AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Penolong yang Menyebalkan


__ADS_3

Tapi, tiba-tiba ketika harapanku sepertinya sudah menghilang, datanglah cowok asing yang kebetulan sedang lari pagi dan melihatku sedang di kejar oleh anjing ini. Cowok itu segera menghalangi anjing itu dengan


Dugg...


Menendang keras ujung kepala kepala anjing itu hingga memukul mundur langkah si anjing. Cowok berambut hitam lurus sepanjang bahu itu lantas berdiri di hadapan sang anjing untuk menghalangi si anjing dariku. Anjing hitam yang mengejarku terlihat semakin galak karena menerima tendangan tadi, maka sesaat kemudian anjing itu lantas berlari ke arah kami untuk menyerang balik dengan gigitannya. Dengan nekat cowok itu mengorbankan lengan kirinya untuk menerima gigitannya si anjing seraya


Bugg...


Ia lantas memukul keras wajah si anjing sekuat tenaga dengan tangan kanannya beberapa kali. Anjing hitam yang masih mengigit anak itu mulai merasa kesakitan dan akhirnya melepaskan gigitannya. Cowoh itu lantas membentak si anjing dengan keras:


"Hus...Hus... Pergi sana... "


seraya menggerakkan kedua tangannya menyuruh anjing hitam itu pergi. Mersa telah dikalahkan lantas membuat si anjing langsung lari ke arah awal dia mengejarku. Sendari tadi aku masih mematung di tempatku saat sejak aku melihat aksi heroik cowok misterius ini menolongku dari anjing hitam tadi. Perhatianku lantas tertuju kewajahnya setelah ia membalikkan badan sambil berkata:


"Jadi, apa kamu enggak papa ?" ucapnya dengan nada ramah seraya memandangku.


"Aku enggak pa.. pa kok..., terus ka...mu sendiri gimana?, tadi sempat kegi.. git anjing itu kan." ucapku dengan nada gugup hingga membuat beberapa kata terbata-bata.


"Oh, maksud kamu ini." ucap cowok itu dengan nada santai seraya mengangkat lengan kirinya setinggi dada.


"Iya, walaupun kamu pake jaket hoodie gitu apa tangan kamu benar-benar engga luka?" ucapku dengan nada cemas karena merasa bersalah pada cowok ini.


"Aku enggak papa kok, kamu sendiri ada yang luka engga?" ucapnya dengan nada santai seraya balik bertanya kepadaku.


"Aku sih enggak ada luka sama sekali, terima kasih ya berkat kamu aku jadi tertolong deh." ucapku dengan nada sopan sembari tersenyum ke arahnya.


"Iya bukan apa-apa kok, bukankah kita memang harus menolong orang yang sedang kesusahan." ucapnya seraya mulai membalikkan badan dan hendak melanjutkan lari paginya.


"Iya tapi tetap saja ak... "


"Aduh.. duh.. " ucap cowok itu sembari memegang lengan kirinya yang sepertinya mulai merasakan sakit dari gigitan tadi.

__ADS_1


Perkataanku terpotong oleh rintihan singkat dari cowok yang baru saja menolongku. Aku tau walaupun tertutup hoodie lengan kirinya pasti terluka karena gigitan anjing tadi. Jadi aku pun segera menghampiri cowok itu lalu berkata :


"Tuh kan, aku bilang juga apa sini lengan kirimu biar aku periksa ya." ucapku dengan nada ramah seraya menepuk pundaknya supaya dia kembali menghadap ke arahku.


Dia tak langsung menghadapkan badannya kearahku, melainkan hanya menengok ke arahku sambil berkata:


"Udah aku enggak papa kok, ini cuma luka kecil bisa aku tahan kok." ucapnya dengan nada santai.


"Ah masa sih, terus kenapa kamu sampai mengaduh tadi." ucapku dengan nada heran sama perkataannya.


"Udah ah enggak usah dibahas lagi ya, mending kamu pulang ke rumah deh soalnya aku mau lanjut lari lagi nih." ucapnya dengan nada sedikit kesal menyuruhku untuk pulang.


"Ih, kok kamu maksa gitu sih, kalo memang engga mau di bantu tinggal ngomong aja kali, aku juga mau pulang kok" ucapku dengan nada kesal seraya memalingkan wajahku karena merasa jengkel dengan perkataannya.


"Dih gitu aja kok marah, jadi cewek sensi banget sih, udah ya kalau begitu aku lanjut bye." ucapnya dengan nada ketus menanggapi ucapapanku seraya mulai berlari.


"Duh siapa sih yang sensi, kamu aja yang sombong engga mau nerima bantuanku." ucapku dengan nada ketus pula sembari masih memalingkan wajah.


Tapi baru beberapa langkah cowok itu berlari menjauh, tiba-tiba terdengar suara :


Seketika perhatianku tertuju kembali ke arah cowok itu dan aku pun terkejut ketika melihat ada bercak darah di jalan tempatnya berlari setelah berusan berbicara denganku.


Rasa bersalah pun mendorongku untuk segera menghampiri si cowok ini yang kembali terdiam di jalan sembari memegangi lengan kirinya. Segera aku menempatkan diri di hadapannya lalu berkata:


"Duh kamu ini kenapa sih, tangan kamu itu lukanya cukup parah kan?, sini biar aku periksa dulu ya." ucapku dengan nada ramah sembari ingin menyentuh lengan kirinya untuk kuperiksa.


"Ah udah engga usah sok baik deh, aku ini bukan cowok lemah tau." ucapnya dengan nada sombong seraya menghindari sentuhan tanganku.


"Oke, oke aku tau kamu engga mau disebut cowok lemah, tapi sadar sama keadaanmu sekarang dong, liat tuh lengan hoodiemu aja udah basah karena darah kan? " ucapku mencoba membuatnya mengerti keadaan lukanya yang parah.


Setelah beberapa saat terdiam sembari melihat ke lengan kirinya yang terluka,akhirnya cowok misterius ini berkata dengan nada pasrah:

__ADS_1


"Iya, iya deh aku nurut kamu deh, nih silahkan periksa lengan, tapi jangan sampai aku ngerasa kesakitan ya." ucapnya sembari mendekatkan lengan kirinya ke arahku.


"Haduh katanya bukan cowok lemah, tapi sakit sedikit kok takut sih." ucapku dengan nada menyindir seraya mulai menyentuh lengan kiri cowok ini.


"Hai takut rasa sakit itu engga ada hubungannya sama lemah atau enggak ya, atau kamu memang enggak tulus mau bantu ya."ucapnya menyangkal sindiranku dengan logika yang aneh seraya mempertanyakan ketulusanku untuk memeriksanya.


"Iya ,iya aku tulus mau meriksa lukamu kok, jadi tenang aja ya." ucapku dengan nada tenang untuk mengakhiri perdebatanku dengannya.


"Tapi janji jangan terlalu sakit ya." ucapnya dengan nada memohon.


"Iya deh aku bakal meriksa lukamu ini pelan-pelan kok." ucapku dengan nada ramah seraya mulai membuka hoddie di lengan kirinya yang tadi tergigit anjing.


Dengan perlahan aku membuka hoddie lengan kiri cowok itu untuk memeriksa lukanya. Sepersekian detik kemudian aku pun bisa melihat luka yang disebabkan oleh gigitan anjing tadi, ternyata kondisinya cukup parah. Ini di buktikan dengan darah yang masih mengalir dari bekas gigitan si anjing yang tercetak di lengan cowok ini. Aku lalu bertanya padanya:


"Apa ini sakit banget ya?" ucapku dengan nada cemas seraya memandangnya dengan wajah khawatir.


Ia yang sepertinya gugup aku tanyai begitu lantas menanggapi dengan berkata:


"Enggak terlalu sakit kok, soalnya aku kan bukan cowok cengeng." ucapnya dengan nada gugup sembari berusaha menyombongkan diri.


"Hmm, iya deh aku percaya sama kamu kok, tapi sekali lagi terima kasih ya udah mau nolong aku bahkan sampai buat kamu terluka kaya gini." ucapku dengan nada santai sembari mulai mengusap darah yang mengalir dari lukanya dengan sapu tangan yang kubawa dari rumah."


"Udah deh engga usah terlalu banyak ngucapin terima kasih, aku tadi ikhlas bantu kamu kok, luka ini mah cuma luka kecil buatku." ucapnya dengan nada santai seraya sesekali mengaduh karena aku mengusap darah di bagian lukanya.


Setelah darah yang keluar dari lukanya selesai ku usap aku pun menutup luka robeknya itu dengan sapu tanganku untuk menghambat pendarahannya. Selepas proses itu selesai aku pun berkata :


"Nah lukamu udah selesai aku periksa nih, tapi lebih baik kamu sekarang langsung pulang ke rumah ya biar lukamu itu segera dikasih antiseptik dan engga sampai kena infeksi." ucapku seraya menjauh sedikit dari tubuh cowok itu.


"Kamu benar juga sih, tapi maaf ya soalnya aku mau lanjut lari pagi lagi nih."


"Duh kenapa kamu ngotot mau lari lagi sih, padahal kan kamu udah luka separah itu."

__ADS_1


"Maaf ya mba, tapi aku ini punya target lari mingguan loh."


"Hmm, memangnya target macam apa itu?"ucapku dengan nada heran.


__ADS_2