


Ibu yang menyadari hal itu lalu menegur Nia dengan halus :


"Hayo Nia, jangan begitulah sama kakakmu diakan cuma mau tau kamu lagi ngapain."

__ADS_1


"Iya bu maafin Nia, lagian nih Kak Ray orang mau makan ditanya lagi ngapain, engga mutu banget pertanyaannya."


"Mungkin itu memang pertanyaan yang kurang bermutu, tapi cobalah untuk lebih menghormati kakakmu Nia."ucap ibu dengan nada sopan.


Aku yang tadi sempat tertusuk dengan perkataan Nia lalu mencoba untuk berbicara dengan ibu :


"Sudahlah bu, itu memang salahku jadi tidak perlu terus menegur Nia."


"Tapi kamu itukan kakaknya Ray, jadi memang kewajiban dia untuk menghormati kamu."


"Oh engga papa kok Nia, Kaka juga engga mengharuskan kamu minta maaf kok."ucapku dengan nada sopan.


Nia lalu melanjutkan sarapannya tanpa berbicara lagi denganku, sementara saat ini giliran ibu yang bertanya padaku:


"Kondisi kamu sekarang gimana Ray udah bener-bener baik atau belum ?"ucap ibu seraya memberikan seporsi sarapan kepadaku.


"Kondisi Ray udah baik kok, ibu engga usah terlalu khawatir."ucapku seraya menerima seporsi sarapan yang sudah disiapkan ibu.

__ADS_1


Gimana ibu engga khawatir Ray setelah tahu kamu habis duel dan pingsan dari Pak Irwan kemarin, jadi sebenarnya ada masalah apa sih kok kamu sampai terlibat duel ?ucap ibu yang telah duduk meja makan dan hendak sarapan bersama kami.


"Bukan masalah besar kok bu, cuma masalah antar cowo SMA biasa."


"Oh syukur kalau itu Cuma masalah biasa, tapi jangan sampai kaya gitu lagi ya !, semua masalah harus diselesaikan secara baik-baik bukan dengan kekerasan."


"Baik bu, Ray akan mengingat-ingat nasihat dari ibu, tapi ngomong-ngomong bapak mana bu ?, kok engga sarapan bareng kita ?"


"Bapakmu hari ini ada perjalanan pagi Ray jadi dia engga bisa sarapan bareng kita hari ini.ucap ibu menanggapi pertanyaanku."


"Memangnya keretanya berangkat jam berapa bu ?"


"Katanya sih kereta berangkat jam 06:00 dari stasiun."


Aku menyadari pekerjaan bapak sebagai seorang masinis kereta api memang membuatnya harus patuh pada jadwal kereta yang akan dia kemudikan. Walaupun dia jarang berkumpul dengan keluarga, tetapi jika sudah dirumah maka dia akan memfokuskan perhatian untuk keluarganya. Itulah sebabnya aku mengapresiasi sosoknya yang bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya.


Aku lalu menghentikan pembicaraanku dengan ibu dan fokus menghabiskan sarapanku, tetapi Nia sekali lagi berhasil menghabiskan sarapannya lebih dahulu dariku. Jai dia kembali berhak untuk mandi pagi lebih dahulu. Ini sudah menjadi rutinitasku sejak Nia masuk SMP, entah kenapa kecepatan makannya meningkat drastis setelah masuk SMP, apa ini karena pubertas atau karena hal lain?. Aku tidak peduli dengan hal itu karena menurutku yang terpenting adalah menikmati sarapan dengan sepenuh hati bukan masalah cepat atau tidak dalam memakannya.

__ADS_1


__ADS_2