AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Kalian Ini Saudara


__ADS_3

Point of View Ray Anggara Putra


Entah kenapa suasana dingin menyelimuti makan malam keluarga kami di malam ini, bapak, Nia, dan aku diam sembari memakan makanan kami sejak makan malam disediakan oleh ibu yang tampaknya tak terpengaruh dengan suasana saat ini.


Aku tak pernah menyangka bahwa surat skorsing ternyata memiliki efek sehebat ini ya. Setelah kami selesai makan Ibu lalu mencoba membuka pembicaraan diantara kami dengan berkata:


"Duh, kalian ini kenapa sih kok engga serame biasanya?" ucap ibu dengan nada heran karena melihat sikap kami yang berubah sejak makan malam dimulai.


"Engga papa kok ma, Nia cuma lagi engga mau ngobrol aja." ucap Nia menanggapi pertanyaan ibu dengan nada datar.


"Iya bu, aku juga sama kaya Nia." ucapku singkat meniru alasan Nia untuk menjawab pertanyaan ibu.


"Ih Kak Ray, ini apa-apaan sih ikut-ikutan aja." ucap Nia dengan nada kesal mendengar aku meniru ucapannya.


"Udah, udah kenapa kalian malah jadi ribut sih." ucap ibu dengan nada tegas segera melerai kami.


Nia dan aku segera terdiam di tempat kami masing-masing setelah mendengar teguran dari ibu kepada kami. Dengan nada penuh perhatian ibu lalu bertanya ke Nia dengan berkata :


"Duh kamu ini kenapa sih Nia, kok keliatannya malem ini marah banget sama kakakmu, padahal kemarin kalian udah baikan kan? " ucap Ibu seraya membereskan piring lauk dan periuk nasi yang masih ada di meja makan.

__ADS_1


"Kenapa ibu pake tanya alasan Nia marah sih, ya jelas Nia marah lah, soalnya Kaka Ray yang Nia kenal kan engga bakal kena skorsing dari sekolah." ucap Nia dengan nada kesal menjelaskan alasan kemarahannya pada ibu.


l


Aku yang mendengar penjelasan itu dari Nia lantas bergumam dalam hati "Duh bener juga ya, ternyata selama ini Nia udah menganggapku sebagai seorang kaka yang baik ya, tapi aku malah merusak kepercayaannya kepadaku, dasar bodoh kau Ray." ucapku menyesal menghina diri sendiri.


Bapak tak bergeming dengan suasana saat ini dan malah sudah mencuci piring bekas makanannya lalu menuju ke kamarnya. Ibua sempat tak percaya dengan sikap bapak yang acuh kepada anaknya, tapi dia pun memaklumi bapak karena tau bahwa mungkin suaminya merasa tak mampu untuk mengatasi keadaan ini.


Ketika semua piring bekas lauk dan periuk nasi sudah berada di dekat ibu, tak seperti biasanya ibu menyempatkan diri untuk duduk terlebih dahulu disebelah Nia dan menatap sendu ke arah anak gadisnya itu seraya berkata:


"Wahai anak gadisku Nia, kamu jangan terlalu marah ka Kak Ray karena kakakmu kena skorsing ya, soalnya bagaimana pun juga kalian ini kan saudara kandung, jadi kalau diantara kalian ada yang berbuat kesalahan seharusnya kalian saling mengingatkan bukan saling membenci ya." ucap ibu memberikan nasihat kepada Nia seraya mengusap kepala dan pipi anak gadisnya.


"Baiklah bu, Nia janji engga bakal marah berlebihan lagi ke Kak Ray karena dia kena skorsing deh, maafin Nia ya bu soalnya udah kemakan emosi sama hal itu." ucap Nia dengan nada menyesal seraya memegang lembut tangan ibu.


Melihat tanggapan yang positif dari putri yang sedang berbicara dengannya membuat ibu segera berkata:


"Iya Nia, ibu udah maafin sikapmu tadi kok, tapi kamu janji ya habis hari ini, kalau salah satu diantara kalian ada yang buat kesalahan maka yang lainnya harus mengingatkan, dan jangan malah saling membenci ya." ucap Ibu dengan nada penuh kesabaran menjelaskan pada anak gadisnya itu.


Nia lalu menganggukkan pelan kepalanya menanggapi perkataan ibu seraya berkata:

__ADS_1


"Iya bu, Nia janji deh untuk selanjutnya kalau Kak Ray ngelakuin kesalahan lagi bakal Nia akan mengingatkan kaka." ucap Nia dengan nada sopan seraya perlahan mengusap tangan ibu yang masih di genggamannya.


"Oke kalau begitu kamu sekarang minta maaf ke kakakmu ya, ibu mau cuci piring dulu di dapur." ucap ibu santai seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nia dan mulai berjalan ke dapur sambil membawa piring kotor dan periuk nasi yang sendari tadi sudah menunggu dicuci olehnya.


Nia segera menganggukkan pelan kepalanya seraya tersenyum ke arah ibu sebagai tanda bahwa ia akan segera melakukan perintah yang diucapkan oleh ibu diakhir perkataannyan itu. Selama pembicaraan itu berlangsung, aku hanya bisa menundukkan sedikit kepalaku sebagai tanda perasaan menyesal karena kesalahanku sendiri. Tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh sapaan lembut dari seseorang yang berkata:


"Kak Ray bisa liat ke sini dulu engga?, Nia mau ngomong sesuatu nih."


Dengan perlahan aku lalu mengangkat kepalaku untuk tegak sembari berkata:


"Iya kamu mau ngomong apa ke aku Nia? " ucapku dengan nada tenang seraya memandang wajah Nia yang berada di sebelahku. Dia awalnya seperti hendak memarahiku, tapi kemudian ia mengambil napas panjang lalu setelahnya mulai berkata:


"Jadi begini kak, Nia mau minta maaf ya soalnya tadi udah sempet marah-marah engga jelas sama kaka. " ucapnya dengan nada sopan sembari memasang ekspresi menyesal.


Mendengar perkataan itu darinya, sontak membuat hatiku serasa terbebas dari beban dan kembali lega hingga membuatku langsung berkata:


"Iya Nia, Kak Ray udah maafin kamu kok, terus juga untuk kedepannya Kak Ray minta diingetin ya kalo ada salah." ucapku dengan nada santai menanggapi perkataan Nia.


"Oke lal, kalo gitu tolong ingetin Nia juga ya kalo misalnya Nia ngelakuin kesalahan." ucap Nia dengan nada ramah seraya memberikan senyuman diakhir ucapannya.

__ADS_1


Melihat senyuman itu sebenarnya membuatku sangat ingin untuk mengusap pipinya, tapi aku masih sadar diri dan berusaha menahan hasrat sisconku untuk tidak keluar. Karena jika aku tiba-tiba melakukan hal itu, Nia pasti akan marah ke aku yang dianggapnya melakukan pelecehan ke dia.


__ADS_2