
Melihat kedua anaknya sedang bertengkar didepannya membuat hati bapak akhirnya tergerak untuk mendamaikan kami. Dia lalu berkata dengan nada santai:
"Aduh kalian ini kenapa sih gara-gara satu masalah aja ributnya engga selesai-selesai."
"Aku sebenernya mau baikan lagi sama Nia pak makannya dari tadi aku coba minta maaf ke dia, tapi Nia sepertinya sulit untuk memaafkan tindakan bodohku ya."ucapku dengan nada pelan seraya mengusap mataku yang tanpa sadar sudah meneteskan beberapa air mata penyesalan.
"Hei mana harga dirimu sebagai pria Ray, berhentilah menangis seperti itu!"ucap bapak membentakku supaya tak cengeng lagi seperti saat SD dulu.
Mendengar aku menangis dari bapak membuat hati Nia sedikit tergerak untuk kembali peduli pada permintaanku, ia lalu sedikit menengok kearahku untuk melihat apakah aku memang benar-benar menangis.
"Iya pak, Ray akan mencobanya tapi jika mengingat tindakan konyolku ke Nia entah kenapa hatiku jadi semakin sedih huhuhu."ucapku dengan nada tersedu-sedu seraya mengusap air mata yang malah semakin deras menetes kepipi dan ke bajuku.
"Aduh kok malah tambah mewek nih anak."ucap bapak dalam hati karena bingung dengan keadaanku saat itu.
Di tengah keadaan yang membingungkan bapak itu, ibu lalu datang dengan membawa sekantung kecil es batu untuk mengkompres luka Nia. Melihatku yang menangis membuat ibu bingung dan langsung berkata kepadaku :
"Aduh ada apa Ray sayangku kenapa kamu nangis kaya gitu?"ucap ibu dengan nada penuh kasih sayang seraya meletakan kantung es itu di meja makan dan berjalan ke arahku.
Aku yang kala itu sedang terlarut dalam kesedihan akhirnya mencoba menjawab pertanyaan ibu dengan suara terbata-bata :
"Ray udah salah ke Nia bu, Ray.memang bodoh ya."
Ibu yang saat itu sudah berdiri di samping tempatku duduk lantas memelukku seraya berkata :
__ADS_1
"Sudahlah Ray ku tersayang berhentilah menangis ya, kau tadi hanya salah sangka dan tidak bermaksud melukai adikmu kan?"
Aku lantas menyembunyikan wajahku ke arah baju ibu yang sedang memelukku kala itu sembari berkata:
"Iya maksud Ray memang seperti itu bu, tapi Ray malah membuat Nia terluka."ucapku dengan nada sedih karena masih merasa menyesal dengan perbuatanku pada Nia.
Bapak hanya bisa memandangku dengan perasaan iri karena ingin dipeluk juga oleh ibu, sementara Nia sudah mengambil kantung es yang tadi diletakan oleh ibu dan menempelkan itu perlahan pada bekas luka pukul di kepalanya. Ibu lalu kembali berkata padaku:
"Tapi tetap saja Ray, ibu dan bapak tau kalau tindakan yang kamu lakukan ke Nia pasti murni engga disengaja jadi kami pasti memaafkanmu kok."
"Iya bu, Ray berterima kasih kalau bapak sama ibu udah maafin aku, tapi kayaknya Nia engga bisa maafin perbuatanku deh."ucapku dengan nada sedih sembari masih bersembunyi menghadap baju ibu untuk menenangkan diri.
"Oh jadi itu yang membuatmu nangis ya Ray, kamu memang kakak yang baik ya Nia pasti sangat beruntung bisa memiliki kakak sepertimu ini."ucap ibu memberiku pujian seraya mengelus pelan kepalaku.
Sesaat kemudian Nia yang menyadari isyarat dari ibu lantas menggangukkan pelan kepalanya seraya meletakan kantung es yang di pegangnya. Ia lalu mulai berkata padaku :
"Anuu kakak, bisa engga ngehadap kesini sebentar soalnya Nia mau ngomong sama kakak nih."ucap Nia dengan nada memohon sembari menarik pelan bagian belakang bajuku.
"Iya kamu mau ngomong apaan Nia?"ucapku seraya melepaskan pelukanku dari ibu sembari terus mengusap air mata dengan lengan tangan kananku.
"Duh Kak Ray ini cengeng banget ya, udah berhenti dong nangisnya."ucap Nia dengan nada perhatian sembari memegang tangan kananku lalu menurunkannya dari wajahku.
"Iya, iya bakal kakak coba tapi kamu mau ngomong apa memangnya?"ucapku masih dengan nada sedih.
__ADS_1
"Begini Kak Ray, Nia udah terima kok permintaan maafnya kakak jadi sekarang kakak jangan sedih lagi ya."ucap Nia seraya memberikan senyuman manisnya kepadaku.
"Hah!, kamu bener-bener serius ini ?"ucapku pada Nia karena tak percaya dengan perkataan yang baru saja diucapkannya.
"Ih dasar Kak Ray ini masa sih aku bohong di saat begini."ucap Nia dengan nada tenang berusaha menyakinkanku.
"Kalo gitu terima kasih ya."ucapku seraya ingin memeluknya yang berada di hadapanku.
Tak seperti biasanya kali ini entah ada keanehan apa pada Nia karena ia mau menerima pelukanku sembari berkata :
"Iya Kak Ray, jadi sekarang kaka jangan sedih lagi ya."
"Ok, kaka janji engga bakal sedih lagi deh."ucapku dengan nada senang sembari melepaskan pelukanku darinya.
Ayah dan ibu yang melihat kejadian tersebut lantas tersenyum bahagia Karen atau kondisi kedua anak mereka saat ini sudah akur kembali. Aku juga tak menyangka ternyata di balik sikap jutek dan tak peduli yang ditunjukan Nia kepadaku, ternyata ia masih tak tega jika melihat aku bersedih seperti tadi.
Sebagai seorang kakak pasti akan sangat senang bukan jika tau ternyata adik perempuannya masih peduli pada perasaannya.
Hal itulah yang sedang terjadi padaku saat ini. Makam malam hari ini lalu dilanjutkan dengan suasana hangat dari keluarga kecil kami.
Setelah selesai mencuci piring bekas makan malam aku segera masuk ke kamarku untuk belajar pelajaran esok hari. Nia juga segera masuk ke kamarnya setelah ia selesai mencuci piring bekas makan malamnya sendiri.
Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam ketika aku selesai belajar. Aku sebenarnya sudah cukup mengantuk, tapi ketika sudah merebahkan diri di tempat tidur aku seketika teringat dengan janjiku pada Manda untuk mengkoreksi teks novelnya ya.
__ADS_1