
Pak Yono juga tetap mengikuti langkahku sembari diam seribu bahasa. Setibanya kami di depan pintu kamar ibu, aku lantas mengetuknya beberapa kali sambil berkata :
"Assalamualaikum, Ibu Bi Asih, Manda dateng jenguk nih."
Pak Yono juga membantuku mengetuk pintu supaya Bi Asih atau ibuku bisa mendengar suara ketukan pintu dari kami. Tak lama kemudian pintu kamar ibu pun di buka oleh Bi Asih sambil berkata:
"Wa'alaikumsallam eh ternyata Non Manda udah dateng ya, dianterin sama Pak Yono ya non? "
"Iya bi, tadi aku dianterin sama Pak Yono buat dateng ke sini buat ngobrol bareng ibu, oh iya bi ini ada roti lapis dari Kak Rani sama itu ada buah yang tadi sempet aku beli sebelum ke sini, nanti tolong kupassin buat ibu ya." ucapku sambil memberikan kotak bekal yang aku bawa kepada Bi Asih.
"Oh iya deh kalau begituu nanti bibi siapin semua makanan yang non buat nyonya deh, silahkan masuk dulu non soalnya udah di tunggu sama nyonya tuh." ucap Bi Asih sembari menerima kotak bekal yang aku berikan kepadanya.
"Iya deh bi, terima kasih banyak ya bi udah mau di repot-repot nyiapin makanan yang aku bawa ini." ucapku seraya tersenyum ke arah Bi Asih.
"Alah Non Manda ini bisa aja deh, ini kan memang udah jadi tugas bibi buat nyiapin makanan ibunya non selama di rumah sakit, ya udah silahkan non." ucap Bi Asih seraya membuka pintu kamar ibu lebih lebar untuk memudahkan memasuki kamar.
"Kalau begitu permisi bi, Assalamualaikum." ucapku sembari memasuki kamar rawat ibu.
"Iya, Wa'alaikumsallam non." ucap Bi Asih membalas salamku.
Aku lantas memasuki kamar dan dikuti oleh Pak Yono yang langsung memberikan buah yang tadi aku beli kepada Bi Asih dan mengobrol dengan istrinya itu. Sementara visual mata pertama yang aku temukan ketika sudah masuk ke kamar ibu ialah seorang wanita cantik yang sedang duduk di kasur rumah sakit seraya membaca sebuah buku di pangkuannya.
Ya, wanita itu adalah ibuku yang saat ini tengah berada dalam dunia fantasi di dalam novel bacaannya sehingga belum menyadari kedatanganku saat ini. Segera aku mendekat ke arahnya lalu berkata :
"Assalamualaikum bu, Manda dateng jenguk ibu nih."
Ibuku langsung merasa kaget karena tiba-tiba anak gadisnya yang sudah dia tunggu sendari pagi tadi sudah berada di samping kasur rawatnya. Ibu lantas berkata:
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam Man, aduh ibu jadi kaget nih Man soalnya tiba-tiba aja kamu udah ada di samping ibu sih."
"Oh iya, kalau gitu Manda minta maaf ya bu kalo udah ngagetin ibu soalnya ibu kayaknya lagi serius banget sih baca bukunya jadi Manda jadi engga enak deh kalo ganggu waktu ibu baca buku soalnya bisa aja kan ibu lagi baca adegan yang paling bagus di buku itu." ucapku memberikan alasan yang logis kepada Ibu seraya mengecup punggung tangan ibu.
"Iya, iya deh kalau begitu terima kasih ya anakku gadisku tersayang, udah mau menghargai waktu ibu membaca buku ini, oh iya kamu kok datengnya agak telat sih Man?, tadi ada urusan lain ya? " ucap ibu seraya menurunkan tangan kanannya yang baru saja aku kecup.
"Sama-sama bu, oh iya maafin Manda ya bu datengnya agak telat, soalnya tadi Manda mampir ke toko buah dulu sebelum ke sini."
"Hmm begitu ya nak, terus kamu beli buah apa aja nak di sana?"
"Eits rahasia dong bu, soalnya biar jadi kejutan buat ibu, sekarang buahnya lagi di siapin sama Bi Asih, nah nanti ibu bakal tau deh Manda beli buah apa aja, jadi di tunggu aja ya bu hehehe." ucapku dengan nada iseng kepada ibu.
"Haduh anak ibu ternyata masih suka jahil kayak gini ya, ibu jadi gemes deh, mana sini pipi kamu biar ibu cubit ya." ucap ibu dengan nada pura-pura kesal dengan kejahilanku seraya mencubit pelan pipi kananku.
"Aduh, aduh ampun bu, Manda janji engga bakal jahil lagi deh, kadi tolong lepasin pipi Manda ya." ucapku dengan nada memohon.
"Iya Manda, ibu udah maafin kamu kok, terima kasih ya nak udah bikin hati ibu gembira selama ini." ucap ibu seraya melepaskan cubitannya dari pipiku dan dilanjutkan dengan mengelusnya.
"Alah kamu ini ngomongnya bisa aja deh, padahal ibu ini kan masih jauh dari kata sempurna sebagai orangtua kamu." ucap ibu seraya melepaskan tangannya dari genggaman tanganku.
"Aduh ibu engga usah merendah kayak gitu deh, bagi aku ibu tetap orangtua terbaik di dunia kok enggak ada satu perempuanpun di dunia ini yang bisa gantiin ibu buat aku." ucapku seraya menatap ibu dengan tatapan mata penuh kesungguhan.
"Iya, iya deh kalo begitu terima kasih yaa nak udah menganggap ibu setinggi itu sebagai orangtua kamu, padahal ibu sama bapak kan jarang berkumpul bareng kamu." ucap ibu dengan nada sedih karena menyadari bahwa mereka tidak bisa selalu mendampingiku.
"Iya bu engga papa kok soalnya kan di rumah juga ada Kak Rani yang nemenin aku."
"Hmm, kamu bener juga ya Man, sekarang kamu sama Kak Rani udah kaya adik sama kakak kan."
"Bener banget bu, Kak Rani memang udah aku anggap kaya kakakku sendiri kok, oh iya bu tadi pas di toko buah aku ketemu sama teman baru loh."
__ADS_1
"Hmm terus teman baru kamu itu kayak gimana Man, bisa ceritain sedikit ke ibu engga?" ucap ibuku dengan nada penasaran.
"Oke tenang bu, Manda bakal ceritain teman baru itu sama ibu kok,jadi begini bu pas aku di toko buah aku tuh sempat nunggu Pak Yono sebentar di parkiran mobil, nah terus.... "
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba Bi Asih datang mendekat ke arah kami sambil berkata:
"Permisi Nyonya Muna dan Nona Manda, ini roti lapis sama buah yang tadi di bawa sama Non Manda sudah saya siapkan, silahkan bisa di nikmati." ucap Bi Asih dengan nada ramah seraya memberikan dua buah piring yang masing-masing berisi roti lapis buatan Kak Rani dan buah yang baru saja aku beli tadi.
Segera aku menerima kedua piring itu sembari berkata:
"Terima kasih banyak ya bi, udah mau repot-repot nyiapin makanannya."
"Alah engga papa kok non, kan ini memang sudah tugas bibi buat nyiapin makanannya Nyonya Muna selama di sini."
Ibu lantas menambahkan ucapanku dengan berkata:
"Tapi tetep aja bi, aku sama Manda berterimakasih kasih banget sama bibi, oh iya sebelumnya bibi sama Pak Yono udah ambil bagian makanannya belum?, soalnya engga mungkin kan semua makanan itu cuma saya sama Manda yang makan. " ucap ibu dengan nada penuh perhatian.
"Nyonya tenang saja, soalnya saya juga sudah menyadari hal itu dan sudah menyisakan sedikit bagian makanan untuk saya dan Pak Yono, kalau begitu saya permisi dulu ya Nyonya Muna dan Non Manda." ucap Bi Asih dengan nada sopan.
"Hmm bagus deh kalau begitu bi, oh iya silahkan bi, sama kalau misalnya bagian kalian masih kurang, kalian boleh kok ngambil bagianku sama Manda, soalnya aku yakin pasti anakku Manda juga engga berani makan banyak-banyak kok." ucap ibu seraya memberikan senyuman di akhir ucapannya.
"Heh kok ibu tau aja sih kalau porsi makanku engga banyak?" ucapku dengan nada bingung setelah mendengar ucapan ibu.
"Ya ibu tau dong Man, memangnya ibu engga pernah jadi gadis seumuran kamu ya?" ucap ibu dengan nada santai.
"Hmm bener juga ya bu, terus memangnya apa hubungannya waktu ibu seumuran aku sama porsi makananku yang kecil bu?"
"Haduh kamu ini kurang peka ya anak gadisku tersayang, maksud ibu itu, kamu pasti sengaja jaga porsi makananmu soalnya takut berat badan kamu nambah terlalu banyak kan? " ucap ibu sembari mengusap rambut kepalaku yang sedang duduk di samping kasur rawatnya.
__ADS_1
"Ih aku enggak mikir kaya gitu kok bu, soalnya menurutku wajar aja lah kalau berat badanku rada naik kan aku masih dalam masa pertumbuhan." ucapku membela diri dari peryataan ibu.
"Hmm jadi kamu memang enggak peduli sama berat badanmu ya Man?, terus kalau bukan karena itu kenapa porsi makan kamu sedikit? " ucap Ibu dengan nada heran setelah mendengar perkataanku.