AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Awal Hari


__ADS_3

Point of View Mandalina Dwi Pratiwi


Suara yang tak asing terdengar memanggil-manggil namaku berulang-ulang kali dari langit tempatku berdiri saat ini, sesaat kemudian aku pun sadar bahwa Kak Rani sedang membangunkanku dari tidur karena sudah masuk waktu subuh. Dia mencoba membangunkanku dengan berkata:


"Dek Manda bangun dong, Dek Manda bangun ya udah masuk waktu subuh nih." ucapnya seraya tangannya juga menepuk pelan pundakku berulang kali.


Berkatnya aku pun segera terbangun dari tidur malamku lalu segera berkata:


"Terima kasih ya kak udah bangunin aku, sekarang masih masuk waktu subuh kan? "


"Iya sama-sama de, sekarang masih ada waktu buat sholat subuh kok, silahkan kalau dek Manda langsung mau sholat, ini mukenna sama sajadahnya ya." ucap Kak Rani seraya meletakkan mukenna dan sajadahku di tepi kasur.


"Iya udah kalo gitu Manda mau sholat dulu ya, Kak Rani mau bareng?" ucapku menawarkan ke Kak Rani apakah dia mau sholat berjamaah denganku.


"Maaf dek, hari ini kaka masih belum bisa sholat." ucap Kak Rani dengan nada kecewa karena sedang dalam masa menstruasi dan membuatnya tak bisa menerima tawaranku.


"Oh ya udah kalo gitu, Manda sholat dulu ya kak." ucapku seraya menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Iya dek, kalo perlu apa-apa kaka ada di dapur ya." ucap Kak Rani seraya mulai melangkah ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi hari ini.


"Iya kak." ucapku singkat sesaat sebelum aku menyalakan keran air untuk mengambil air wudhu.


Selesai berwudhu aku pun segera memakai mukenna dan menjalankan sholat subuh dengan khusyuk.

__ADS_1


Setelahnya aku pun membaca beberapa surah Al-Qur'an untuk menenangkan sekaligus menjaga hatiku di hari ini. Matahari mulai merangkak masuk dari celah tirai kamarku tepat setelah aku selesai membaca Al-Qur'an. Segera aku taruh kembali kitab suciku di rak buku paling atas seraya melepaskan dan melipat mukenna yang sendari tadi kugunakan.


Kulangkahkan kakiku menuju dapur untuk membantu Kak Rani membuat sarapan, tapi ternyata sesampainya didapur hampir seluruh hidangan untuk sarapan sudah siap dihidangkan di meja. Jadi aku pun mengeluh kepada Kak Rani dengan berkata:


"Yah kak Rani, kok udah selesai sih masaknya padahal Manda kan mau bantu-bantu." ucapku seraya menarik salah satu kursi di meja makan untuk aku duduki.


"Oh, maaf ya de Manda, soalnya kaka pikir dede masih lama ibadahnya, jadi kaka cepet-cepet nyelesein masakannya deh, biar dede bisa langsung sarapan." ucap Kak Rani dengan nada lembut menanggapi keluhanku.


"Iya deh kak, padahal aku kan pengin belajar masak sama Kak Rani loh." ucapku kecewa seraya memandang ke arah Kak Rani.


"Hmm, jadi dede Manda mau belajar masak ya, memang ada apa ya sampai dede mau belajar masak?"


"Engga ada apa-apa kok kak, cuma sebagai perempuan kan kayaknya engga elok kalo sampai aku engga bisa masak sama sekali kan? "


"Iya kak, jadi tolong kalau kaka mau masak lagi bisa panggil Manda buat bantu-bantu ya."


"Oke deh kalo begitu dede Mandaku tersayang." ucap Kak Rani dengan nada usil seraya menatap genit ke arahku.


"Aduh udah ah kak, jangan terlalu berlebihan kalo manggil aku, cukup dipanggil Manda aja udah cukup kok buatku." ucapku dengan nada merendah seraya mulai mengalihkan pandanganku ke arah hidangan yang sudah tersedia di meja makan.


"Yah kenapa de, padahal kan kaka pengin manja-manjaan sama kamu."


"Iya kak, itu kan bisa kita lakuin nanti, sekarang kita makan dulu aja ya." ucapku seraya mulai mengambil piring untuk memulai sarapan.

__ADS_1


"Oh iya deh, silakan dede sarapan dulu ya atau mau kaka suapin nih." ucap Kak Rani menawarkan kebaikan hatinya yang ingin memanjakanku.


"Kalo itu engga usah kak, yang penting sekarang kaka bisa ikut sarapan juga bareng aku."


"Hmm, kalau begitu maaf ya de kaka mau nganter makanan ke bapak nih, terus sekalian nyiram tanaman dulu, jadi kamu makan sendiri aja ya." ucap Kak Rani menolak halus tawaranku.


"Loh kalo begitu kenapa engga kaka ajak aja Pak Yono buat sarapan bareng kita, terus kaka bisa nyiram tanaman sehabis sarapan kan?" ucapku memberi saran supaya Kak Rani tetap bisa sarapan bersamaku.


"Hmm, apa dede benar-benar serius mau sarapan sama kaka dan pak Yono ya?" ucap Kak Rani dengan nada ragu-ragu kepadaku.


"Iya kak, aku engga masalah kok buat sarapan bareng sama Kak Rani dan Pak Yono, soalnya kan kalian berdua udah kuanggap kaya keluargaku sendiri di rumah ini." ucapku dengan nada tenang menjelaskan alasan dari tawaranku barusan.


Kak Rani lantas tersenyum simpul ke arahku sebelum akhirnya berkata:


"Kami sangat berterima kasih atas pikiran dek Manda tentang keberadaan kami yang bekerja di rumah ini ya, terima kasih banyak ya sudah mengganggap kami sebagai bagian dari keluarga Dek Manda sendiri." ucap Kak Rani seraya sedikit menundukkan badannya ke arahku sebagai tanda terima kasih.


"Haduh, udah deh kak engga usah terlalu formal gitu deh, aku juga mau berterimakasih kasih banget loh sama keluarga kaka yang udah mau bantu-bantu di rumah ini."


Sekali lagi Kak Rani tersenyum simpul setelah mendengar perakataanku, ialu menanggapinya dengan berkata:


"Ya udah kalo begitu kaka permisi panggil Pak Yono dulu ya." ucap Kak Rani seraya mulai melangkahkan kakinya untuk mencari bapaknya itu.


"Oke kak kalo begitu Manda tunggu ya." ucapku dengan nada ramah seraya memandang Kak Rani dengan ekspresi senang.

__ADS_1


Isyarat jari melingkar yang dibuat Kak Rani dengan menggabungkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya menjadi isyarat yang jelas bahwa dia memahami ucapan yang baru saja kuucapkan. Tak lama berselang aku, Kak Rani, dan Pak Yono pun sudah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan pagi di hari ini. Setelah kami membaca doa yang dipimpin Pak Yono, kami pun lantas memakan berbagai hidangan yang sebelumnya sudah di buatkan oleh Kak Rani sebagai menu sarapan hari ini.


__ADS_2