
"Siap Man aku janji engga bakal ngelakuin hal itu lagi, terus kamu mau ngobrol apaan sama aku disini?"
"Jadi begini Ray, kamu udah liat novelku yang aku kirim ke WA mu semalem ?"
"Iya aku udah liat tapi belum sempat baca sih, memangnya ada masalah apa?"
“Dasar kamu Ray, sempetin baca dulu dong novel buatanku jadi kamu kan bisa menilai kesalahannya dimana ?"
"Memangnya kamu pikir di novel yang kamu tulis ada kesalahan Man ?"
"Aku juga engga tau Ray makannya aku suruh kamu buat menilai, tapi aku kok rada-rada mual ya ngebaca tulisanku sendiri."
"HAH Masa sih! kamu di hamili tulisanmu sendiri ya ?"ucapku pada Manda dengan nada kaget.
Sesaat kemudian tamparan keras Manda sudah mendarat di pipi kananku
PLAK!
Menerima hal itu membuatku langsung berseru :
"AW! Sakit Manda kamu ini kenapa ?"
"Yang engga beres itu kamu Ray!, aku lagi ngomong serius juga malah di bales pake omongan gak jelas."ucap Manda dengan nada kesal karena ucapan ngawur dariku.
"Ok, ok maaf ya udah ngomong sembarangan lagi."ucapku memohon maaf pada Manda karena sadar bahwa ucapanku tadi memang kurang ajar sih.
"Iya aku maafin deh, tapi jangan ngomong kek gitu lagi ya."
"Ok siap Man, jadi kamu ngerasa kaya gitu pas ngebaca tulisanmu karena apa?"
"Aku juga engga tau Ray, tapi kok kalau dilihat-lihat teks yang aku tulis dari dua minggu yang lalu engga enak banget buat di baca ya."
"Bisa kamu tunjukkan teksnya ke aku ?"
"Coba aja kamu liat di WA kamu, soalnya teksnya udah aku kirim semalem ke nomormu."
__ADS_1
"Oh, ok kalau gitu jadi teks yang kamu kirim tadi malem itu seluruh teks yang udah kamu tulis ya ?"
"Iya Ray aku kirim semuanya biar dikoreksi total sama kamu, tapi ternyata kamunya belum sempet baca."ucap Manda seraya menunjukan ekspresi kekesalannya.
"Iya maaf Man jadi jangan marah ya ini mau aku baca, tapi sebelum aku baca teks mu ada yang mau omongin sama kamu."
"Hah, ngomongin masalah apa Ray ?"
"Begini Man, jadi sebaiknya kalau kamu kirim softcopy atau file tulisanmu ke orang lain sebaiknya ubah dulu formatnya dari word ke pdf."
"Ubah format filenya ya Ray?, memang itu gunanya buat apa?"
"Jadi begini Man, dengan kita mengubah format file tulisan kita dari word ke pdf tingkat kemungkinan seseorang untuk melakukan plagiarisasi pada tulisan kita akan menurun, kamu tau kan maksud plagiarisasi?"
"Oh, iya Ray jadi maksudmu kalo format file tulisan kita pdf kemungkinan seseorang buat copy paste tulisan kita jadi menurun ?"
"Iya itu yang aku maksud, kan sakit rasanya kalo kita udah susah-susah buat karya terus tiba-tiba ada orang yang copy paste karya kita seenaknya tanpa izin."
"Kamu bener juga ya Ray, pasti sakit rasanya kalo tulisan kita di copy paste seenaknya sama orang lain tanpa sepengetahuan kita."
"Benar kan, jadi sebagai tindakan pencegahan dari hal itu alangkah baiknya jika kita waspada dengan tidak mudah mengirim softcopy naskah kita dan mengubah formatnya kalau memang harus dikirim."ucapku memberikan nasihat pada Manda layaknya seorang profesional.
"Tunggu bentar ya, aku liat dahulu seberapa banyak naskah yang sudah kamu tulis."ucapku seraya melihat file naskah yang dikirimkan Manda ke kontak WA ku.
Tapi setelah aku melihatnya sekilas, ternyata sudah cukup banyak juga lembar naskah yang ditulis oleh Manda. Aku lantas mengira-ngira waktu yang kubutuhkan untuk membaca semuanya dan akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku tidak bisa membaca semua teks itu malam ini. Jadi aku berkata pada Manda:
"Begini Man karena naskah yang udah kamu tulis cukup banyak sekitar 15 halaman, jadi mungkin aku baru bisa selesai membaca dan mengoreksi semuanya minggu depan."
"HAH !, sampai minggu depan ya apa memang harus selama itu Ray?"
"Maafkan ya Man, tapi karena pengalamanku untuk mengoreksi teks masih rendah jadi perlu waktu yang agak lama deh. "
"Oh iya deh aku maklumi alasanmu Ray."ucap Manda dengan nada sedikit kecewa.
"Tapi tenang saja Man aku akan berikan hasil penilaianku besok pagi untuk beberapa halaman awal dari naskahmu jadi jangan murung ya."
__ADS_1
"Benarkah itu Ray, syukurlah aku tak perlu menunggu lama untuk bisa memperbaiki naskahku."ucap Manda dengan menunjukan wajah imut antusiasnya dengan perasaan senang.
"Jadi kau sudah tak sabar untuk menulis naskahmu lagi ya ?"ucapku pada Manda yang terlihat sangat antusias itu.
"Tentu saja Ray, aku ingin segera melanjutkan naskahku supaya bisa lekas diterbitkan."
"Diterbitkan ya?, kau punya semangat yang bagus ya."
"Iya Ray, bukankah wajar bagi setiap penulis novel ingin naskahnya diterbitkan ke publik ?"tanya Manda dengan menunjukkan wajah polos ketidaktahuannya padaku.
"Memang wajar sih Man, tapi untuk sampai ke titik itu tentu kamu harus menempuh jalan yang panjang terlebih dahulu."ucapku menanggapi pertanyaan Manda dengan nada santai.
"Maka dari itu Ray aku......"
Belum sempat Manda menyelesaikan kalimatnya, Sherly yang sudah memperoleh buku yang dia inginkan lalu menyela perkataan Manda dengan berkata :
"Cieee mesra banget nih pasangan muda lagi ngomongin tanggal pertunangan ya."ucap Sherly dengan nada usilnya.
"Hus kamu ngomong apaan sih Sher, aku cuma ngomongin masalah naskahku kok sama Ray."ucap Manda menyangkal ucapan Sherly.
"Tapi kok aneh ya Man, karena tadi aku denger suara tamparan itu dari siapa ya?"tanya Sherly pada Manda karena penasaran dengan suara tamparan yang tadi didengarnya.
"Itu aku Sher yang nampar pipinya Ray soalnya dia ngomong kurang ajar sih."
"Duh kamu ini Ray, jangan menyinggung perasaan calon istrimu ini dong."ucap Sherly dengan nada santai kepadaku.
Dengan spontan aku langsung menjawab :
"HEI APA YANG KAU MAKSUD CALON ISTRI ?"ucapku dengan nada terkejut.
"Aduh kau ini benar-benar tidak peka ya, maksudku kau ini jangan menyinggung hati Manda yang saat ini sudah dikhususkan untukmu."ucap Sherly seperti memberikan nasihat untukku dengan nada bijak.
"Duh Sher kamu ini ngomong apaan sih jangan buat aku malu di depan Ray dong."ucap Manda pada Sherly sembari memukul pelan bahu Sherly yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi malu-malu.
Melihat ekspresi Manda yang seperti itu aku langsung tau situasi berikutnya pasti akan sangat canggung bagi kami berdua untuk mengobrol lagi. Jadi aku memutuskan untuk meminta izin kembali ke kelas pada mereka berdua dengan berkata:
__ADS_1
"Aduh maaf nih teman-teman kayaknya aku harus segera balik ke kelas nih, jadi sampai ketemu di kelas ya."ucapku sembari menunjukan senyum palsu untuk memperlancar rencanaku.
"Kenapa memangnya Ray, kok buru-buru banget malu liat tingkah Manda yang malu-malu kucing ini ya."ucap Sherly yang sepertinya sengaja untuk menahanku supaya tetap disana dan menciptakan suasana canggung antara aku dan Manda.