AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Kejutan saat Membesuk Ibu


__ADS_3

Setibanya aku di depan kamar rawat inap ibu, segera aku menggenggam gagang pintu kamar tersebut lalu membukanya perlahan sembari berkata:


"Assalamualaikum, Manda dateng jenguk ibu nih."ucapku dengan nada sopan seraya melihat ke arah tempat tidur ibu.


Awalnya aku cukup kaget ketika tau ternyata saat ini ada beberapa wanita dewasa sedang mengobrol dengan ibu yang sedang duduk di kasur perawatannya, sementara Bi Asih dan mereka duduk di kursi- kursi lipat yang letaknya di samping kanan dan kiri kasur Ibu. Ibuku yang saat itu tengah berbincang dengan beberapa orang yang menjenguknya lantas menyadari kehadiranku lalu menanggapi ucapan salamku dengan berkata :


"Waalaikumsallam, eh anak kesayangan ibu dateng nih, ayo nak kamu kesini dulu." ucap ibu dengan nada ramah seraya menyuruhku mendekat kepadanya.


"Iya bu, ini Manda mau kesana."ucapku dengan nada sopan seraya mulai berjalan menuju ke kasur perawatan ibu.


Para wanita yang sedang menjenguk ibu hanya tersenyum kecil ke arahku saat aku berjalan mendekat ke arah mereka. Sementara Bi Asih segera memohon izin pada ibu lalu menghampiri Pak Yono yang datang ke ruang itu tak lama setelah kedatanganku.


Sesampainya aku di samping kasur ibu, dengan segera aku mengecup tangannya lalu kulanjutkan juga mengecup tangan para wanita itu. Selepas aku selesai melakukan hal itu ibuku lalu berbicara pada para wanita yang sedang menjenguknya itu dengan berkata:


"Perkenalan teman-teman, ini anak perempuan sematawayangku namanya Mandalina Dwi Pratiwi atau biasanya aku panggil Manda."ucap Ibu dengan nada ramah.


Segera aku menambahkan ucapan ibu dengan berkata :


"Iya Tante, perkenalkan saya Mandalina Dwi Pratiwi putri sematawayangnya Ibu Munalisa Pratiwi, salam kenal ya." ucapku dengan nada sopan.


Ketiga teman ibu lalu menanggapi perkataanku dengan berkata :


"Salam kenal juga Dek Manda."ucap mereka di waktu yang hampir bersamaan.


Mereka lalu memperkenalkan dirinya satu persatu kepadaku dan rupanya mereka adalah teman-teman kuliah ibu ketika dia masih berkuliah dahulu. Mereka juga sangat akrab ketika berbicara dengan ibu hingga akupun bisa memastikan bahwa mereka pasti sosok seorang sahabat dari ibuku di masa kuliahnya. Tiba-tiba salah satu dari mereka berkata kepada ibu :

__ADS_1


"Mun anakmu ini cantik banget ya, persis deh kaya kamu waktu masih kuliah dulu." ucap sahabat ibu dengan nada ramah memuji parasku yang menurutku tak secantik ibu.


Salah satu sahabat ibu yang lain lalu menambahkan perkataan temannya dengan berkata:


"Iya nih Mun, anak gadismu ini bener-bener pas deh kalo aku jadiin menantu hehehe."canda sahabat ibu yang lain dengan nada santai.


Sontak kami semua tersenyum setelah mendengar candaan dari salah satu sahabat ibu yang bernama Ibu Rena. Ibu lalu menanggapi perkataan sahabat-sahabatnya dengan berkata:


"Haduh, terima kasih untuk pujiannya ya teman-teman, tapi anakku ini masih harus banyak belajar lagi kok, apalagi buat bisa jadi seorang menantu buat kamu Rena."ucap Ibu dengan nada santai.


"Bener kata ibuku tante, Manda memang masih harus banyak belajar untuk jadi seorang istri yang baik seperti ibu."ucapku dengan nada sopan menambahkan ucapan ibu seraya memandang ke arah teman-temannya.


Setelah mendengar ucapanku itu, awalnya teman-teman ibu sesaat saling berpandangan lalu merekapun saling tersenyum kecil dan kembali memandang ke arahku. Ibu Rena yang terlihat paling cantik diantara mereka lalu berkata padaku:


"Kamu jangan merendahkan diri ya nak Manda, kami yakin kamu pasti bisa kok menjadi seorang istri seperti ibumu di masa depan nanti."ucap Ibu Rena dengan nada ramah.


"Aku juga yakin kok, suatu saat nak Manda ini pasti bisa memiliki keanggunan dan kebaikan Bu Muna sebagai seorang istri deh." ucap Ibu Dewia teman ibu yang ketiga.


"Terima kasih untuk dukungannya tante-tante semua, Manda merasa senang sekali bisa mendapat dukungan dari teman-teman ibu."ucapku dengan nada sopan seraya sedikit membungkukkan badanku ke arah mereka bertiga.


Melihat tindakanku yang seperti itu lantas membuat teman-teman ibuku merasa terkejut, Ibu Renapun segera berkata dengan nada ramah :


"Sudahlah nak Manda tak perlu terlalu formal begitu kepada kami, santai saja dan anggaplah kami sebagai ibumu juga ya."


"Tentu saja tante Rena, bagi Manda kalian ini harus Manda hormati seperti menghormati ibu." ucapku dengan nada sopan seraya kembali mengangkat badanku yang sebelumnya sedikit tertunduk.

__ADS_1


Teman-teman ibu hanya bisa saling tersenyum setelah mendengar perkataanku itu. Kami lalu berbincang beberapa saat dengan suasana riang dan ceria. Aku lalu diajak ngobrol oleh Ibu Ria dan Ibu Dewia di sofa tamu ruang rawat ibuku.


Mungkin karena mereka merasa kasihan melihatku terus berdiri di samping kasur ibu sejak masuk ke ruangan ini. Sementara Ibuku masih berbincara dengan Ibu Rena tentang masa lalu mereka, hingga ibuku berkata:


"Jadi apa kamu serius Ren, waktu bilang kalo mau jadiin anakku jadi menantumu?" ucap Ibu dengan nada serius pada Ibu Rena.


Ibu Rena yang awalnya cukup terkejut dengan pertanyaan dari ibu lalu menanggapinya dengan berkata :


"Iya aku pasti mau dong Mun punya menantu secantik anakmu itu, tapi aku enggak mau memaksakan kehendakku ini ke kamu atau anakmu, toh anakmu juga pasti punya cowok pilihannya sendiri kan? " ucap Ibu Rena dengan nada santai seraya memegang lembut tangan kanan ibu.


"Aku enggak keberatan kok Ren, misalnya kamu mau menjodohkan anakku dengan anakmu soalnya di masa depan nanti aku ingin melihat dia lebih bahagia daripada diriku saat ini."


"Hus, kamu ini ngomong apaan sih Mun, bukankah kehidupanmu sekarang udah bahagia ya? "


"Kamu salah Ren, sekarang aku udah tau bahwa banyaknya harta itu tidak menjadikan kehidupan seseorang bisa bahagia."


"Memangnya kenapa kamu sampai bisa mengatakan itu Mun? "


"Aku bisa berkata begitu karena aku sudah merasakannya Ren, saat-saat dimana suamiku lebih mementingkan bisnisnya dibandingkan keluarganya sendiri karena itulah kehadiran Manda adalah alasanku masih sedikit merasakan kebahagiaan sampai saat ini."


"Hah, aku enggak habis pikir jadi ternyata suamimu si Dwi Candra itu tega melakukan hal sejahat itu ke keluarganya sendiri ya."


"Bener banget Ren, aku juga engga percaya kenapa sifatnya sekarang ini sangat dingin bahkan kepada aku dan Manda sebagai istri dan anaknya sendiri."


"Tapi aku lihat dulu saat kalian masih pacaran di kampus, hubungan kalian tampak baik-baik saja deh, kenapa bisa jadi begini keadaannya Mun? " ucap Ibu Rena dengan nada heran.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau Ren, sifat hangat dan perhatian Dwi kepadaku perlahan mulai memudar sesudah kami menikah terlebih setelah aku melahirkan Manda, bahkan ketika Manda berusia lima tahun ia belum pernah melihat wajah ayahnya sendiri." ucap ibu dengan nada sedih seraya menahan air matanya yang bisa menetes kapan saja dari pelupuk matanya.


__ADS_2