AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Episode 23 : Mulai Duluan dan Kompres Es


__ADS_3

Aku segera berangkat ke masjid setelah selesai bersiap-siap. Singkat cerita setelah selesai sholat Isya kami sekeluarga lalu melakukan makan malam bersama di meja makan yang terletak di dekat dapur.


Nia tampaknya masih marah karena perbuatanku padanya tadi sore sehingga ia pun tak menyapa atau berbicara denganku sama sekali.


Melihat tingkah Nia yang seperti itu kepadaku membuat ibu khawatir lalu berkata :


"Hayo Nia kamu kenapa nak kok diem-diem aja sih sama kakakmu?"ucap ibu dengan nada penuh perhatian.


"Engga papa kok bu, Nia Cuma lagi males aja ngobrol sama Kak Ray."ucap Nia dengan nada ketus.


"Kamu ada masalah sama kakak mu ya?"ucap ibu yang khawatir bila kedua anaknya bertengkar.


"Engga ada apa-apa kok bu cuma masalah kecil antara adik dan kakak, jadi ibu engga perlu khawatir ya."ucapku yang merasa prihatin dengan keemasan ibu.


Nia yang mendengar ucapanku lalu langsung berkata padaku dengan nada kesal :


"Udah deh Kak Ray engga usah ngomong apa-apa ke ibu, orang tadi sore Kak Ray yang mulai duluan kok."


"HAH mulai duluan!"ucap bapak kaget mendengar ucapan Nia seraya menatap tajam kearahku dengan aura yang mengerikan.


Ibu yang juga terkejut dengan ucapan Nia lalu bertanya padaku dengan perasaan khawatir maksimal di dalam hatinya :


"Maksud Nia kau mulai duluan ngapain Ray bisa jelaskan ke ibu sama bapak engga, biar kita juga tau masalahnya?"tanya ibu dengan menunjukkan wajah cemasnya.


"Bukan, bukan ini engga seperti yang dikhawatirkan bapak sama ibu kok, sebenernya tadi sore aku engga sengaja mukul Nia karena aku kira dia itu maling yang masuk rumah kita."ucapku dengan nada gugup menjelaskan pada kedua orangtuaku.

__ADS_1


"Engga sengaja apaan kak Ray, tadi itu sakit banget tau hmm!"ucap Nia dengan nada ketus kepadaku seraya memalingkan wajahnya dariku.


"Iya Nia, Kak Ray juga tau itu pasti sakit jadi kakak mau minta maaf banget sepenuh hati sama Nia ya, mau engga Nia maafin kakak?"ucapku dengan nada memohon ada Nia dan mencoba memegang tangan kanannya yang berada di dekatku.


Menyadari aku ingin menyentuh tangan kanannya Nia langsung merespon dengan berkata :


“Ih najis tau Kak Ray engga usah pegang-pegang bisa engga!, iya deh Nia maafin jadi berhenti kaya gitu dong!"ucap Nia dengan nada ketus seraya menghindarkan tangan kanannya supaya tak tersentuh olehku.


Ibu dan bapak yang masih terkejut dengan kenyataan yang ada merasa lega kedua anaknya tak sampai terjerumus ke jalan yang salah.


Mereka juga merasa kasihan pada Nia sekaligus marah atas perbuatanku pada Nia yang asal pukul saja. Bapak lalu mulai berkata :


"Aduh kalian berdua ini ya, hampir aja bapak kena serangan jantung tau."ucap bapak dengan nada kesal seraya meminum air putih.


"Iya ini Ray sama Nia kenapa bikin ibu sama bapak khawatir banget kaya tadi sih, jangan diulangi lagi ya coba sini Nia ibu liat luka pukulanmu."ucap ibu dengan penuh perhatian seraya menyuruh Nia mendekat ke arahnya.


Ibu lalu memeriksa luka pukul di kepala Nia dengan hati-hati. Setelahnya ibu lalu bertanya pada Nia dengan nada penuh kasih sayang hingga membuatku iri:


"Apa luka pukulnya masih sakit sayangku Nia?"ucap ibu sembari memandang wajah Nia yang sedang duduk dipangkuannnya.


"Sekarang udah engga terlalu terasa sakitnya bu, tapi tadi pas baru kena pukul rasanya sakit banget."ucap Nia dengan nada manja sembari menyederkan tubuhnya ke tubuh ibu.


"Sudah tenang saja ya nak, apa perlu kita kompres lukamu dengan es untuk menghilangkan bekas dari luka ini?"tanya ibu menawarkan proses penyembuhan untuk menyembuhkan luka pada Nia.


"Baikah bu, kurasa luka ini memang perlu mendapatkan kompres es."ucap Nia dengan nada malu-malu menerima tawaran dari ibu.

__ADS_1


"Kalo begitu kembalilah ke tempat dudukmu ya nak, biar ibu ambilkan kompres es untuk lukamu itu sebentar."ucap ibu dengan nada lembut meminta Nia untuk kembali ke tempat duduknya.


"Baiklah bu tapi jangan lama-lama ya bu."ucap Nia memohon dengan nada manja seraya turun dari pangkuan ibu.


"Iya Nia ibu janji engga akan lama kok, kamu tenang aja ya anakku sayang."ucap ibu seraya menepuk pelan kepala Nia lalu bediri dan berjalan ke arah dapur.


Nia lantas kembali duduk di tempat duduknya yang ada di sebelahku. Suausana saat itu sangat canggung antara kami setelah pengakuan tadi. Bapak lantas bertanya padaku untuk mencairkan suasana itu :


"Jadi Ray apa sih yang membuatmu berpikir kalo Nia itu maling ?"ucap bapak dengan nada santai.


Dengan perasaan yang masih belum tenang karena belum memperoleh kejelasan maaf dari Nia aku lantas menjawab pertanyaan bapak dengan berkata :


"Itu Karena aku curiga pak, soalnya pas aku pulang sekolah tadi pintu engga ke kunci tapi di dalem rumah kok kosong terus aku ucapin salam juga engga ada yang jawab jadi aku pikir ada maling yang lagi di dalem rumah deh."ucapku dengan nada sedikit gugup karena ada Nia di sebelahku.


"Tapi kamu bener-bener engga tau kalo Nia udah dirumah ya?"ucap bapak mempertanyakan penjelasanku.


"Iya pak, waktu itu Ray bener-bener engga tau kalo Nia udah di dalem rumah."ucapku dengan nada sopan.


Nia lantas menyela pembicaraan kami dengan berkata :


"Halah Kak Ray engga usah bohong deh, masa lupa sih kalo jam segitu aku udah dirumah."ucap Nia seraya menatapku dengan tatapan kekesalannya yang menurutku malah imut.


"Serius aku engga bohong Nia, aku tadi bener-bener lupa kalo kamu biasa pulang jam segitu terus kenapa tadi kamu engga jawab salam dari kakak?"ucapku menjelaskan dengan nada tenang dan diakhiri dengan pertanyaan.


"Aku jawab kok salam dari kakak, tapi karena lagi sholat Ashar jadi aku jawabnya pelan lah."ucap Nia menanggapi pertanyaanku dengan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Oh iya, iya tadi pas aku pukul kamu lagi pake mukenna kan."ucapku dengan nada santai sembari mengingat kembali kejadian tadi sore.


"Tuh kan udah tau pake tanya lagi, dasar kakak engga peka hmm!"ucap Nia dengan nada kesal seraya kembali memalingkan wajahnya dari hadapanku.


__ADS_2