
Menyadari dirinya sedang ditatap olehku dari kejauhan lantas membuat Sherly risih dan memalingkan wajah cantiknya itu dari pandanganku.
Melihatnya seperti itu aku dengan semangat langsung menyimpulkan bahwa si Sherly ternyata memiliki sifat Tsudere (malu-malu tapi mau) seperti kebanyakan tokoh gadis perempuan di novel ringan yang aku baca. Tokoh gadis seperti ini biasanya mencoba dekat dengan tokoh utama pria dengan pura-pura engga suka tapi sebenernya pengin banget pacaran sama si tokoh pria itu.
Aduh mimpi apa ya aku semalam, kenapa di hari terakhir sebelum aku kena skorsing kok nasibku jadi beruntung banget kaya gini. Ah sudahlah, aku harus fokus ke pelajaran di hari ini dan tak usah terlalu memikirkan godaan duniawi macam pesan Sherly ini.
Bel masuk kelaspun berbunyi tak lama setelah aku mengalihkan perhatianku dari pesan Sherly itu. Pak Bagyo lantas masuk dan memulai pelajaran ekonomi yang di ajarnya. Aku mencoba sekuat tenaga untuk melupakan pesan dari Sherly tadi, tapi ah! kenapa semakin dilupakan malah semakin keinget ya.
Akhirnya selama pelajaranpun aku tak dapat berkonsentrasi dengan baik, tapi untunglah setidaknya aku bisa tau inti dari materi pendapatan nasional yang dijelaskan Pak Bagyo. Tanpa terasa bel istirahat pertama berbunyi menggetarkan seisi sekolah, para guru lantas mengakhiri pelajarannya dan para murid bergegas keluar dari kelas masing-masing untuk mengumbar hawa nafsunya. Eh maaf maksud author, untuk menghabiskan uang sakunya.
Karena ini hari Jumat jadi istirahat pertama yang biasanya berdurasi dua puluh menit dikurangi hanya menjadi sepuluh menit saja karena nanti waktu istirahat kedua akan diperpanjang untuk mentolerir guru dan siswa laki-laki yang beribadah sholat jumat. Menyadari hal tersebut membuatku langsung menuju ke perpustakaan sembari membawa catatan yang aku buat tentang kesalahan teks novel Manda. Sementara itu Manda lekas merapikan buku dan alat tulisnya untuk segera mengobrol denganku di perpustakaan.
Tepat setelah ia selesai berbenah dan hendak ke perpustakaan, tiba-tiba Sherly merangkul lembut lengannya sembari berkata :
"Ayo Man kita jajan bareng di kantin."ucap Sherly dengan nada ramah pada sahabatnya.
Manda sebenarnya tak kuasa untuk menolak ajakan dari sahabat karibnya itu, tapi mengingat waktu yang semakin sedikit dengan berat hati ia terpaksa berkata pada Sherly:
__ADS_1
"Duh maaf banget ya Sher, kayaknya hari ini aku engga bisa jajan bareng kamu deh."ucap Manda dengan nada kecewa seraya menatap lembut Sherly yang berada di sampingnya.
"Hah, memangnya kenapa Man? Bukannya kamu selalu bisa jajan bareng aku ya kalo hari jumat ?"ucap Sherly dengan nada bingung setelah mendengar ucapan penolakan dari Manda.
“Iya kamu bener sih, tapi buat jumat ini aku izin engga ikut jajan dulu ya soalnya ada urusan mendesak nih."ucap Manda dengan nada memohon pada Sherly.
Mendengar ucapan dari sahabatnya itu lantas membuat hati Sherly sedikit kecewa karena baru kali ini Manda menolak ajakannya untuk jajan bareng di hari jumat. Sesaat kemudian terpikir dalam pikiran Sherly tentang urusan mendesak yang dimaksud oleh sahabat dekatnya itu.
Sembari masih belum melepaskan rangkulannya di lengan Manda, ia lalu menatap sahabatnya itu dengan tatapan dan senyum keusilannya seraya berkata:
Wajah Manda langsung mengeluarkan rona merah karena malu setelah mendengar Sherly mengatakan hal itu. Ia lalu memalingkan wajahnya sesaat dari tatapan Sherly untuk memikirkan jawaban terbaik dari pertanyaan sahabatnya yang menjebak itu, serta menenangkan pikirannya.
Manda lalu memutuskan menjawab pertanyaan Sherly dengan nada tenang :
"Iya Sher aku ada urusan sama Ray di perpustakaan, tapi kita cuma mau bahas tentang teks yang kemarin aku minta koreksi ke dia engga lebih dari itu kok."ucap Manda seraya memandang Sherly dengan wajah santai.
"Hmm apa bener nih?, kalian Cuma mau ngomongin tentang teksnya kamu?, yakin engga bahas hal lain nih?"ucap Sherly dengan nada usil sembari masih belum melepaskan rankulannya dari lengan Manda.
__ADS_1
Diberi pertanyaan beruntun seperti itu oleh Sherly lantas membuat pikiran dan hati Manda kembali kalut dalam perasaan malu, wajahnya pun kembali mengeluarkan rona merah sebagai tanda perasaannya itu. Sherly yang melihat hal tersebut malah merasa senang karena menurutnya wajah malu-malu Manda adalah daya pikat utama dari sahabatnya ini.
Dengan nada gugup Manda mencoba menjawab pertanyaan Sherly dengan berkata :
"Beneran kok Sher, aku Cuma mau ngomongin teksku yang udah di koreksi sama Ray engga lebih dari itu."ucap Manda sembari memelankan suara diakhir perkataannya dan memalingkan pandangannya dari Sherly.
"Hmm gitu ya, oke aku percaya deh sama kamu Man."ucap Sherly dengan nada santai seraya melepaskan rangkulannya dari lengan Manda.
Manda segera menarik nafas lega setelah tau bahwa sahabatnya itu akhirnya mau mengerti dan tidak bertanya lebih jauh. Dia lalu berkata pada Sherly dengan nada santai :
"Oh Syukur deh Sher, akhirnya kamu percaya sama aku."
"Ok kalau gitu aku keluar duluan ya Man, nanti aku tunggu undangan pertunanganmu sama Ray ya."ucap Sherly dengan nada usil seraya berjalan keluar kelas.
"Iya silahkan aja, Ih kamu ngomong apaan sih sher!"ucap Manda dengan nada tenang sebelum mengeraskan suara di akhir ucapannya karena geram mendengar omongan ngawur dari Sherly.
Sherly hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu seraya terus berjalan keluar kelas. Manda yang saat itu sudah sendirian di kelas lalu melihat jam dinding yang terpasang di depan kelas. Perasaannya kaget bukan main setelah tau ternyata waktu istirahat tinggal....
__ADS_1