
"Saya pilih yang kedua bu."ucap Deby dengan suara lantangnya.
"Baiklah Deby berarti kamu diskorsing dari mengikuti pelajaran di sekolah selama tiga minggu."
"Hah !tiga minggu bukannya itu kelamaan bu ?"ucap Deby dengan nada protes.
"Sadarilah posisimu sebagai pelaku Deby !, atau mau ibu tambah hukumanmu menjadi lima minggu ?"ucap Ibu Rika denga nada mengancam dan aura yang sangat menekan batin Deby.
Deby yang sudah terintimidasi dengan perkataan tersebut langsung menurut dan berkata :
"Baik bu saya akan mematuhinya."ucap Deby dengan nada sopan bak abdi dalem keraton.
Bu Rika lalu bertanya kepadaku tentang pilihanku karena sendari tadi ia menanggapi perkataan Deby dan belum sempat menanyakan pilihanku. Aku lantas menjawab bahwa aku juga memilih nomor dua karena jika sampai dikeluarkan dari sekolah hanya karena menjadi korban aksi kekonyolan preman kelasmu, tentu itu akan membuat orang tuamu jantungan bukan ?. Bu Rika lalu menjelaskan lama masa skorsingku :
"Baiklah Ray karena posisimu sebagai korban maka masa skorsingmu hanya satu minggu."
__ADS_1
"HAH !, satu minggu bukankah itu terlalu singkat bu bahkan aku sampai tiga minggu."ucap Deby mengajukan protes karena merasa terzalimi oleh keputusan Bu Rika.
Menanggapi protes dari Deby, Bu Rika lantas memukul meja didepannya dengan keras seraya berkata :
"KAU INI MAU DI BERI HUKUMAN LEBIH BERAT YA DEBY!!!"ucap Bu Rika dengan nada marah kearah Deby dengan mengeluarkan aura mengerikan.
Aku dan Deby yang melihat hal tersebut langsung tahu bahwa sekarang Bu Rika sudah memasuki mode iblisnya yang sudah lama menjadi rumor di antara warga sekolah kami. Jika Bu Rika sudah memasuki mode ini maka pilihan satu-satunya untuk menenangkanya adalah menuruti perintahnya sebab jika masih melawan maka hancurlah masa sekolah kalian di sekolah ini.
Deby dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajahnya lalu mencoba menggerakan bibirnya dan berkata :
"Baik bu saya menerima hukuman yang ibu berikan sepenuh hati."
"Nah begitu ya, jangan kebanyakan protes kalau kamu memang yang bersalah !"
Dalam hati kecilnya yang marah, Deby berucap "Dasar guru iblis, pantes aja sampai sekarang engga ada yang mau nikah sama dia."seraya menunjukan ekspresi kesal di wajahnya.
__ADS_1
"Kamu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Ibu ya, Deby?"ucap Bu Rika seraya menatap kearah Deby dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Oh, tidak bu saya ini hanya sedang memikirkan nasib sial saya."ucap Deby seraya terseyum kecil untuk menyembunyikan rasa kesalnya.
"Baiklah jika begitu, masa skorsing kalian akan dimulai minggu depan sedangkan untuk surat pemberitahuan skorsing akan ibu kirimkan ke rumah kalian besok pagi."ucap Bu Rika menjelaskan pada kami dengan nada tegas.
"Baik bu kami mengerti."ucapku dan Deby dengan nada sopan diwaktu yang hampir bersamaan pula.
"Jika kalian sudah mengerti maka kalian bisa kembali ke kelas kalian."
"Baik bu Terima kasih."ucapku dan Deby seraya langsung berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Diluar kantor BK Deby lalu sempat menatapku sesaat sambil menunjukan wajah kesalnya lalu kemudian pergi berjalan ke kelas mendahuluiku. Aku cuek saja ditatap seperti itu olehnya, toh ini juga salahnya sendiri yang tidak bisa menahan gejolak darah mudanya. Aku lantas duduk termenung sesaat dikursi panjang yang ada dekat kantor BK sebelum akhirnya bel masuk istirahat pertama memaksaku untuk kembali masuk kekelas. Sesampainya di kelas aku melihat Manda sedang fokus membaca buku di mejanya, ia lantas menutup buku yang dia baca setelah melihat teman-teman kelas mulai duduk di kursi mereka masing-masing.
Pak Maulana lalu masuk ke kelas kami dan memulai pelajaran agama Islam yang menenangkan hati. Bisa dikatakan seperti itu karena seluruh siswa menikmati model pembelajarannya yang tidak membosankan dan menarik dalam menjelaskan materi-materi pelajaran. Tanpa terasa dua jam pelajaran pun berlalu dan bel istirahat kedua pun berbunyi memekakan telinga kami yang sedang menikmati pelajaran.
__ADS_1
Pak Maulana lantas mengucapkan salam penutup dan pergi meninggalkan kelas kami. Setelah beliau keluar dari pintu kelas dan sudah tak nampak dari pandangan mata, para siswa lantas berdiri dari kursinya untuk bersiap istirahat makan siang.
Manda yang sudah membereskan buka dan alat tulis yang ada dimejanya lantas menghampiriku dan mengatakan hal yang tidak pernah aku sangka akan dikatakan olehnya.