AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Saudara Non Kandung


__ADS_3


Pak Yono lantas berkata kepadaku sesampainya mobil kami di jalan raya :


"Bapak minta maaf ya non, soalnya tadi tiba-tiba pergi ke toilet tanpa kasih tau non, makannya non tadi jadi nungguin bapak di luar kan? " ucap Pak Yono dengan nada menyesal.


"Iya pak engga papa, Manda engga marah kok tadi harus nunggu bapak di luar malah tadi Manda seneng banget deh."


"Hmm memangnya non seneng banget karena apa?, bukannya nunggu itu ngebosenin ya non? "


"Tadi pas nunggu aku jadi seneng banget pak, soalnya bisa dapet temen baru yang punya hobi sama kaya aku." ucapku dengan nada senang seraya tersenyum simpul.


"Oh jadi Non Manda udah temenan sama anak cewek yang tadi duduk di samping non ya?"


"Iya bener banget pak, malah aku sama dia udah tukeran kontak WA juga, jadinya kami bisa terus ngobrol sebagai teman." ucapku menjelaskan alasan rasa senang di hatiku saat menunggu Pak Yono tadi.


"Wah bagus deh non, kalau udah begitu kalian bakal tetap jadi teman akrab ya, tapi ngomong-ngomong non kalau bapak boleh tau, nama anak cewe tadi siapa ya? " ucap Pak Yono penasaran.


"Nama lengkapnya Nia Tri Hastari pak, tapi nama panggilannya Nia dan karena umurnya masih lebih muda dari aku, jadi aku manggil dia Dek Nia."


"Hmm jadi namanya Dek Nia ya, terus memangnya umur dek Nia ini berapa non?" ucap Pak Yono sembari masih mengemudikan mobil kami ke rumah sakit.


"Dia baru masuk SMP pak, jadi umurnya mungkin sekitar 12 atau 13 tahun."


"Wah umurnya masih jauh di bawah non ya, soalnya umur non berapa ya? 17 tahun ya non? " ucap Pak Yono bingung dengan umurku.


"Haduh salah pak, umurku baru 16 tahun kok, jadi aku sama dia selisih umurnya tiga tahun."


"Waduh ternyata engga jauh-iauh amat ya selisih umur non sama Dek Nia."


"Iya pak makannya aku jadi berasa punya sosok adik dari dia deh." ucapku seraya menatap jendela sambil kembali memikirkan Nia.


"Hmm bener juga ya non, memang kalau dipikir-pikir kalian ini memang cocok jadi adik sama kakak kan?"


"Iya menurutku juga begitu pak, kalau begini berarti walaupun anak tunggal tapi aku udah punya kakak sama adik ya pak."


"Hmm non bener juga ya, sekarang berarti non udah punya kakak sama adek ya, kalau begitu syukur deh non."


"Iya pak syukur alhamdulillah ya deh sekarang aku udah punya kakak sama adik walaupun bukan saudara kandung." ucapku dengan nada senang sembari menatap Pak Yono dari spion tengah mobil.

__ADS_1


"Ya walaupun bukan saudara kandung, yang terpenting mereka udah bisa memberikan perhatian dan pertolongan layaknya saudara kandung bagi non kan." ucap Pak Yono dengan nada bijak.


"Bener pak, aku ini bersyukur banget deh sekarang kayak udah punya kakak dan adik." ucapku dengan nada senang.


Hati Pak Yono ikut senang mendengar perkataan itu dariku karena menurutnya kehidupanku akan menjadi lebih baik jika memiliki saudara. Tanpa terasa mobil kami ternyata sudah sampai di rumah sakit tempat ibu di rawat. Pak Yono segera mengemudikan mobil kami memasuki area rumah sakit lalu mempersilakan aku untuk turun terlebih dahulu di depan pintu masuk rumah sakit dan menyuruhku untuk menunggu sebentar di loby sementara dia mencari tempat parkir bagi mobil kami. Aku lantas turun dari mobil dan memasuki loby dengan membawa buah dan kotak bekal yang tadi sudah dibawakan oleh Kak Rani.


Keadaan loby rumah sakit saat ini bisa dikatakan cukup ramai oleh beberapa orang yang hendak berobat atau juga menjenguk keluarga mereka sepertiku. Awalnya cukup sulit bagiku untuk menemukan kursi tunggu yang masih kosong, tapi untungnya kursi tunggu yang berada di sebelah pintu masuk sudah ditinggalkan beberapa orang yang tadi sempat mendudukinya, jadi dengan segera aku pun duduk di kursi tunggu itu.


Dengan sabar aku menunggu Pak Yono selesai memakirkan mobil sembari duduk di kursi tunggu loby rumah sakit dan sesekali melihat orang-orang yang silih berganti berjalan di jangkauan pandanganku. Tak lama kemudian, Pak Yono pun memasuki loby dan langsung menghampiriku lalu berkata:


"Maaf ya non kalau misalnya tadi agak lama, soalnya tadi tempat parkir agak penuh sih." ucap Pak Yono dengan nada menyesal.


"Udah engga papa pak, yang penting bapak bisa parkirin mobilnya kan?"


"Terima kasih ya Non Manda."


"Iya sama-sama pak, kalau begitu sekarang kita langsung ke kamarnya ibuku yuk."


"Iya non, tapi pertama kita harus isi daftar tamu di resepsionis rumah sakit dulu sebelum naik."


"Iya pak, aku udah tau tentang hal itu kok, tapi aku kan nunggu bapak selesai parkirin mobil biar kita bisa bareng naik ke atasnya."


"Ya ampun jangan jadi sedih begitu dong pak, sikapku ini menurutku biasa aja kok, udah yuk sekarang kita ke resepsionis dulu." ajakku pada Pak Yono sembari mulai berdiri dari tempat dudukku dan menghadap ke arah meja resepsionis yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kami saat ini.


Dengan segera Pak Yono mengusap sesaat wajahnya lalu menganggukan kepalanya sekali sebagai tanda dia menerima ajakanku.Aku pun tersenyum sesaat lalu segera berjalan ke arah meja resepsionis untuk menuliskan namaku di daftar kunjungan rumah sakit ini. Tapi tiba-tiba Pak Yono berkata :


"Sini Non Manda, buah-buahan sama kotak bekalnya biar bapak yang bawain sampai kamar Nyonya Muna." ucap Pak Yono dengan nada ramah menawarkan bantuannya kepadaku.


Karena tanganku mulai merasa lelah juga rasanya tak sampai hati rasanya jika aku menolak sepenuhnya tawaran bantuan dari Pak Yono, jadi aku pun berkata:


"Oh iya deh pak, kalau gitu nih bapak bawa buah-buahan ini ya, kalau kotak makannya biar tetap aku bawa supaya bapak engga kerepotan nantinya." ucapku sembari memberikan bungkusan buah-buahan yang sendari tadi aku bawa.


"Apa iya non maunya begini, misalnya Non manda minta bapak buat bawain kotak makanannya juga, bapak Insyaallah masih bisa kok non."


"Iya pak aku mintanya kaya gini aja, soalnya aku juga enggak mau bikin bapak lebih repot dari ini."


"Oke deh non, kalau itu permintaan Non Manda, bapak cuma bisa menurutinya."


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan terakhir dari Pak Yono dan kembali meneruskan langkahku ke meja resepsionis yang sekarang kondisinya cukup lenggang karena tidak ada orang yang mengantri atau berada di depannya.

__ADS_1


Sementara Pak Yono mengikuti di belakangku sesampainya di meja resepsionis sang resepsionis yang bernama Agustina Faye lalu berkata:


"Apa ada yang bisa saya bantu dek?" ucapnya dengan nada ramah kepadaku.


"Iya begini mba, saya mau jenguk ibu saya yang dirawat disini."


"Kalau adek ingin menjenguk pasien silahkan isi buku kunjungan tamu ini ya." ucap Suster Faye seraya memberikan sebuah buku tamu dan pulpen kepadaku.


Tanpa menunggu lama akupun lantas menuliskan nama dan juga alamatku juga Pak Yono di buku itu. Awalnya Pak Yono mengira bahwa dia harus menulis sendiri namanya, tapi aku pun segera berkata:


"Udah Pak Yono engga usah nulis nama di buku tamu lagi ya, soalnya ini udah Manda sekalian tulisin juga."


"Oh ya udah deh, terima kasih ya non."


"Sama-sama pak, ini bukan apa-apa kok."


Segera aku serahkan buku tamu itu kembali ke Suster Faye setelah aku selesai menuliskan namaku dan Pak Yono di buku itu. Suster Faye lantas memeriksa tulisanku sesaat lalu berkata:


"Baiklah sepertinya data kalian sudah cukup tertulis di buku ini, kalau begitu silahkan membesuk ibumu ya dek, ini kartu kunjungan bagi tamu." ucap Suster Faye sembari memberikan kartu kunjungan pasien kepada kami.


"Terima kasih suster." ucapku dengan nada ramah seraya tersenyum ke arahnya.


"Iya dek, tapi nanti segera pulang ya kalau sudah di batas jam besuk siang ini."


"Iya sus, tapi kalau boleh tau batas jam besuk siang ini sampai jam berapa ya?, suster." ucapku dengan nada sopan.


"Oh, untuk batas jam besuk siang ini sampai jam setengah satu siang dek, soalnya setelah jam itu kami memprioritaskan para pasien supaya bisa beristirahat lagi." ucap Suster Faye menjelaskan alasan dari di batasinya jam besuk pasien.


"Hmm jadi begitu ya sus, kalau begitu nanti aku usahakan buat segera pulang deh kalo waktu besuknya udah habis."


"Kalau begitu terima kasih ya dek, udah mau menuruti aturan kami."


"Sama-sama sus, aku cuma mau ibu cepat sehat kok dengan istirahat yang cukup."


"Wah kamu perhatian banget sama ibumu ya dek, kalau begitu semoga ibumu cepat sembuh ya." ucap Suster Faye dengan nada ramah.


"Terima kasih buat doanya sus, kalau begitu sekarang saya mau langsung ke kamar ibu ya."


"Iya sama-sama dek, salam buat ibu kamu ya."

__ADS_1


Aku menanggapi perkataan Suster Faye dengan senyuman dan bergegas menaiki lift bersama Pak Yono untuk naik ke lantai tiga tempat kamar rawat inap ibu berada.


__ADS_2