
"Duh Kak Rani ini ngomong apaan sih!, kalau begitu Kak Rani bisa sakit tau, udah sekarang duduk disitu." ucapku dengan nada sedikit marah menegur Kak Rani seraya menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada di sebelah kursiku.
"Baiklah Manda-chan jika itu memang keinginan anda, maka saya akan dengan senang hati menemani anda makan malam hari ini." ucapnya seraya duduk di kursi yang telah ditunjukkan olehku.
Aku hanya berdeham pelan menanggapi ucapan itu dan kembali menggerakkan tanganku untuk mengambil lauk yang tadi belum kuselesaikan.
Tapi ketika aku hendak menyantap makan malamku, pandanganku malah teralihkan ke arah Kak Rani yang sendari tadi hanya memandangiku tanpa mengambil makan malamnya. Melihat Kak Rani yang seperti itu, membuatku segera berkata lagi kepadanya:
"Kak Rani kok diem aja sih, ambil nasi sama lauk juga dong kak terus kita makan bareng di sini." ucapku dengan nada heran seraya menyuruh Kak Rani untuk mengambil makan malamnya.
Kak Rani lalu sesaat menggelengkan pelan kepalanya seraya menanggapi ucapanku dengan berkata:
"Maafkan saya Manda-chan, tapi tugas saya di sini adalah hanya untuk menemani anda makan malam dan tidak lebih dari itu." ucapnya dengan nada sopan menolak ajakan makan malam bersama dariku.
"Oh jadi hanya itu tugasmu disini ya." ucapku dengan nada datar seraya sedikit menundukkan kepala karena merasa kecewa dengan sikap Kak Rani yang saat ini sudah berubah terlalu jauh.
"Maafkan saya Manda-chan, tapi memang itulah tugas saya sebagai pelayan pribadi anda."
Setelah mendengar kata-kata pelayanan pribadi diucapkan oleh Kak Rani sebuah ide seketika terlintas di pikiranku. Aku pun segera mengangkat kembali kepalaku dan memandang ke arah Kak Rani. Sesaat kemudian tatapan mata kami pun bertemu dan aku segera berkata:
"Kalau Kak Rani adalah pelayan pribadiku, berarti kaka mau dong menuruti permintaanku." ucapku dengan nada santai.
"Benar sekali Manda-chan, selama saya bisa melakukankannya apapun keinginan anda pasti akan saya turuti." ucap Kak Rani menanggapi ucapanku dengan aksen seorang maid.
"Oke, kalo begitu sekarang aku mau Kak Rani makan bareng sama aku." ucapku dengan nada tegas memberikan perintah dengan aksen seorang majikan.
Kak Rani sempat sedikit terkejut dalam hati ketika mendengar perintahku, tapi dengan segera dia bisa memaklumi perintah yang baru saja kuucapkan. Dia lalu berkata:
"Baiklah Manda-chan, jika nona memang ingin makan bersama saya maka saya akan menyanggupinya." ucap Kak Rani dengan nada sopan khas seorang maid.
Dia segera hendak mengambil piring untuk makan malam, tapi akupun menegurnya dengan berkata:
"Ehh, Kak Rani engga usah ngambil piring lagi, soalnya yang aku maksud makan bareng itu....." ucapku tak sampai selesai karena masih merasa malu dengan hal yang ingin aku katakan.
"Memangnya makan bareng macam apa yang diinginkan oleh Manda-chan?" ucap Kak Rani seraya menaruh kembali piring yang telah diambilnya.
"Begini kak, sebenarnya aku itu pengin makan bareng sama kaka pake satu piring aja terus kita saling suap-suapan gitu." ucapku menjelaskan keinginanku ke Kak Rani dengan nada malu-malu.
__ADS_1
Kak Rani lantas tersenyum setelah mendengar penjelasanku itu dan dia pun berkata:
"Kalo memang itu adalah keinginan Manda-chan, maka saya tak keberatan untuk melakukannya." ucapnya seraya sesaat sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda menghormati permintaanku.
Aku hanya bisa mengangguk malu-malu untuk menaggapi perkataan Kak Rani.
Melihat hal itu Kak Rani pun tersenyum sesaat lalu kembali berkata:
"Jadi bagaimana mekanisme makan bareng yang Manda-chan ingin lakukan ini, apa saya harus menyuapi Manda-chan ? " tanya Kak Rani dengan nada penasaran.
Aku pun segera mengumpulkan keberanian di hatiku lalu mulai menjelaskan maksud keinginanku itu pada Kak Rani. Setelah beberapa menit menjelaskan, aku pun mensudahi penjelasan lalu bertanya pada Kak Rani:
"Jadi gimana menurut kaka, Kak Rani engga keberatan kan? "
Kak Rani sesaat kembali menunjukkan senyuman manisnya seraya berkata:
"Haduh ternyata Manda-chan ini manja banget ya, aku jadi gemas sama kamu deh." ucap Kak Rani dengan nada riang seraya ingin mencubit pipiku dan membuat rusak aksen maid miliknya.
"Ehh, udah ah kak jangan begitu, pipi Manda nanti sakit nih." ucapku seraya menghindari cubitannya.
l
"Tapi janji ya, cubitnya pelan-pelan aja ya, terus jangan lama-lama." ucapku dengan nada tegas memberikan Kak Rani syarat untuk mencubit pipiku.
"Iya de Manda, kaka janji engga bakal cubit pipi kamu pelan-pelan dan cuma sebentar kok." ucap Kak Rani dengan aksen kesehariannya yang selama ini kukenal.
"Ya udah, kalo kaka udah bilang begitu silahkan nih." ucapku menanggapi Kak Rani seraya mendekatkan wajahku ke arahnya supaya dia mudah menjangkau pipiku.
"Oke, kaka izin megang pipi dede Manda ya." ucap Kal Rani dengan nada sopan seraya mulai mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipiku.
Sesaat kemudian tangan kanan Kak Rani sudah menyentuh lembut pipiku, ia lalu mencubit pelan pipiku dengan tangannya itu dan segera melepaskan cubitannya beberapa saat kemudian.
Aku segera kembali ke posisi dudukku semula serasa mengusap sesaat pipiku yang baru saja dicubit olehnya. Kak Rani segera menunjukkan ekspresi wajah senang seraya berkata:
"Duh pipi Dede Manda memang lembut banget ya, kaka jadi pengin pegang lagi deh." ucapnya sembari memandang tangan kanannya lalu segera memandangku lagi di akhir ucapannya dengan ekspresi memohon.
Aku yang mulai kesal dengan tingkah lakunya itu lalu segera berkata:
__ADS_1
"Duh udah deh kak!, engga usah ngelakuin macem-macem lagi, makan malam kita jadi engga mulai-mulai nih !" ucapku dengan nada tegas seraya menatap serius ke arah Kak Rani.
Tapi setelah mendengar ucapanku itu Kak Rani malah tersenyum kecil kearahku seraya berkata:
"Oh, ternyata Dede Manda udah laper ya kalo gitu ayo kita mulai makan malamnya." ucapnya dengan nada ramah sembari melempar senyuman ke arahku.
Mendengar perkataannya itu langsung membuatku merasa tersinggung dan aku pun segera menyanggah ucapannya dengan berkata :
"Engga kok kak, Manda cuma mau cepet-cepet belajar habis ini." ucapku dengan nada maksa kepada Kak Rani.
Tapi baru saja aku mengatakan hal tersebut tiba-tiba terdengar suara aneh diantara kami.
Gruuk.... Gruuk....
Kami sempat terdiam sejenak setelah suara itu terdengar, aku tau sekali bahwa itu adalah suara perutku yang sudah meminta di isi. Wajahku segera menunjukkan rona merah karena menahan malu. Sementara, Kak Rani malah langsung tersenyum genit ke arahku seraya berkata:
"Aduh Dede Manda ini ya, perutmu engga bisa bohong tuh." ucapnya dengan nada usil setelah menyadari bahwa suara yang tadi terdengar adalah suara lapar perutku.
Aku yang tak tahan mendengar gurauannya itu lalu segera menanggapi ucapannya dengan nada ketus:
"Iya, iya deh Manda ngaku kalo sekarang udah laper." ucapku seraya memalingkan wajah merahku dari pandangan Kak Rani.
Kak Rani hanya tersenyum menanggapi ucapanku itu dan segera mengambil sesendok nasi dari piring makanku lalu berkata:
"Ya udah kalo begitu nih, cepet buka mulut dede aaa.... " ucap Kak Rani seraya menawarkan sesuap nasi kepadaku.
Aku sebenarnya sedikit merasa tak nyaman saat diperlakukan seperti anak kecil begini, tapi karena perutku sudah lapar jadi aku pun segera memakan sesuap nasi yang ditawarkan oleh Kak Rani.
Melihatku melahap sesuap nasi yang di ambilkannya membuat hati Kak Rani sangat senang dan segera kembali mengambil sesuap nasi untukku. Tapi aku pun mencegahnya melakukan itu dengan memberi isyarat berupa gerakan tangan karena mulutku masih sibuk mengunyah makanan. Setelah aku menelan suapan pertama Kak Rani, aku lantas berkata:
"Kak Rani tunggu aku kasih suapan ke kaka dulu dong, baru nanti kaka boleh suapin aku lagi." ucapku dengan nada santai seraya mengambil sebuah sendok dan segera mengambil sesuap nasi dari piring makanku.
Kak Rani yang tampak kaget setelah mendengar ucapanku lalu berkata:
"Apa Dede Manda yakin engga mau disuapin kaka aja? " ucapnya dengan nada heran kepadaku.
"Engga kak, soalnya kalo begitu artinya kita engga makan bareng dong, tapi Manda doang yang makan, nih buka mulut kaka aa... " ucapku seraya menawarkan sesuap nasi kepada Kak Rani.
__ADS_1
Merasa tak enak hati jika sampai menolak tawaranku, akhirnya Kak Rani pun memakan sesuap nasi yang aku tawarkan kepadanya. Sesaat kemudian gantian dia yang memberikanku suapan nasi yang kedua. Kami pun terus bergantian melakukan hal itu selama makan malam hari ini. Dengan begini walaupun ibu belum ada di rumah tapi setidaknya aku memiliki sosok seorang kaka untuk mengisi kekosongan hatiku di rumah ini.