
Aku yang terkejut dengan pertanyaannya lalu spontan berkata :
"Loh kok kamu tanya tentang hal itu sih dek, kalau begitu mah kaka juga susah buat jawabnya nih. "
"Oh maaf ya kak, kalau aku malah tanya tentang hal itu, soalnya temen-temenku di sekolah selalu nyuruh aku buat punya pacar kak, katanya biar bisa ngelindungin aku di sekolah."
Aku sempat terkejut ketika mendengar perkataan Nia itu, jadi temen-temennya enyuruh dia buat punya pacar cuma karena alasan seremah itu.
Aku yang sudah lebih dewasa darinya lantas merasa wajib memberikan Nia sedikit nasihat supaya dia tidak terbawa pengaruh buruk dari teman-temannya itu. Aku pun berkata :
"Hmm jadi begitu ya, kalau begitu temen-temen kamu itu mau memberikan pengaruh buruk sama kamu, soalnya kalau kamu mau melindungi diri kan bisa dengan belajar bela diri bukan dengan punya pacar, jadi lebih baik kamu jangan terima saran dari mereka secara mentah-mentah kaya gitu ya." ucapku dengan nada penuh perhatian kepada Nia.
"Kaka bener juga ya, ngapain juga ya sekarang aku punya pacar, bisa-bisa malah aku engga fokus sama pelajaran di sekolah deh, terima kasih buat nasihat dan sarannya ya kak."
"Sama-sama Nia, inget ya kamu jangan sampai terbawa omongan temen-temenmu yang engga bener itu ya, kalau misalnya mereka jadi engga suka sama kamu biarin aja, terus kamu cari lagi temen-temen yang bener-bener membawa pengaruh baik buat kamu." ucapku layaknya seorang ibu yang sedang menasehati anaknya sendiri.
"Oke kak, aku bakal inget deh semua nasihat Kak Manda, oh iya kak, tapi apa bener nih kaka masih belum punya pacar?"
"Nah begitu dong dek, heh aku ini serius tau kalau kaka ini belum pernah punya pacar, kok kamu masih belum percaya sih?" ucapku dengan nada sedikit kesal.
"Maafin Nia ya kak, bukannya Nia engga percaya sama Kak Manda soalnya aneh aja gitu kalau gadis secantik kaka belum punya pacar di sekolah."
"Kayaknya memang engga mungkin ya dek, tapi itu memang bener kok, soalnya sampai sekarang belum ada cowok yang kaka suka sampai jadi pacar, paling deket hubungan kami cuma sebatas teman aja."
__ADS_1
"Hmm begitu ya kak, memangnya cowok yang kaka pengin jadiin pacar itu cowok yang kaya gimana sih?" ucap Nia dengan nada penasaran kepadaku.
"Yah gimana ya dek, kalau kaka sih penginnya punya cowok yang perasaannya jujur suka sama kaka, bisa kaka jadiin teman ngobrol yang enak, sama kalau bisa dia itu udah bisa taat menjalankan aktivitas ibadahnya dan baik akhlaknya. "
"Wah kayanya tipe cowok yang kaka penginin kaya gitu, sekarang ini susah dicari ya kak."
"Bener dek, entah kenapa sampai sekarang kaka belum bisa nemuin cowok yang karakternya bener-bener kaya gitu, sebenarnya ada sih cowok yang hampir memenuhi kriteria itu, tapi ternyata dia udah pacaran sama teman baik kakak di sekolah." ucapku dengan nada santai sembari mengingat kembali adegan ketika Ray dan Sherly berpelukan kemarin sore.
"Oh jadi begitu ya kak, duh sayang banget ya kalau begitu padahal aku yakin kok, si cowok itu juga sebenarnya punya perasaan sama kaka tapi belum dia ungkapkan aja." ucap Nia dengan nada tenang sembari menatap ke arahku.
"Duh kamu ngomong apaan sih dek, engga mungkin lah dia punya perasaan sama kaka soalnya kan dia udah pacaran sama teman kaka."
"Hmm begitu ya kak, tapi memangnya kaka bener-bener yakin kalau mereka udah pacaran? " ucap Nia dengan nada mengintrogasi kepadaku.
"Tapi mereka keliatan akrab engga kak kalau di kelas? "
"Mereka engga terlalu akrab sih kalau di kelas, malah kayaknya si temen kaka itu engga bakal mau kenal sama cowok itu kalau kaka engga jadiin si cowok itu teman nulis kakak."
"Nah itu udah jelas ada tandanya kak."
"Tanda apa maksud kamu dek? " ucapku dengan nada bingung karena perkataan Nia.
"Maksudnya itu udah ada tanda kalau temen kaka itu engga punya perasaan apa-apa sama si cowok itu kak." ucap Nia dengan nada bijak.
__ADS_1
"Hmm begitu ya tapi ke.... " ucapku spontan ingin menanyakan alasan dari perkataan Nia itu, tapi tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari arah terparkirnya mobilku.
"Non Manda, Non Manda........"
Segera aku pun mengalihkan pandanganku ke arah suara itu terdengar dan langsung melihat Pak Yoono tengah melambaikan tangannya untuk memanggilku. Aku segera mengangkat tanganku setinggi kepala dengan posisi terbuka sebagai tanda bahwa aku sudah tau akan panggilan darinya.
Melihatku melakukan itu lantas membuat Pak Yono menghentikan lambaian tangannya sembari masih memandang ke arahku. Segera aku pun kembali menghadap ke arah Nia sambil berkata:
"Kita ngobrolnya udahan dulu ya dek, soalnya supir kaka udah dateng tuh." ucapku dengan nada ramah.
"Yah jadi Kak Manda udah mau pergi ya, padahal kan Nia masih pengin ngobrol lebih lama sama kakak disini."ucap Nia dengan nada kecewa.
"Maaf banget ya dek, habisnya ini kaka juga masih ada urusan, tapi kamu tenang aja ya soalnya nanti kita kan bisa lanjut ngobrolnya lewat chat whatsapp, kalau gitu kaka pamit ya." ucapku seraya mulai berdiri dari tempat dudukku sembari mengangkat tangan kananku untuk mengajak Nia berjabat tangan.
"Iya kak, aku juga engga bakal maksa kaka buat tetep nemenin aku disini kok, hati-hati di jalan ya kak." ucap Nia seraya membalas jabatan tanganku.
"Iya kamu juga hati-hati tunggu ibu kamu di sini ya, bye Nia. " ucapku seraya melepaskan jabatan tangan Nia dan mulai berjalan ke arah mobilku terparkir.
"Bye juga Kak Manda." ucap Nia sembari melambaikan tangannya sesaat melepas kepergianku.
Aku pun menyempatkan diri untuk membalas lambaian tangannya itu setelah sampai di tempat mobilku terparkir. Lalu karena pintu belakang mobil sudah di bukakan oleh Pak Yono, aku pun segera masuk ke mobil setelah selesai melambaikan tangan kepada Nia.
Pak Yono segera menutup pintu belakang mobil sesaat setelah aku memasukinya dan dia juga segera menempatkan diri di kursi kemudi beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Mesin mobil kami segera dinyalakan oleh Pak Yono dan mulai berjalan keluar dari tempat parkir toko buah menuju jalan raya untuk melanjutkan perjalanan kami.