
Selesai sarapan, aku lantas mencuci piring bekas makananku lalu segera meminta izin ke Kak Rani kalo pagi ini, aku ingin lari pagi di sekitar kompleks rumahku. Mendengar keinginanku untuk berolahraga lantas membuatnya segera berkata:
"Oh, silahkan aja deh kalo dek Manda mau lari pagi, tapi jangan terlalu maksain diri ya, istirahat aja kalau capek di jalan sama mau bawa botol minuman engga? " ucap Kak Rani memberikanku sedikit nasihat seraya menawarkanku apakah ingin membawa air minum atau tidak.
"Iya deh kak, Manda engga akan maksain diri kok sama boleh deh aku bawa satu botol minuman."
"Ya udah nanti kamu kaka panggil buat ngambil botolnya ya."
"Oke kak, kalau gitu sekarang Manda mau ke kamar buat ganti baju olahraga dulu ya."
Kak Rani hanya menganggukan kepala seraya tersenyum dan mulai melangkah ke dapur. Sementara, aku pun segera masuk kembali ke kamarku dan segera mengganti baju biasaku dengan baju olahraga yang terdiri dari celana training hitam dan kaos polos lengan pendek dengan warna biru muda. Tak lupa aku pun mengikat rambutku menjadi model ekor kuda supaya tak terlalu mengganguku ketika berlari nanti. Selesai mempersiapkan diri, tiba-tiba terdengar suara :
"Dek Manda, air minumnya udah siap nih." ucap Kak Rani dengan nada keras untuk memanggilku seperti yang sudah dijanjikannya tadi.
__ADS_1
Aku pun segera menanggapi perkataannya itu dengan berkata:
"Iya kak, ini Manda mau kesana. " ucapku dengan nada keras seperti yang dilakukan Kak Rani barusan.
Dengan langkah sedang, aku pun keluar dari kamarku dan langsung menuju dapur untuk mengambil botol minum yang sudah di siapkan Kak Rani.
Sesampainya di dapur aku melihat botol minuman berwarna biru muda yang letaknya di sebelah tempat air minum. Tanpa pikir panjang aku pun segera tau bahwa botol itu adalah botol minum yang sudah di siapkan Kak Rani untukku.
Beberapa tetesan keringat lantas keluar dari kening dan beberapa bagian tubuhku setelah aku cukup lama berlari di pagi hari ini. Merasa tidak nyaman dengan keringat yang mulai membasahi wajah dan leherku lantas membuatku segera menyekanya dengan sapu tangan biru muda yang kubawa di saku celana training hitamku. Setelah kurang lebih berlari selama sepuluh menit, tubuhku yang jarang berolahraga lantas menunjukkan gejala kalau dia sudah tak ingin berlari lebih lama lagi dan menuntutku untuk segera mengistirahatkannya.
Jadi aku pun terpaksa berhenti sejenak dan duduk di tepi jalan untuk beristirahat dan sekedar minum air dari botol yang kubawa dari rumah. Entah kenapa rasanya sangat berbeda ya, jika kita minum air di saat sedang berolahraga. Air putih yang rasanya tawar dan biasa saja entah kenapa jadi seperti minuman yang sangat enak dan melegakan walaupun rasanya tetap tawar sih. Gumamku dalam hati seraya melihat ke jalanan kompleks di hadapanku.
Tak lama kemudian tenagaku rasanya sudah cukup buatku untuk kembali melanjutkan lari di pagi ini. Jadi segera ku gendongkan lagi botol minum dari Kak Rani di pundak kananku dan kembali memulai langkahku untuk berlari. Baru sekitar lima menit berlari lankahku lantas terhenti ketika tiba-tiba beberapa meter di hadapanku muncul anjing hitam yang sepertinya berjenis pitbull dari salah satu rumah di kompleks ini.
__ADS_1
Parahnya, perhatian anjing itu lantas tertuju ke arah ku yang memang masih berdiri di tempatku yang tidak jauh darinya. Mata kami berdua pun saling bertemu dan seketika membuatnya memasang wajah marah seraya mengerang kepadaku. Apa aku langsung di anggapnya sebagai ancaman ya, padahal kan aku belum melakukan apapun kepadanya. Tapi kenapa anjing ini malah semakin berjalan mendekat sembari memberikan
GUKK... GUKK....
Gonggongan galaknya yang mengancam ketenangan hatiku. Aku sempat berpikir untuk tidak bergerak dari tempatku berdiri, tapi gonggongan anjing hitam itu sukses meruntuhkan keberanianku dan membuatku ingin segera mengambil langkah seribu untuk menjauh darinya.
Tapp... Tapp...
Sedetik kemudian akhirnya aku pun memutuskan untuk berlari ke arah jalan yang kulewati sebelumnya. Anjing hitam itu malah terlihat semakin galak dan segera mengejarku sembari terus mengonggong dengan kerasnya.
Tolong... Tolong...
Rasa takut akan digigit oleh anjing ini lantas membuatku refleks untuk sesekali berteriak minta tolong untuk menarik perhatian seseorang di jalan kompleks yang masih sepi karena akhir pekan.Tak lama langkahku pun semakin pelan karena mulai merasa lelah lagi karena harus berlari secepat ini.Aku pun melihat sebentar kebelakang dan melihat anjing itu masih sumringah mengejarku seperti mengejar hewan buruan yang tak berdaya. Dalam hati aku lalu bergumam " apa aku harus pasrah saja ya digigit anjing itu ya."
__ADS_1