
Hari kamis yang terasa panjang itu akhirnya berhasil terlewati dan sekarang aku sudah ada di depan pintu rumahku. Ketika aku membuka pintu rumah dan memberi salam tidak ada orang yang menjawab salam dariku. Apa saat ini sedang tidak ada orang di rumah?, tapi jika memang tidak ada orang dirumah kenapa pintu depan dibiarkan tak terkunci?.
Atau jangan-jangan ada pencuri yang menerobos masuk?, tapi kondisi daun pintu depan baik-baik saja tak ada tanda-tanda telah di congkel. Aku langsung masuk ke mode waspada dengan melangkah perlahan menyusuri setiap ruangan di rumahku untuk memastikan memang benar-benar tak ada pencuri yang masuk.
Ketika sampai depan kamar Nia aku melihat daun pintunya bergerak, melihat hal itu membuatku langsung memasang kuda-kuda untuk melakukan pukulan karate yang pernah aku pelajari ketika di SMP dan begitu pintu itu terbuka aku langsung memberikan pukulan terkerasku pada orang yang membuka pintu itu.
Tapi tunggu dulu, sepertinya yang baru saja aku pukul bukan pencuri soalnya fisiknya tak seperti pencuri yang aku pikirkan belum lagi dia sedang memakai mukena. Coba kalian pikirkan mana ada pencuri yang menggunakan mukena untuk mencuri. Belum sempat aku menyelesaikan analisis di kepalaku dari dalam kamar Nia sudah terdengar suara gadis yang menangis.
Aku lantas membuka pintu kamar Nia dan menemukan pemandangan dan kenyataan yang sangat memilukan karena ternyata yang aku pukul sekuat tenaga tadi adalah Nia yang hendak keluar dari kamarnya untuk menemui aku. Sekarang adik keayanganku itu sedang menangis di depan pintu kamarnya karena menahan sakit dari tindakan bodohku.
Aku sebagai kakak yang baik berusaha ingin menghiburnya, aku lantas berinisiatif untuk memberinya pelukan kasih sayang. Tapi baru saja aku berlutut di hadapannya ia langsung berkata padaku :
"Udah Ka Ray engga usah masuk- masuk ke kamar Nia lagi !"ucap Nia seraya berdiri dan menyuruhku keluar.
"Tapi kaka mau minta maaf buat kesalahan kaka yang tadi Nia, engga boleh ya?"ucapku memohon seraya berdiri dan berjalan keluar dari kamar Nia.
"Engga usah minta maaf kak, mulai sekarang Nia engga mau ngomong sama Ka Ray lagi !"ucap Nia seraya menutup pintu kamarnya dengan keras di hadapanku.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu dari adik terimut yang aku miliki langsung membuat hatiku seraya di remuk oleh seorang penyihir kegelapan. Selama beberapa menit aku masih berdiri di depan pintu kamar Nia sembari sesekali mengetuk pintu kamarnya dan berucap dengan suara agak keras untuk meminta maaf pada Nia :
"Nia, Kak Ray minta maaf ya karena udah mukul kamu tanpa sebab soalnya tadi Kak Ray pikir ada maling yang masuk."ucapku dengan nada menyesal
Dari dalam kamar Nia yang sedang memeluk bantal guling di kasurnya berkata dalam hati ketika mendengar permintaan maaf sang kakak :
"HUH Kak Ray ini apa-apaan sih, orang tau kalau jam segini aku udah pulang masa aku dianggap maling sampai harus dipukul sekeras itu, sakit tau Kak Ray bodoh !"ucapnya dalam hati dengan perasaan geram pada sang kakak.
Aku yang masih merasa bersalah lalu terus berdiri di depan Nia dan mengetuk pintunya beberapa kali sembari mengatakan permintaan maaf. Nia yang mulai terganggu dengan apa yang aku lakukan lalu mengancamku dengan nada kesal dari dalam kamarnya :
"Udah cukup Ka Ray !!!, kalau kaka masih ketuk-ketuk pintu kamarku nanti aku engga mau ketemu Kak Ray lagi."
"Iya Ka Ray engga bakal ketuk-ketuk pintu kamarmu lagi deh, jadi maafkan salah Ka Ray tadi ya."
"Iya, iya nanti Nia pikir-pikir lagi !"ucap Nia menggapi perkataanku dengan nada kesal.
"Ok sampai ketemu pas makan malam ya."ucapku masih dengan nada menyesal
__ADS_1
Nia tidak menanggapi lagi sapaanku karena baginya tak ada gunanya juga membalas sapaan kakaknya itu. Aku yang sudah cukup lega karena permintaan maafku setidaknya direspon oleh Nia lalu berjalan menuju kamarku.
Bapak dan ibu baru pulang kerumah sekitar pukul 17:45 dan cukup terkejut melihat keadaan rumah yang sepi. Maklumlah karena biasanya jam segini Nia menonton TV di ruang keluarga dan aku menyapu lantai seisi rumah yang memberikan kesan ramai pada rumah ini di sore hari. Tapi hari ini karena masih kesal dengan perbuatanku, Nia memutuskan tidak keluar dari kamarnya untuk menonton TV dan hanya ada aku yang sedang menyapu lantai ketika mereka datang. Ayah dan ibu lalu bertanya padaku :
"Loh Nia mana Ray, buakannya dia biasanya nonton TV jam segini?"ucap ibu yang pertama kali menyadari ada kejanggalan di sore hari itu.
"Nia lagi di kamarnya bu."ucapku dengan nada santai menanggapi pertanyaan ibu sembari menyapu lantai.
"Aduh ada apa nih Ray, kamu lagi ribut sama Nia ya?"ucap bapak dengan nada usil seraya memandang kearahku.
"Iya kalau dibilang masalah sih ada pak."ucapku dengan nada gugup menanggapi ucapan bapak.
"Kamu engga ngapain-ngapain adik perempuanmu kan Ray?"ucap ibu dengan nada khawatir seakan-akan aku melakukan hal jahat pada Nia.
"Ya ampun bu, masa Ray tega sih ngapain-ngapain Nia, ya engga lah bu."ucapku membantah kehawatiran ibu yang sangat tidak berdasar itu.
"Engga Ray ibumu ini cuma takut kalau kamu engga kuat iman soalnya mumpung berduan doang sama Nia di rumah."ucap bapak seraya menahan tawa yang hampir keluar dari wajahnya.
__ADS_1
"Ya engga mungkinlah pak begini-begini Ray masih punya akal sehat tau, toh perempuan cantik yang kaya Nia di bumi ini kan masih banyak pak.”ucapku dengan nada kesal menanggapi ucapan ngawur dari bapak.