AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Episode 30 : Kekurangan Novel Karya Manda


__ADS_3

Sesaat setelahnya kami sudah menghabiskan roti kami masing-masing. Aku lantas melihat ke arah kertas catatan yang sudah kubuat tadi malam. Manda lalu mulai berkata kepadaku:


"Ok Ray, jadi aku mau minta penjelasan dari catatan yang kamu tulis ini ya tapi kalo bisa sesingkat mungkin dan langsung ke poin utamanya aja ya, mengingat waktu istirahat juga hampir habis nih. "ucap Manda memohon dengan nada sopan ke arahku.


"Iya, iya Man bakal aku jelaskan sesingkat dan sejelas mungkin deh, tapi nanti kalo kamu mau tau lebih jelas bisa tanya lewat chat WA ke aku ya."ucapku dengan nada santai menanggapi permohonan Manda.


"Terima kasih untuk bantuannya ya Ray, udah mau direpotin sama aku."


"Ah engga papa kok, aku juga jadi sekalian belajar buat koreksi ke karyaku sendiri."


"Ok, kalo gitu langsung aja ke pembahasan poin pertama Ray."ucap Manda memohon kepadaku untuk segera memulai penjelasannya.


"Iya Manda, kalo gitu kita pertama akan bahas poin pertama yang menurutku harus kamu koreksi lagi yakni penggunaan tanda baca di teks yang kamu tulis."


"Ehmm, terus kesalahan tanda baca yang aku buat di bagian mana ya?,bisa kamu perjelas lagi engga Ray." tanya Manda meminta detail dari pernyataanku tadi.


"Baiklah Man, kesalahan tanda baca yang paling sering kamu buat itu di penggunaan tanda baca di dalam kalimat dialog antar tokoh, dimana kamu sepertinya masih ragu-ragu dalam menggunakan tanda baca seperti tanda koma, tanda seru, dan tanda baca lain dalam dialog antar tokoh di novelmu."


"Oh, jadi penggunaan tanda baca itu penting banget ya untuk dialog di cerita kita, memangnya kenapa bisa begitu Ray? "tanya Manda dengan nada antusias seraya menatapku penuh rasa ingin tau.


"Jadi begini Man, kenapa tanda baca itu penting banget buat dialog di tulisan kita itu karena dialog yang tak memiliki tanda baca atau nada sama seperti tokoh yang kehilangan jiwa dan emosi, selain itu pengunaan tanda baca yang kurang tepat juga bisa membuat pembaca kebingungan dalam memahami nada bicara si tokoh cerita." ucapku memberikan penjelasan dengan nada santai untuk memudahkan Manda memahaminya.


"Ehh !, ternyata tanda baca di dialog itu penting banget ya, aku pikir yang penting itu tanda petik sama tanda di akhir kalimatnya doang. "ucap Manda dengan nada terkejut mendengar penjelasanku.


Aku hanya bisa tersenyum kecil ke arahnya, melihat reaksi terkejutnya yang imut itu. Belum sempat aku berucap sepatah katapun padanya, dia sudah terlebih dahulu kembali meminta penjelasanku dengan berkata :


"Terus, yang di maksud kamu judul yang kurang tepat di sini gimana ?"ucapnya seraya menunjuk kearah poin kedua dari kertas catatan yang kubuat.


"Oh, itu maksudnya judul yang kamu pakai menurutku terlalu panjang dan sulit untuk diingat oleh para pembacanya."


"Ah masa sih, bukankah Pembalasan Dendam Kesumat Seorang Detektif adalah judul yang bagus ya? "ucap Manda yang sepertinya tidak terima dengan pendapatku dan bertanya alasannya.


"Kalo menurutku judul yang kamu tulis itu terlalu panjang dan susah di inget Man, mungkin jika kamu menyingkat judulnya jadi Pembalasan Dendam sang Detektif para pembaca akan lebih mudah mengetahui dan mengingat judul novelmu."ucapku dengan nada sopan menjelaskan kekurangan dari judul novelnya Manda.


"Hemm, kamu bener juga ya Ray judul yang aku buat pertama tadi kayaknya kepanjangan deh."ucap Manda dengan nada santai seraya memikirkan kembali tentang kebenaran dari pendapatku barusan.

__ADS_1


"Iya kan, kamu juga ngerasa begitu?" tanyaku pada Manda untuk meyakinkan perasaannya tentang revisi judul novelnya.


"Iya Ray, kalo gitu aku putuskan bakal ngeganti judulnya sesuai sama saran darimu deh."ucap Manda dengan nada tegas setelah menetapkan perasaan untuk mengganti judul novelnya.


"Ok bagus deh, kalau kamu udah tau pentingnya sebuah judul."


"Iya Ray, makasih buat sarannya ya, oh iya aku boleh tanya sesuatu engga? "


"Boleh memangnya kamu mau tanya apa ke aku? "


"Jadi begini Ray, kalo menurutmu judul yang bagus itu penting banget buat karyaku, terus kenapa kamu tulis ini di poin kedua dan bukan pertama aja? " ucap Manda dengan nada penasaran seraya menanti jawaban dariku.


Aku lantas memikirkan pertanyaan itu baik-baik, hingga dalam hatiku berkata:


"Hemm, benar juga yang dikatakan sama Manda ya, kenapa judulnya aku taruh di poin kedua kalo memang itu penting banget, hah sepertinya aku harus berimprovisasi untuk menjawab pertanyaannya ini."ucapku dalam hati sembari menatap ke arah jendela kelas kami.


"Jadi apa alasannya Ray? "ucap Manda dengan nada manja untuk mengetahui alasanku.


"Ok, jadi begini Man, tujuanku jadiin judul poin kedua adalah karena menurut pendapatku yang terpenting untuk membenahi tulisanmu ialah penggunaan tanda baca yang sesuai."


"Iya, sama-sama."ucapku seraya membalas balik senyumannya dengan senyuman.


Manda lalu bertanya lagi kepadaku tentang poin ketiga dari catatan yang kubuatkan untuknya. Dia lantas berkata padaku :


"Ok Ray, terus bisa engga kamu jelasin maksud poin yang ketiga ini, plot ceritanya gampang ditebak maksudnya apaan ya? "ucapnya dengan nada memohon seraya menunjuk kearah poin ketiga yang tertulis di catatan itu.


Aku lantas sedikit melihat kembali catatan yang ditunjuk oleh Manda, setelah melihatnya aku lantas kembali memandang ke arah Manda dan mulai berkata :


"Oh itu maksudnya begini Man, jadi kalo menurutku inti utama dari cerita yang kamu tulis udah bisa ditebak sama para pembaca bahkan ketika baru membaca halaman-halaman awal."ucapku menjelaskan dengan nada sabar.


"Jadi begitu ya, terus gimana dong solusinya Ray? "ucap Manda dengan nada memelas meminta saranku.


"Tenang saja Man, aku yakin kalo kamu perbanyak baca referensi tentang kasus-kasus yang ada di novel-novel detektif atau misteri, pasti kamu bisa buat suatu kasus yang bisa membuat pembaca kebingungan dan penasaran buat baca karyamu."ucapku dengan nada ramah memberi dukungan pada Manda.


"Hemm, jadi begitu ya Ray memang kayaknya aku masih kurang referensi sih."ucap Manda menyadari kekurangannya.

__ADS_1


"Kalo gitu tetap semangat buat baca-baca novel lagi ya."ucapku untuk memberikan Manda semangat untuk membaca lebih banyak referensi.


"Oh iya Ray, ngomong-ngomong soal referensi hari minggu ini ada event bazar buku akhir tahun kan di Rembulan Mall, kamu udah tau belum? "


"Hai Man, memangnya kamu udah lupa aku ini siapa ya? "


"Hah, lupa gimana Ray maksud kamu apaan ya ? "


"Duh, aku ini kan pecinta novel ringan, masa event bagus kaya gitu aku sampe engga tau sih."


"Oh, memangnya setiap akhir tahun kamu selalu kesana Ray ?"ucap Manda dengan menunjukkan wajah polos ingin tau.


"Jangan di tanya lagi Man, jawabannya bener lah walaupun sendirian sih."ucapku dengan nada congkak di awal dan sedih di akhir seraya menundukkan kepalaku.


"Kalo gitu gimana kalo kita pergi kesana bareng-bareng Ray, kamu mau engga?"ucap Manda dengan nada antusias menawarkanku untuk bersama pergi ke event itu.


"HAH!, per... pergi ba... reng kesana Man? "ucapku dengan terbata-bata karena saking kagetnya mendengar tawaran dari Manda.


"Iya, memang salah ya kalo aku ngajak kamu kesana bareng? "tanya Manda dengan nada heran melihat tingkahku itu.


"Bukan maksudku mau nolak ya Man, tapi nanti kalo ada yang liat kita berduaan di sana gimana? "ucapku dengan nada gugup seraya menjelaskan kebenaran situasinya pada Manda.


"Hmm... kamu bener juga ya Ray, kalo gitu aku nanti bakalan pake penyamaran deh."


"Hah!, penyamaran bagaimana? "ucapku yang bingung mendengar ide dari Manda.


"Ya pokoknya kamu liat aja sendiri pas hari minggu nanti, terus berarti nanti aku jemput kamu ke rumah kan? ."


"Engga usah repot-repot jemput aku Man, kita ketemuan aja di Taman Anggrek jam sembilan pagi ya."


"Ok, kalo itu memang maumu nanti kita ketemuan hari minggu di Taman Anggrek ya."


"Iya deh, nanti aku bakal usahakan biar tepat waktu dateng kesana, kamu juga jangan telat ya. "


"Siap Ray, kalo gitu terima kasih udah nerima ajakanku ya."ucap Manda dengan nada senang seraya tersenyum manis ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2