AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Episode 33 : Perasaan Sesak Ini


__ADS_3

Jika sebelumnya pandangannya padaku penuh dengan kehangatan dan keceriaan, tapi saat ini dia malah memandangku dengan pandangan malas dan dingin layaknya melihat seorang cowok playboy cap kaki tiga.


Aku tentu saja tidak suka jika ia memandangku seperti itu, jadi aku pun berniat untuk menanyakan apa alasannya sampai memandangku seperti itu :


"Nia kenapa ka.... "


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Nia segera memotongnya dengan berkata :


"Nia engga pernah punya kakak yang di skors. "ucapnya dengan nada dingin seraya berjalan meninggalkanku menuju ruang keluarga.


Aku sempat terpaku beberapa saat di tempatku berdiri saat ini karena baru saja mendengar ucapan kekecewaan dari Nia kepadaku sebagai kakaknya.


Hatiku langsung gundah ketika menyadari bahwa Nia telah merasa kecewa padaku saat ini. Jadi sekarang bagaimana caranya agar dia mau kembali percaya kepadaku ya?. Aku cukup lama berdiri mematung di tempatku karena memikirkan hal itu, hingga akhirnya ada suara yang menyadarkanku kembali :


"Hai Ray, kamu ngapain berdiri di situ terus?, katanya mau sholat ashar, nanti keburu waktunya habis loh." ucap bapak yang melihat aku tak bergerak cukup lama dari tempatku berdiri saat ini.


Segera aku menanggapi ucapan bapak dengan berkata :


"Iya pak, ini Ray mau langsung sholat ashar di kamar."ucapku dengan nada gugup seraya mulai berjalan ke kamarku.


"Iya udah sana buruan sholat ya jangan kelamaan ngelamun lagi." ucap bapak memberiku nasihat jarak jauh.


"Iya pak, terima kasih untuk nasihatnya." ucapku seraya menutup pintu kamar ketika aku telah masuk ke dalamnya.


Dalam kamar aku segera mendirikan sholat ashar dengan berusaha memfokuskan hati dan pikiranku sepenuhnya kepada Allah SWT dan sejenak melupakan seluruh kejadian yang telah aku alami hari ini. Baik ketika di sekolah ataupun di rumah.

__ADS_1


Point of View Mandalina Dwi Pratiwi


Entah kenapa dadaku ini terasa sangat sesak ya, ketika aku melihat kedua sahabatku, Ray dan Sherly. Berpelukan dengan mesra di belakang sekolah beberapa saat yang lalu.



Air mataku juga tanpa sadar telah menetes di kedua pipiku saat melihat mereka melakukan hal itu. Perasaan apa yang sebenarnya membuatku jadi begini ya?, bukankah aku harusnya ikut seneng kalo tau Ray dan Sherly akhirnya jadian.


Tapi kok hatiku kayak engga terima sama keadaan ini ya. Perasaan itu terus menghantui hatiku hingga akhirnya aku naik ke dalam mobil yang menjemputku untuk pulang dari sekolah.


Aku lalu memasuki mobil tanpa berkata apapun dan langsung termenung melihat panorama kota dari balik kaca jendela. Hingga perhatianku teralihkan oleh supir keluargaku, Pak Yono yang tiba-tiba menyapaku dengan berkata :


"Kok diem-diem aja Non Manda, lagi ada masalah di sekolah ya ?" ucap Pak Yono dengan nada ramah sembari masih mengemudikan mobil jemputanku.


Aku segera mengalihkan pandanganku ke kursi kemudi lalu berkata dengan nada santai :


Pak Yono lalu berdeham sesaat kemudian berkata padaku :


"Kalo misalnya ada tugas yang susah, Non Manda nanti bisa minta tolong sama Rani aja nanti di rumah, kan dia udah kuliah." ucap Pak Yono menawarkanku bantuan untuk belajar dengan anaknya yang juga ikut bekerja di rumahku.


"Ah engga usah repot-repot pak, soalnya Kak Rani juga kan sebagai mahasiswi pasti punya tugas yang lebih penting daripada harus ngajarin Manda." ucapku menolak halus tawaran Pak Yono karena tak mau merepotkan Kak Rani.


"Haduh Non Manda ini memang baik hati seperti biasanya ya, tapi non Kak Rani bisakuliah juga kan karena biaya dari bapaknya Non Manda sebagai majikan saya, jadi saya yakin Rani pasti dengan senang hati mau membantu tugas Non Manda sesulit apapun itu."


"Oh iya deh pak, kalau begitu nanti Manda bakal coba buat minta di ajarin sama Kak Rani buat ngerjain tugas ini." ucapku dengan nada senang untuk menghentikan Pak Yono mengungkit lebih jauh tentang beasiswa yang diberikan ayahku ke Kak Rani.

__ADS_1


Pak Yono hanya tersenyum kecil menanggapi perkataanku itu. Aku bisa mengetahuinya karena melihat pantulan dari senyumannya itu di kaca spion depan mobil keluargaku. Aku lau segera berkata kembali kepadanya:


"Pak Yono nanti bisa engga kita jenguk ibu dulu di rumah sakit sebelum pulang ke rumah ?"


"Oh iya non, kebetulan saya juga disuruh Bi Asih untuk membawakan baju bersih nyonya Muna ke rumah sakit." ucap Pak Yono dengan nada sopan seraya melihatku dari spion depan mobil.


"Oke kalau begitu kita ke rumah sakit dulu ya pak." ucapku dengan nada senang.


"Siap non, kayaknya Non Manda udah kangen banget sama nyonya ya?" ucap Pak Yono bertanya menanggapi perkataanku.


"Iya pak, aku ini udah kangen banget sama ibu soalnya ibu adalah orang yang paling meyayangi dan mengerti keadaanku." ucapku dengan nada sopan menjawab pertanyaan Pak Yono.


"Bener juga ya non, soalnya orang tua non yang di rumah kan cuma nyonya ya, jadi pasti non pengin banget ketemu sama nyonya ya."


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Yono itu. Sekarang aku memilih untuk tak membicarakan hal itu lagi karena tak ingin mengingat sosok pria yang selama ini mengasingkan keberadaannya dari ibu dan aku sebagai istri dan anaknya sendiri. Semua itu dia lakukan hanya demi membangun kerajaan bisnisnya di negeri ini yang menurutku tak berguna sama sekali. Memang karena usahanya itu kehidupan keluarga kami sangat berkecukupan, tapi aku lebih memilih dengan kehadiran sosoknya sebagai ayah di keluarga kami dibandingkan dengan seluruh harta yang selama ini dikirimkannya untuk membiyayai kehidupanku dan ibu.


Tanpa aku sadari karena memikirkan sosok pria itu, ternyata mobil yang aku naiki saat ini telah masuk ke area rumah sakit tempat ibu dirawat. Segera aku melepaskan sabuk pengamanku dan turun dari mobil setelah mobil jemputanku benar-benar sudah terparkir di parkir basement rumah sakit.


Aku sebenarnya ingin segera masuk ke rumah sakit dan menemui ibu, tapi aku harus menunda sebentar niatanku itu karena sebagai anak yang sopan dan baik, tak pantas rasanya jika aku langsung masuk tanpa menunggu Pak Yono yang saat ini sedang mengambil tas berisi baju bersih untuk ibu yang ditaruhnya di bagasi mobil.


Setelah Pak Yono mengambil tas itu, kami segera memasuki rumah sakit tempat ibuku dirawat. Pak Yono jalan terlebih dahulu dan aku berjalan mengikuti di belakangnya. Ini aku lakukan karena bagaimanapun sebagai anak muda harus menghormati keberadaan orang yang lebih tua darinya kan. Kami sempat berhenti di resepsionis rumah sakit untuk meminta izin membesuk ibuku.


Resepsionis rumah sakit itu lalu menjelaskan bahwa kami di perbolehkan membesuk tapi dengan ketentuan harus keluar ruang rawat inap ketika pukul enam sore nanti. Ini bertujuan supaya pasien bisa mulai beristirahat di malam hari tanpa terganggu. Kami memaklumi ketentuan tersebut dan segera menyelesaikan pembuatan surat izin membesuk pasien.


Setelah surat izin kami dapatkan, segera aku dan Pak Yono menaiki lift menuju kamar rawat inap ibuku yang berada di lantai tiga. Aku sangat merindukan ibuku saat ini, terlebih ini pertemuanku dengannya lagi setelah empat hari yang lalu. Perasaan rindu ini lantas membuatku segera berjalan dengan langkah cepat sesampainya kami di lantai tiga.

__ADS_1


Pak Yono hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuanku itu karena dia juga memaklumi perasaan rinduku pada ibu.


__ADS_2