
Menyadari tatapan mataku yang tiba-tiba berubah langsung membuat ibu bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiranku saat ini. Jadi dia lantas mengajakku kembali bicara dengan berkata:
"Ray, Ray kamu engga papa kan?" ucap Ibu dengan nada tegas untuk menyadarkanku.
Pikiranku segera kembali teralihkan pada pembicaraan ini dan membuatku segera menanggapi perkataan ibu dengan berkata:
"Oh, iya Ray enggak papa kok bu, cuma tadi sedikit kaget aja setelah tau nama anaknya temen ibu."
"Hemm jadi begitu ya, tapi ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kamu ngelamun sih pas ibu ngasih tau nama anaknya temen ibu itu dhe Mandalina, atau jangan-jangan kamu udah temenan sama dia ya di sekolah? " ucap ibu dengan nada heran seraya memberikan pertanyaan gak penting di akhir ucapannya.
Hati dan pikiranku lantas mengalami kekacauan fungsi karena kebingungan menjawab pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh ibu. Ini karena sulit sekali untukku mengaku pada ibu kalau saat ini hubungan antara aku dan Manda mungkin sudah bisa dikatakan sebagai seorang teman. Jadi aku pun berusaha menutupi hal tersebut dengan berkata:
"Aku cuma tau anaknya bu, tapi belum ada hubungan apapun diantara kami."
"Oh jadi kamu udah kenal sama dhe Manda ya nak, terus kenapa kamu bisa kenal sama dia ?, kalian udah kenalan ya." ucap ibu dengan nada antusias.
Aku lantas menunjukkan ekspresi wajah datar lalu mulai menanggapi pertanyaan ibu dengan berkata:
"Gimana Ray engga kenal bu, orang Manda itu cewek paling populer di sekolah kok." ucapku dengan nada santai mengakui kenyataan itu.
"Oh jadi, dhe Manda siswi paling populer di sekolah ya, wajar sih dari penampilannya juga udah ketebak ya." ucap ibu dengan nada sedikit terkejut seraya kembali teringat dengan penampilan dari Manda yang baru tadi sore dikenalnya.
__ADS_1
"Tuh, ibu udah tau sendiri kan alasannya dia bisa jadi cewek paling populer di sekolahku?" ucapku dengan nada santai memberikan pertanyaan yang mendesak ibu untuk mengakuinya.
"Iya Ray, ibu akui dhe Manda itu anaknya memang cantik, pakaiannya bagus, kelakuannya sopan lagi sama kami sebagai teman-teman ibunya." ucap ibu dengan nada tenang mengakui beberapa keunggulan dari Manda.
"Nah itu ibu udah tau alasannya, udah yah kalo gitu Ray mau baca-baca buku di kamar." ucapku dengan nada datar seraya berdiri dari kursiku dan hendak beranjak meninggalkan ibu di meja makan ini.
Melihatku yang hendak beranjak dari kursi dan menghentikan pembicaraan kami, refleks ibu segera mencegah tindakanku itu dengan berkata:
"Ehh, tunggu dulu dong Ray, ibu masih mau ngomong sama kamu kok." ucap ibu dengan nada memohon supaya aku tetap mengobrol bersamanya di meja makan.
"Aduh mau ngomong apa lagi sih bu." ucapku dengan nada malas seraya terpaksa menghentikan langkahku dan kembali duduk di kursi.
"Sabar dulu dong Ray, ada yang mau ibu ngomongin ke kamu tentang Manda nih."ucap ibu dengan nada tenang mencoba membujukku untuk bisa melanjutkan pembicaraan ini.
"Nah begitu dong Ray, kamu kan anak ibu yang penurut." ucap ibu memujiku supaya menyakinkan hatiku untuk rela menanggapi pembicaraannya lagi.
"Udah ah bu, engga usah muji-muji Ray segala, jadi memangnya apa yang mau ibu omongin tentang Manda sama aku?" ucapku dengan nada lugas segera ingin tau maksud sebenarnya dari pembicaraan ini.
"Aduh, sabar dulu dong Ray, jadi begini tadi temen kuliah ibu dulu yang sekarang jadi ibunya dhe Manda, Munalisa Pratiwi curhat sama ibu Ray, tentang dia sama dhe Manda yang di asingkan sama suaminya atau ayahnya dhe Manda, terus setelah tau kalo kamu dan dhe Manda satu sekolah, dia bilang ke ibu bahwa kalo bisa kamu bisa jadi teman baiknya dhe Manda ya." ucap ibu menjelaskan dengan nada tenang secara padat dan rinkas kepadaku.
"Emm tunggu sebentar bu, maksud ibu, Manda sama ibunya diasingkan ayahnya itu gimana ya? " ucapku dengan nada penasaran meminta penjelasan lebih detail pada ibu.
__ADS_1
Ibu sempat menghela nafas sejenak karena merasa tak sampai hati untuk mengatakan hal itu kepadaku, tapi akhirnya ibu buka suara dengan mengatakan:
"Maksudnya di asingkan itu Ray, ayahnya dhe Manda jarang pulang ke rumah karena ngurusin bisnisnya, terus kalo pulang juga engga pernah mau ngomongin urusan bisnisnya sama keluarga, pokoknya dia cuek banget deh sama istri dan anak perempuannya dirumah." ucap ibu menjelaskan dengan rasa empati dalam hatinya.
Hatiku sempat tak percaya bahwa ternyata kehidupan Manda yang kelihatannya bahagia rupanya hanya ilusi cermin satu arah bagi orang-orang awam yang sebatas mengenalnya ketika ia berada di sekolah. Manda memang tak pernah mengumbar masalah kehidupan pribadinya itu di sekolah, bahkan sahabat terdekatnya, Sherly juga belum tau tentang pahitnya kehidupan keluarga dari seorang Mandalina Dwi Pratiwi.
Rasa iba seketika merebak dalam hatiku karena ingin sebisa mungkin membantu Manda keluar dari keadaan pahit itu, tapi apa yang aku bisa saat ini hanya sebatas mengkoreksi teks buatannya dan menjadi teman menulisnya saja, tak lebih dari itu. Aku lalu kembali menanggapi perkataan ibu dengan berkata:
"Jadi separah itu ya bu, kehidupan keluarganya Manda, terus ibu mau aku ngelakuin apa setelah ini? " ucapku dengan nada santai seraya menahan rasa iba di dalam hati.
"Bener kan Ray, ternyata dhe Manda itu kehidupan keluarganya engga sebagus keluarga kita loh, maka dari itu bisa engga kamu jadi teman akrab dia di sekolah?" ucap ibu dengan nada prihatin seraya meminta sesuatu kepadaku.
"Iya deh kalo gitu Ray akan coba buat temenan sama Manda ya, tapi mungkin belum bisa secepatnya jadi temen akrab bu." ucapku dengan nada tenang menanggapi permintaan ibu.
"Iya engga papa kok Ray, ibu tau pasti juga susah untuk bisa jadi teman akrab seorang cewek kan?, apalagi kamu kan anaknya agak susah buat bergaul kan." ucap ibu memaklumi kekuranganku.
"Nah itu ibu udah tau alasannya kan, kalau begitu Ray izin ke kamar ya bu, mau baca-baca buku lagi nih." ucapku santai seraya berdiri dari kursiku.
"Ya udah silahkan Ray, terima kasih udah mau ibu ajak ngobrol ya."
"Ah, biasa aja kok bu." ucapku seraya mulai melangkahkan kaki ke kamar.
__ADS_1
Kurebahkan ragaku diatas kasur sesampainya aku di dalam kamarku. Sembari melihat warna biru muda dari langit-langit kamarku, aku lantas kembali memikirkan permintaan ibu yang menyuruhku untuk berteman akrab dengan Manda.