
Bel masuk sekolah berbunyi tepat setelah mereka masuk melewati pintu kelas. Semua siswa yang sudah ada di kelas lantas kembali duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Sesaat sebelum guru menampakan dirinya aku tanpa sengaja saling bertatapan dengan Manda dari kursi kami yang berjauhan. Dia lalu melemparkan senyuman manisnya sesaat ke arahku seraya mempersiapkan buku pelajaran yang akan dimulai.
Perasaanku merasa lega setelah melihat senyuman itu, karena aku mengartikan senyuman itu adalah tanda bahwa Manda sudah tidak marah lagi. Tapi kenapa ya sepertinya masih ada yang aku lupakan di kantin yang mengganjal di pikiranku saat ini. Sepertinya itu adalah sesuatu yang penting yang harusnya aku lakukan jika setelah makan di kantin.
Belum sempat aku menemukan jawabannya Pak Edi sudah datang ke kelas kami dan memulai pelajarannya, akhirnya aku putuskan untuk bertanya pada Manda jika mengobrol dengannya ketika istirahat ketiga nanti. Pelajaran Matematika yang di bawakan oleh Pak Edi tanpa terasa sudah berlalu sesaat setelah bunyi dari bel istirahat ketiga yang bergema di seluruh koridor dan kelas pada saat yang sama.
Manda dengan langkah cepat segera keluar dari kelas setelah merapikan buku pelajarannya yang diikuti oleh Sherly. Melihat mereka yang bergerak cepat, aku tentu tidak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama. Segera kurapikan buku pelajaranku dan keluar kelas menuju ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan Manda dan Sherly ternyata sedang asyik memilih-milih buku yang hendak mereka baca masing-masing.
Aku bisa berkata demikian karena mereka sedang menyusuri rak-rak buku ketika aku sampai di Perpustakaan. Menyadari kehadiranku Manda lalu mensudahi pencariannya dan segera duduk di salah satu kursi baca, sementara Sherly masih terus mencari buku yang dia inginkan. Aku lantas duduk di kursi baca yang letaknya berhadapan dengan Manda seraya menyapanya :
"Keliatannya serius banget Man, lagi cari buku apaan sih ?"
"Oh ini Ray, aku sama Sherly lagi nyari buku materi Sosiologi buat tambahan referensi."
"Hah tambahan referensi memangnya mapel Sosiologi ada acara apa Man ?"
"Ih kamu lupa ya, rabu depan kan ada ulangan harian Sosiologi."
"APA Ulangan Harian !, kamu engga ngarang nih ?"ucapku dengan nada terkejut pada Manda.
"Ya ampun buat apa aku ngarang, kamu lupa sama omongan Pak Haqi kemarin ya."ucap Manda dengan nada serius menggapi pertanyaanku.
__ADS_1
Setelah berusaha mengingat kembali sejenak, aku baru teringat bahwa kemarin Pak Haqi selaku guru mapel Sosiologi mengumuman bahwa hari rabu depan akan diadakan ulangan harian. Aduh, padahal minggu depan kan aku masuk masa skorsing. Apa aku harus meminta bantuan Manda untuk membujuk Pak Haqi supaya aku bisa ikut UH susulan atau aku serahkan semua kepada Allah SWT ?, aku memilih untuk melakukan keduanya. Belum sempat aku berucap kembali, Manda sudah terlebih dahulu bertanya padaku :
"Kamu kenapa Ray?, tiba-tiba kok mukamu jadi pucet gitu?"
Sepertinya tak ada pilihan lain bagiku selain meminta pertolongan dari Manda untuk membantu menangani masalah ini, karenanya aku pun berkata pada Manda:
"Man aku minggu depan kayaknya engga bisa masuk satu minggu, jadi boleh engga nanti kamu bilang ke Pak Haqi kalo aku minta ulangan harian susulan."
"Tunggu bentar, memangnya kamu minggu depan engga masuk satu minggu full karena apa ?"ucap Manda dengan menunjukan wajah imut mode kepo miliknya.
"Begini Man, tadi pas istirahat pertma kamu dengar namaku di panggil ke ruang BK bareng Deby kan?"
Manda lantas mengingat hal tersebut dan berkata dengan nada ceria kepadaku :
"Begini ceritanya Man, Aku ini kemarin sore berantem sama Deby di Taman Anggrek nah pas lagi seru-serunya ada polisi yang liat kelakuan kami alhasil polisi itu mengadulah tadi pagi sama Bu Rika si guru BK."
Manda lalu berdeham sesaat dengan imutnya lalu berkata :
"Oh jadi begitu ya ceritanya, tapi kamu sama Deby ngeributin apa sih sampai ada acara berantem segala ?"ucap Manda yang penasaran dengan ceritaku yang menurutnya masih kurang jelas.
Aku lantas berpikir jika aku jawab jujur bisa saja dia menyimpulkan kalau aku rela bertarung demi dia atau sama saja aku nembak dia. Tapi kalau aku bohong kira-kira dia bakalan tau engga ya ?, akhirnya aku beralasan bahwa kami ribut karena masalah pribadi anak cowo. Mendengar jawaban dariku Manda lantas berkata :
__ADS_1
"Kenapa ya anak-anak cowo suka banget pake kekerasan untuk cari jawaban hal-hal sepele, bar-bar banget sih."ucap Manda dengan nada kesal.
"Iya maaf ya Man, gara-gara kelakuanku aku jadi ngerepotin kamu."ucapku dengan nada gugup karena terkejut mendengar perkataan Manda yang sangat pedas itu.
"Udah Ray kamu engga usah minta maaf, aku tau kamu pasti ditantang duluan sama Deby kan?"
"Iya kamu bener juga sih."
"Maka dari itu yang bar-bar itu dia yang ngajak berantem duluan, toh kalau kamu nolak juga bakal di ancam terus kan jadi aku sedikit mengapresiasi tindakan cerobohmu yang udah berani ngelawan dia."
"Kalau gitu makasih ya Man, jadi kamu mau kan nolongin aku?"
"Ya sebagai teman aku mau dong Ray, masa aku bisa sih tega nolak permintaan tolong penting dari temanku."
"Kalo gitu aku bener-bener berterima kasih ke kamu ya Man."ucapku seraya memegang kedua tangan Manda dan menunjukan mata berbinar-binar.
Manda yang terkejut tangannya di pegang olehku lantas mengeluarakan rona merah dipipinya dan segera melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. Dengan nada marah karena malu, Manda lantas berkata :
"IH, kamu ini apa-apaan sih Ray kita ini bukan muhrim tau jangan seenaknya pegang-pegang dong."
"Iya maaf ya Man, aku tadi seneng banget soalnya ada yang peduli sama aku."ucapku pada Manda sambil sedikit meneteskan air mata karena terharu.
__ADS_1
"Iya deh aku maafin tapi kalo kaya gitu lagi aku gampar pipimu ya."ucap Manda yang masih menunjukkan rona merah di wajahnya.