
Ternyata perlakuan Manda kemarin, ketika menarik rambutku dan membawaku keluar kelas telah membuat suatu kabar burung yang beterbangan dikelas kami. Kabar itu menyebutkan bahwa aku dan Manda sudah menjadi pasangan kekasih dan saat ini sedang bertikai karena suatu hal. Pasangan kekasih darimana coba?, kami ini cuma sebatas teman dalam menulis novel ringan.
Aku dengan cara baik-baik mulai menyebarkan kebenaran tersebut di kelasku yang kumulai dari kumpulan anak laki-laki, tapi mereka malah mencemoohku dengan perkataan :
"Jangan pamer kau anak penyendiri hanya karena udah bisa pacaran sama Manda. "
Aku lantas mencoba menjelaskan kebenaran tersebut pada anak-anak perempuan di kelasku, tetapi mereka juga malah mencemoohku dengan perkataan :
"Ih kok bisa ya Manda yang cantik suka sama kamu, padahal kamu itu kan cuma bocah kuper di kelas. "
Memperoleh cemoohan dari seluruh teman di kelasku, kecuali Manda membuat hatiku mengecil karena malu untuk menjelaskan kebenaran lagi. Ajaibnya Manda tidak sama sekali perduli dengan kabar burung yang beterbangan itu. Dia menjalani kehidupan sekolahnya di kelas secara normal dan tidak tampak terbebani. Manda lalu mendatangi mejaku ketika istirahat pertama, karena melihatku sedang meringkuk lemas dimeja.Dia lantas berkata:
"Ray kamu engga papa-papa? "
__ADS_1
"Aku saat ini sedang tidak ingin membicarakannya Manda. "jawabku sambil terus meringkuk dimeja.
"Ini semua pasti karena salahku ya Ray?"
Mendengar Manda berkata seperti itu aku langsung bangkit dari meja dan duduk menatap wajah Manda yang hendak menangis seraya berkata:
"Engga Manda, ini bukan salahmu kok tapi salahku sendiri. "
"Bukan Ray yang salah itu aku, karena aku kamu jadi dibenci sama satu kelas ini. "air mata Manda mulai menetes ketika ia mengatakan ini.
"Manda tentang teman-teman dikelas engga usah kamu pikirkan lagi ya, mereka itu sebenarnya cuma salah paham aja kok. "
"Tapi Ray mereka itu jadi salah paham ke kamu karena aku kan ? "sembari menahan air matanya Manda menanggapi penjelasanku.
__ADS_1
"Iya emang itu salah satu sebabnya, tapi penyebab utamanya itu aku yang engga bisa kasih tau ke mereka tentang kebenarannya. "aku lalu kembali menjelaskan pokok masalahnya dengan sabar.
"Engga Ray, kamu itu engga salah karena kelakuan konyolku kemarin kamu yang jadi kambing hitamnya."
"Aku ini sebenarnya engga masalah sih jadi kambing hitam, asalkan kamu bisa hidup tenang tanpa beban itu udah cukup buatku. "
"Kamu ko bisa sok perhatian begitu sih Ray sama aku ?"
"Alasannya hanya ada satu alasannya Manda."
"Apa alasannya kamu sampe berbuat segitu banyak buat aku ? "
"Aku sebenarnya cuma mau melihat senyuman darimu Manda, sejak kita pertama ngobrol di hari itu aku tidak bisa lupa dengan senyumanmu. "
__ADS_1
Manda tampak terkejut dengan apa yang barusan aku katakan, ia lalu melihat kearahku dengan ekspresi terkejut sembari meneteskan air mata.