
Tenang aja Mun, aku yakin nanti suamimu pasti akan membuka hatinya untuk kalian lagi kok."ucap Ibu Rena memberikan dukungan untuk hati ibu.
"Iya Ren aku juga selalu berdoa kepada Tuhan supaya lekas membukakan hati suamiku yang saat ini sedingin es bagi kami. " ucap ibu dengan nada sedih seraya meneteskan sedikit air mata ke pipinya yang putih itu.
Ibu Rena segera menyeka air mata ibuku lalu memberikannya sebuah pelukan seorang sahabat untuk menenangkan hatinya. Aku yang menyadari hal tersebut sebenarnya juga langsung ingin memeluk ibu, tapi tak elok rasanya jika aku tiba-tiba pergi dari pembicaraanku dengan Ibu Ria dan Dewia, jadi aku pun memutuskan tak beranjak dari sofa tamu dan kembali berbincang dengan dua sahabat ibu ini.
Tanpa terasa jam dinding di ruang rawat inap ibu telah menunjukkan pukul set enam sore yang menandakan bahwa waktu untuk membesuk pasien sebentar lagi akan berakhir.
Mengerti akan hal tersebut membuat teman-teman ibu segera berpamitan kepada kami dan mereka juga meminta nomer Whatsapp milikku dengan alasan untuk menjadikanku teman ngobrol mereka di Whatsapp. Haduh payah deh, padahal aku kan engga tau banyak tentang pembicaraannya ibu-ibu. Tapi apa boleh buat ya akan aku coba meladeni chat obrolan mereka semampuku deh.
Setelah semua teman ibu sudah keluar dari ruang perawatan dengan segera aku mendekat ke arah ibu dan memberikan pelukan kerinduanku kepadanya. Ibu yang cukup terkejut dengan apa yang aku lakukan lalu berkata dengan nada santai:
"Haduh kamu ini kenapa putriku sayang ?, kok tiba-tiba meluk ibu begini sih." ucap ibu seraya membalas pelukanku.
Aku segera menanggapi pertanyaan ibu dengan berkata :
"Manda kangen bu, sama ibu. "ucapku dengan nada sedih seraya meneteskan beberapa air mata kerinduanku.
"Duh jadi kamu sekangen ini sama ibu ya Man? "ucap Ibu dengan nada sabara seraya membelai rambut panjang kecoklatan yang aku miliki.
"Iya bu, Manda kangen banget sama ibu, kira-kira kapan ibu bisa balik lagi ke rumah bu? " ucapku dengan nada sedih sembari masih memeluk ibu.
"Kamu tenang aja ya Manda anakku tersayang, kata dokter minggu depan ibu udah boleh rawat jalan di rumah kok."
"Ah bener nih bu, berarti sebentar lagi ibu bakal pulang ke rumah lagi dong." ucapku dengan nada senang seraya melepaskan perlahan pelukanku lalu menatap ke wajah ibu.
"Iya Manda berarti sebentar lagi kamu bisa tidur bareng sama ibu lagi kalo kamu masih takut takut tidur sendirian. " ucap ibu mengatakan kebiasaanku sebagai candaan.
"Duh ibu kenapa ngomong kaya gitu sih, padahal selama ibu dirawat Manda udah coba selalu berani buat tidur sendirian loh." ucapku dengan nada sedikit kesal seraya memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"Iya deh, kalo begitu ibu minta maaf ya Man, soalnya ibu tau kok putri kesayanganku sekarang kan udah jadi gadis yang pemberani ya, jadi jangan cemberut gitu dong kasian kan senyum manis kamu jadi engga keliatan deh." ucap ibu meminta maaf seraya menyentuh lembut wajah cemberutku untuk membujukku tersenyum.
Sentuhan tangan ibu yang penuh kasih sayang membuatku tak kuasa untuk mengabaikan permintaannya. Jadi perlahan aku mengubah ekspresi wajahku yang semula cemberut menjadi tersenyum ke arah ibu. Melihat senyumanku lalu membuat ibu ikut tersenyum seraya berkata :
"Nah begitu dong putri kesayanganku, kamu ini cantik banget kalo lagi senyum kaya gini loh."ucap ibu dengan nada santai sembari masih menyentuh pipi kananku.
Bi Asih dan Pak Yono hanya bisa tersenyum kecil melihat perbincanganku dan ibu tanpa berani untuk memotong perbincangan majikan dan putri majikannya itu. Hingga seorang perawat tiba-tiba memasuki ruang rawat inap ibu seraya berkata :
"Mohon maaf sebelumnya, karena jam besuk hari ini sudah habis jadi saya mohon kepada keluarga yang tidak berkepentingan untuk menjaga pasien di harapkan segera pulang dari rumah sakit ya."ucap perawat wanita itu dengan nada sopan kepada kami.
Pak Yono yang ingin memberikan waktu lebih banyak agar aku bisa berbincang dengan ibu lalu berkata :
"Baik mba kami tahu dengan hal itu, tapi apa bisa kami minta tambahan waktu hingga pukul enam tepat? "ucap Pak Yono memohon kelonggaran waktu besuk pada perawat itu.
"Saya benar-benar mohon maaf pak, tapi saya tak punya kewenangan untuk mengiyakan permintaan dari bapak karena ini memang sudah kebijakan dari rumah sakit." ucap perawat itu dengan nada sopan menolak secara halus permintaan Pak Yono.
"Sudahlah Pak Yono, Manda juga udah mau pulang ke rumah kok ini mau langsung pamitan sama ibu."ucapku dengan nada yang cukup keras supaya bisa didengar oleh Pak Yono seraya memandang ke arahnya.
"Baiklah non, jika itu kemauan non Manda maka saya akan menurutinya." ucap Pak Yono dengan nada sopan kepadaku.
Aku hanya menanggapi perkataan Pak Yono itu dengan tersenyum ke arahnya. Segera aku kembali memandang ke arah ibu dan berkata:
"Bu, Manda izin pulang ke rumah dulu ya, ibu baik-baik di sini ya." ucapku seraya menggenggam tangan kanan ibu lalu mengecupnya.
"Iya Manda, ibu bakal baik-baik aja kok di sini, Oh iya sekolahmu besok libur kan?"
"Iya bu, besok sekolah Manda libur memangnya ada apa ya bu?"ucapku dengan nada heran seraya melepaskan genggaman tanganku dari tangan kanan ibu.
"Enggak papa kok sayangku, ibu cuma mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi karena sekarang waktunya enggak cukup jadi ibu kasih tau ke kamu besok ya."ucap ibu menjelaskan alasan pertanyaan kapadaku seraya kembali mengusap sesaat pipiku dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Iya bu, Manda janji bakal dateng lagi besok buat jenguk ibu ya."ucapku dengan nada sopan seraya memandang ke arah ibu.
"Kalo begitu terima kasih ya putri kesayanganku, udah mau jenguk ibu bahkan di hari liburmu." ucap ibu seraya memadangku dengan tatapan matanya yang sendu.
Melihat tatapan mata ibu yang seperti itu membuatku segera mengenggam kembali tangan kanan ibu dengan kedua tanganku lalu berkata:
"Sudahlah bu jangan bersedih lagi ya, soalnya walaupun ibu engga menyuruh Manda pasti jenguk ibu kok biarpun harus membuang hari libur, karena bisa bersama ibu di satu hari libur buat Manda itu lebih menyenangkan daripada liburan satu tahun tanpa ketemu sama ibu." ucapku dengan nada riang untuk menenangkan hati ibu.
Ibu hanya tersenyum sendu setelah mendengar ucapanku. Air mata segera menetes dari pelupuk matanya. Segera aku menyeka airnya itu lalu memeluknya sesaat seraya berkata:
"Manda pulang dulu ya bu." ucapku dengan nada sopan sembari masih memeluk ibu.
"Iya kalo begitu kalo begitu hati-hati ya nak." ucap ibu dengan nada penuh perhatian padaku.
Aku lalu melepaskan pelukanku sesaat setelah ibu mangatakan ucapan itu. Aku segera keluar dari ruang perawatan ibu dan diikuti oleh Pak Yono di belakangku. Tak lupa aku melambaikan tanganku sesaat sebelum aku keluar dari ruangan itu.
Ibu lantas membalas melambaikan tangannya ketika melihatku melakukan hal itu. Ketika sudah berada di mobil, aku hanya terdiam melihat pemandangan kota selama perjalanan pulang ke rumah. Pak Yono yang cemas melihatku seperti itu lalu mencoba memulai pembicaraan dengan berkata:
"Jadi besok kita jenguk nyonya lagi ya non?" ucapnya dengan nada penasaran.
"Iya pak, soalnya besok aku juga bingung sih mau ngapain lagi kalo di rumah aja."
"Oke non, jadi kira-kira kita besok berangkat jam berapa ya?"
"Hmm, kita besok berangkat jam set sembilan aja pak biar engga kesiangan sampai ke rumah sakit."ucapku memberi saran ke Pak Yono.
"Oke non, berarti kita besok berangkat jam set sembilan ya."
Aku hanya menganggukkan pelan kepalaku dan tersenyum menanggapi perkataan Pak Yono itu lalu kembali melihat ke arah pemandangan kota yang ada dibalik jendela mobil jemputanku.
__ADS_1