
Manda lalu dalam sekejap sudah memasukan nomor WA ku ke salah satu kontaknya. Senyuman kecil nampak diwajahnya ketika berhasil mendapatkan nomor HP ku. Dia lalu kembali menghadap kearahku dan berkata :
"Nanti aku chat WA ke kamu ya, terus kamu bisa save nomer itu, oke Ray? "
"Ya udah aku tunggu chat darimu ya."
"Tenang Ray secepatnya akan aku chat kamu."
Aku lalu kembali berjalan ke tempat dudukku dan segera duduk diatasnya. Tak lama kemudian Hp ku bergetar karena notifikasi, ternyata itu WA dari Manda. Aku tidak lekas membalasnya karena jam pelajaran sudah dimulai dan aku tidak ingin berurusan dengan guru BK kalau ketahuan main Hp pas pelajaran. Sepulang sekolah saat itu awan tebal mulai berkumpul dilangit, menandakan hujan lebat akan turun. Sambil membalas chat dari Manda aku menyempatkan diri untuk melihat ke langit yang mendung itu dan berpikir tentang tantangan dari Deby. Dengan jaket bertudung yang aku kenakan, aku terpaku ditempatku memandang langit yang suram itu. Hingga suara seseorang mengalihkan perhatianku :
"Hei Ray, kenapa kamu belum pulang nanti keburu hujan deras! "
Ternyata itu adalah suara sapaan Pak Irwan, seorang polisi yang sedang berpatroli dengan mobil polisi dan dia adalah tetanggaku. Mendengar sapaannya aku lalu menjawab :
"Iya pak sebentar lagi, ini mau ada urusan sama orang. "
"Oh mau ada urusan ya, ya udah hati-hati dan cepat pulang ya. "
__ADS_1
"Baik pak saya usahakan cepat pulang. "
Setelah Pak Irwan mulai meninggalkanku dengan mobil patrolinya, sebuah ide bagus sekejap tersusun di kepalaku. Aku lantas mengejar mobil patroli Pak Irwan dan menyuruhnya berhenti. Pak Irwan yang menyadari jika aku mengejar mobilnya lalu segera menghentikan laju mobilnya. Aku lalu mengetuk pelan kaca mobil Pak Irwan dan dia lantas membukanya.
"Kamu ini kenapa Ray kok malah ngejar mobil ini sih, mau minta diantar ke rumah ya? "
Dengan nafas yang sedikit tersengal aku mencoba menjelaskan urusan yang aku maksud kepada Pak Irwan. Ia lalu terkejut dengan penjelasanku dan bersedia untuk menolongku. Akhirnya aku menuju Taman Anggrek dengan diantar oleh Pak Irwan, tetapi aku turun di rumah sebelah taman itu supaya tidak di curigai oleh Deby dan genknya. Pak Irwan, aku suruh untuk mengawasi dari seberang jalan taman untuk berjaga apabila Deby sampai melakukan kekerasan kepadaku. Aku lalu memberikan dia instruksi, jika ia sudah melihat aku ambruk maka dia baru boleh menolongku. Aku lalu masuk ke Taman Anggrek dan menemui Deby, seperti dugaanku sebelumnya dia tidak mungkin datang sendiri melainkan ditemani oleh dua temannya. Aku lalu berkata :
"Hei Deby jadi apa yang mau kau buktikan di sini?"
"Ah tidak usah pura-pura bodoh Ray! tentu kita membuktikan siapa yang layak untuk menjadi pacarnya Manda."ucap Deby dengan suara lantang yang menunjukkan semangat darah mudanya.
"Ah, berisik banget kau ! teman-teman cepat pegangi dia."
Mendengar ucapan Deby kedua temannya lantas bergerak cepat memegang kedua tanganku dan membuatku tak bisa bergerak. Deby lalu maju ke arahku dan memberikan pukulan telaknya ke perutku seraya berkata :
"Ini karena kau membuat Manda menangis. "
__ADS_1
Menerima pukulan itu perutku langsung sakit dan rasa sakit itu menjalar ke kepalaku. Deby lalu memberikan pukulan keduanya padaku. Menerima hal itu tubuhku langsung ambruk. Deby dan teman-temannya lalu berniat memukulku sekali lagi tapi suara pangillan seseorang mengagetkan jiwa dan raga mereka. Dari kejauhan terdengar suara itu berkata :
"HEI ! ANAK-ANAK ! apa yang kalian lakukan!"
Sesaat setelahnya terlihatlah sesosok polisi bertumbuh tambun yang berlari dengan nafasnya tersengal-sengal, yap dialah Pak Irwan. Melihat sosok Pak Irwan lantas Deby dan kedua temannya lari laksana banci yang dirazia oleh polisi pamong praja. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat hal tersebut lalu ambruk ke tanah karena merasakan sakit yang ada diperutku. Setelah aku membuka mata ternyata aku sudah terbaring dikasur kamarku.
Jam dinding dikamarku telah menunjukan pukul Sembilan malam. Setelah mengganti baju dari seragam ke pakaian biasa aku lalu menuju ke dapur untuk mengambil makan malam. Ketika sedang berjalan ke dapur aku dipanggil oleh bapak yang kebetulan sedang duduk membaca koran di sofa ruang keluarga dan melihatku lewat menuju dapur. Bapak lalu memasang wajah tegas dan bertanya :
"Jadi Ray Anggara Putra bisa kau jelaskan kejadian tadi sore di Taman Anggrek ?"ucap bapak sembari melipat koran yang dari tadi dia baca.
"Itu cuma urusan cowo remaja pak ga usah terlalu dipikirkan.ucapku seraya duduk di disebelah tempat duduk bapak disofa."
"Oh jadi tidak perlu di bahas ya?, tapi tadi Pak Irwan sudah cerita tentang kejadian itu kepadaku dan ibumu."
Dalam hati aku berkata "Ah sial, seharusnya aku menyuruh Pak Irwan untuk tutup mulut terkait permasalahan ini tapi sepertinya itu tidak mungkin sih."pikirku seraya menundukan kepala tak berani melihat wajah bapak yang sepertinya sangat marah saat ini.
"Jadi apa alasanya Ray kau sampai ribut dengan anak-anak itu? ”ucap bapak dengan nada tegas.
__ADS_1
"Anak-anak itu yang menantangku duluan pak!"ucapku menanggapi pertanyaan bapak untuk membela kebenaran diriku.
"Karena apa mereka menantangmu, bukankah selama ini kamu tak pernah punya musuh di sekolah ?."