AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Minta Ditraktir dan Toko Buah


__ADS_3

Begitu aku keluar dari rumah ternyata Pak Yono sudah siap mengantarku dan saat ini sedang duduk di teras rumah sambil sedikit bersiul-siul menirukan suara burung yang dikuasainya. Aku pun segera menyapanya dengan berkata:


"Maaf pak, apa kita udah bisa berangkat sekarang? " ucapku dengan nada sopan.


Pak Yono tampak sedikit terkejut ketika mendengar suaraku, ia lantas menoleh ke arahku lalu berkata:


"Ehh Non Manda udah siap ya, iya non kita udah bisa berangkat sekarang kok mari saya anter ke mobil." ucapnya dengan nada ramah seraya mulai berdiri dari tempat duduknya.


"Iya pak aku udah siap nih, sama bapak langsung ke mobil duluan aja ya soalnya aku bisa jalan ke mobil sendiri kok." ucapku menolak halus tawaran dari Pak Yono.


"Oh iya deh non, kalau begitu bapak tunggu di mobil ya." ucap Pak Yono seraya mulai berjalan ke arah mobil.


Aku hanya tersenyum kecil sembari menganggukkan pelan kepalaku ke arahnya sebagai tanda mengerti dengan perkataannya itu. Tak berapa lama Pak Yono sudah ada di kemudi mobil dan mulai menyalakan mesinnya.


Aku sempatkan diri untuk memandang ke arah rumah sesaat lalu segera mengalihkan pandanganku ke arah mobil, tiba-tiba suara teriakan mengalihkan perhatianku kembali ke arah rumah :


"Dek tunggu!...Ini ada sesuatu yang lupa buat kamu....!" ucap Kak Rani sembari membawakan kotak makan tingkat dan berlari kecil menghampiriku.


"Memangnya ada apa buatku kak?, kayaknya aku engga ada yang kelupaan deh." ucapku dengan nada sedikit terkejut karena melihat Kak Rani yang sepertinya berniat sekali memberikan kotak makanan itu kepadaku.


"Iya dek maafin kaka ya tadi sempat lupa mau ngasih ini ke kamu, ini ada roti selai buatan kaka nanti tolong kamu kasih ke nyonya dan Bi Asih ya, kamu juga boleh nyobain kok kalau mau." ucap Kal Rani dengan nada menyesal seraya memberikan kotak makanan itu kepadaku.


"Aduh engga usah repot-repot kak, aku juga rencananya mau mampir beli buah juga kok buat di kasih ke ibu." ucapku dengan nada ramah seraya menerima kotak makanan itu.


"Ini engga ngerepotin kok de, lagian udah lama juga kan kaka engga masak buat nyonya, nah ini sebagai hadiah juga dari aku buat nyonya dek." ucap Kak Rani dengan nada asantai seraya tersenyum diakhir ucapannya.


Aku lantas membalas senyuman itu dengan berkata:


"Kalau begitu terima kasih banyak ya kak, udah mau perhatian begini sama ibuku, Manda izin berangkat dulu ya, Assalamualaikum kak." ucapku seraya langsung berjalan cepat ke arah mobil.


"Ah itu biasa aja kok de, ya udah Wa'alaikumsallam dek, hati-hati di jalan ya." ucap Kak Rani sembari melambaikan tangannya setinggi bahu untuk melepas kepergianku.


Menyadari hal itu sebelum masuk ke mobil lantas membuatku segera ikut melambaikan tanganku ke arahnya lalu masuk ke mobil beberapa saat setelahnya.


Pak Yono segera melajukan mobil kami keluar dari halaman depan rumah menuju jalan umum kompleks, Kak Rani kulihat masih melambaikan tangannya hingga mobil kami keluar dari halaman rumah.

__ADS_1


Karena hari libur keadaan jalanan pun cenderung lenggang dan membuat mobil kami bisa melaju tanpa terjebak kemacetan. Seperti biasa kebanyakan waktuku di perjalanan kuhabiskan dengan melihat pemandangan kota yang kami lewati. Tapi sesaat kemudian perhatianku teralihkan oleh panggilan dari kursi depan:


"Maaf Non Manda, sebelum ke rumah sakit, apa non mau mampir ke toko lebih dahulu?" ucap Pak Yono menawarkanku apakah ingin membeli sesuatu terlebih dahulu atau tidak sebelum sampai di rumah sakit.


"Oh iya pak, nanti kalau ada kios buah kita berhenti ya." ucapku dengan nada ramah pada Pak Yono seraya menatap balik matanya dari spion tengah mobil.


"Ok siap non, nanti bapak kasih tau ya kalo ada kios buah di jalanan ini."


"Iya pak, terima kasih ya."


Perhatianku selanjutnya lalu terlalihkan pada ponselku yang tiba-tiba berbunyi dan sedikit bergetar karena sebuah notifikasi chat. Segera aku melihat notifikasi itu untuk melihat siapa pengirim chat itu, ternyata ini si Ray ya.


Duh tumben banget sih nih anak chat aku duluan, biasanya kan aku yang harus chat ke dia dulu, atau jangan-jangan si Ray sekarang....


Aduh aku mikir apaan sih, engga mungkinlah si Ray sama aku soalnya dia kan udah punya Sherly, tapi aku kok malah mikirnya kesitu sih, duh parah banget deh aku ini gumamku dalam hati sembari memejamkan kedua mataku ke arah layar ponselku. Setelah hatiku sedikit tenang aku pun mulai membuka kedua mataku dan memberanikan diri untuk membaca chat itu, eh ternyata isi chat dari Ray kayak gini:


"Assalamualaikum Man, ini aku udah selesai koreksi teksnya kamu yang hal 6 nih untuk kekurangannya masih sama kaya yang kemarin kok, khususnya di penyusunan kalimat dan pemilihan kata, tapi jangan patah semangat ya, aku yakin kalau terus dilatih kamu pasti bisa jadi penulis yang hebat kok, udah itu dulu ya dari aku. "


Ih, tuh kan aku yang kepedean, chat dari Ray ini cuma membahas tentang teksku yang dikoreksi sama dia memang aih aku seneng banget loh dikasih semangat sama dia, tapi kok kayaknya ada yang kurang di hatiku ini ya. Kenapa hatiku sepertinya tidak puas ya dengan hubungan kami yang hanya sebatas teman menulis ini. Aduh aku ini lagi mikirin apa sih, lebih baik aku segera balas chat dari dia deh, segera aku pun mengetik chat balasanku untuknya:


Sedetik sebelum aku mengirim pesan itu, aku langsung tersadar dan bergumam dalam hati, "Aduh buat apa juga ya aku tanya dia udah sarapan atau belum, memang aku ini ibu atau pacarnya apa?, orang kami cuma berteman kok, engga lebih dari itu." gumamku dalam hati seraya masih menatap ke layar ponselku. Tapi tiba-tiba dari banku kemudi Pak Yono kembali memanggilku dengan suara yang cukup keras :


"Nah itu ada kios buah non, kita berhenti di sana ya? "


Aku sepontan menjawab pertanyaannya dengan berkata:


"Iya pak kita mampir sebentar di sana ya." ucapku dengan nada ramah seraya menatap ke arah Pak Yono dari spion depan mobil.


"Oke non kalau udah berhenti nanti saya kasih tau ya."


Aku hanya kembali menganggukkan pelan kepalaku sebagai tanda mengerti dengan ucapan Pak Yono. Tapi ternyata tanpa sengaja ibu jariku menekan tombol kirim dan membuat pesan tadi terkirim sama Ray dan yang sialnya lagi sekarang si Ray lagi online lagi. Dengan segera aku menghapus pesan itu supaya Si Ray tak sempat membacanya dan lekas kembali mengetik pesan baru :


"Terima kasih banyak buat saran dan dukungannya, kamu memang sahabat nulis terbaik deh :)."


Tapi baru saja aku selesai mengetik pesan itu dan hendak mengirimnya, tiba-tiba Ray sudah mengirimkanku pesan baru yang bunyinya:

__ADS_1


"Sama-sama Man, aku juga masih harus banyak belajar lagi kok sama aku juga udah sarapan pagi kok tadi, kalau kamu sih gimana udah sarapan atau belum? "


Aku lantas mengirimkan pesan yang baru saja kuketik lalu segera kembali menulis pesan baru:


"Alhamdulillah aku juga udah sarapan pagi kok Ray."


"Oh, syukur deh aku pikir kamu mau ngajak aku buat sarapan bareng nih hehehe." ketik Ray membalas pesanku dengan sedikit bergurau.


"Hmm, kamu ternyata pengin makan bareng aku lagi ya Ray?, kenapa nih?" ketikku membalas pesan Ray dengan gurauan juga.


"Ya aku pengin dong Man, apalagi kalau kamu yang bayarin makanan sama minumannya :):)."


"Yah tuh kan, kamu ujung-ujungnya malah minta ditraktir kan, ya udah kalau gitu besok habis beli buku kita makan bareng ya nanti aku yang bayarin deh."


"Aduh enggak usah repot-repot neraktir aku Man, besok aku bayar sendiri aja masa sih ada cowok yang ditraktir cewek kan aneh dilihatnya hehehe."


"Hmm meman aneh ya, tapi engga papa Ray lagipula ini kan baru pertama kali aku bayarin kamu makan kan."


"Ini bukan yang pertama kali Man, sebelumnya kamu kan juga bayarin soto banjarku kan pas hari kamis kemarin:("


"Oh iya, iya tapi itu kan cuma tanda terima kasih buat kamu Ray, nah kalau kali ini baru bener-bener niatanku buat neraktir kamu makan."


Belum sempat aku melihat chat balasan dari Ray, tiba-tiba Pak Yono memanggilku lagi dari kursi kemudi:


"Ini non toko buahnya, silahkan non nanti bisa turun buat belanja." ucap Pak Yono sembari membelokkan mobil kami ke tempat parkir toko yang di maksud.


"Iya makasih ya pak kalau gitu, bapak mau nitip beli buah engga?, biar sekalian aku beliin deh nanti." ucapku dengan nada ramah menawarkan apakah Pak Yono ingin minta dibelikan buah tertentu.


"Aduh, kalau bapak mah engga usah dibeliin juga engga papa non, yang penting bapak bisa liat non kasih buah sama nyonya aja udah ikut seneng."


"Duh jangan begitu dong pak, Pak Yono juga kan udah aku anggap kaya pamanku sendiri jadi mana mungkin sih aku engga beliin buah juga buat bapak." ucapku tenang seraya memandang Pak Yono melalui spion tengah mobil.


"Terima kasih ya non udah anggap bapak kaya paman non sendiri, kalau gitu bapak setuju aja deh kalo non beliin buah buat bapak tapi bapak juga engga maksa harus buah apa aja ya, terserah non aja deh, Insyaallah nanti bakal bapak makan kok." ucap Pak Yono sembari masih fokus mencari tempat parkir yang kosong untuk mobil kami.


"Oke pak kalau gitu nanti Manda bakal lebihin ya beli buahnya, biar bisa di bawa pulang terus dimakan sama bapak dan Kak Rani juga." ucapku dengan nada antusias sembari melihat ke arah toko buah itu.

__ADS_1


__ADS_2