
Aku lalu tersadar bahwa aku sudah memeluk tubuh Sherly cukup lama ya, jadi segera aku melepaskan pelukanku dari tubuhnya seraya berkata :
"Oh, kalo gitu aku minta maaf ya Sher udah seenaknya sendiri peluk badan kamu."ucapku dengan nada menyesal seraya membungkukkan sedikit badanku ke arahnya.
"Hmm, iya deh kali ini aku maafin kamu, tapi awas ya kalo kamu sampai berani ngelakuin hal itu ke Manda atau ke aku lagi, tau sendiri akibatnya kan? "ucap Sherly dengan nada santai dan diakhiri dengan memberi peringatan padaku seraya ia membuka pisau lipatnya untuk mengancamku.
"Iya Sher, aku janji engga bakal ngelakuin hal itu lagi ke kamu ataupun ke Manda kok."ucapku dengan nada tenang untuk meyakinkan Sherly.
"Ya, udah bagus deh kalo kamu udah paham, kalo gitu aku pulang duluan ya." ucap Sherly seraya menutup kembali pisau lipatnya lalu mulai berjalan meninggalkanku untuk pulang.
Aku hanya bisa memandang bingung ke arah Sherly yang mulai menjauh dari tempatku saat ini. Apakah sesakit itu hati Sherly melihatku dekat dengan Manda ya?, kalau begitu apa setelah ini aku lebih baik menjauh pelan-pelan dari Manda ?. Pikiran itu terus terbayang-bayang dalam kepalaku selama perjalananku pulang ke rumah. Tapi seketika pikiran itu teralihkan karena setibanya di rumah sudah ada bapak yang sepertinya memang sedang menunggu kepulanganku deh.
Awalnya bapak memang terlihat santai sembari membaca koran di kursi depan rumah, tapi tatapan matanya mendadak menjadi tajam ketika menyadari kedatanganku. Aku lantas berjalan ke arahnya untuk mengecup tangannya dan mengucapkan salam. Aku lalu mengucapkan salam dengan nada ramah :
"Assamualaikum pak, Ray pulang." ucapku seraya mengecup tangannya.
Bapak lalu membalas ucapanku dengan nada tegas seraya berdiri dari tempat duduknya:
"Waalaikumsallam, nanti setelah kamu ganti baju, temui bapak di meja makan ya."
Aku hanya bisa menjawabnya dengan nada sopan seraya menatap ke arah bapak dengan berkata :
"Baik pak, Ray akan menemui bapak di meja makan setelah ganti baju."
Bapak hanya berdeham sesaat lalu melanjutkan langkahnya masuk ke rumah. Dengan dihantui perasaan khawatir aku berusaha menarik napas panjang untuk menenangkan diri lalu mengikuti langkah bapak masuk ke dalam rumah. Bapak lantas duduk di meja makan sementara aku segera masuk ke kamarku dan mengganti baju seragamku dengan baju sehari-hari.
Setelahnya aku lantas berjalan keluar dari kamar untuk berbicara dengan bapak di meja makan. Bapak menatapku dengan tatapan tajam ketika menyadari kedatanganku dan langsung berkata :
__ADS_1
"Cepat duduk! "ucap bapak dengan nada tegas.
Tanpa membantah aku langsung menuruti perintah bapak dan segera duduk di kursi yang letaknya berhadapan dengan bapak sembari sedikit menundukan kepalaku. Bapak lantas meleparkan seamplop surat ke meja makan di depanku sesaat setelah aku bener-bener meletakkan pantatku di kursi.
Aku segera melihat baik-baik amplop itu dengan seksama dan benar saja diamplop itu ada tulisan surat pemberitahuan dari sekolahku. Aku langsung tau kemana arah dari pembicaraan ini akan bermuara. Segera bapak kembali berkata padaku dengan nada tegas :
"Jadi bisa kamu jelaskan maksud dari surat itu Ray ?"ucap bapak seraya menunjuk ke arah amplop yang ada di depanku.
"Begini pak, surat ini itu surat pemberitahuan tentang kejadian kemarin itu."ucapku dengan nada gugup seraya memberanikan diri untuk menatap balik bapak.
"Jadi ini akibat dari kelakuanmu kemarin itu ya, lalu apakah lamu sudah tau isi dari surat itu?"ucap bapak dengan nada serius seraya masih menatapku dengan tatapan tajam.
Ditatap seperti itu oleh bapak lantas membuat nyaliku mengecil dan tak kuasa menatapnya lagi, jadi segera aku menundukan kepalaku seraya berkata :
"Sepertinya Ray, sudah tau isi dari surat ini pak."ucapku dengan nada gugup.
"Pertama Ray ingin minta maaf pak soalnya selama ini belum bisa membahagiakan bapak sama ibu, tapi malah membuat ulah seperti ini."ucapku dengan nada sopan seraya menahan perasaan bersalah pada bapak.
Bapak lantas berdeham sesaat lalu berkata kepadaku:
"Jadi ini artinya kamu siap untuk menerima hukuman dari bapak kan? " ucap bapak dengan nada serius.
"Insyallah Ray siap pak, toh memang ini kesalahan karena Ray sendiri kok." ucapku dengan nada sopan dengan menatap tegar ke arah bapak.
"Baiklah kalo begitu sebagai hukumanmu Ray, jatah uang sakumu bulan depan bapak potong lima puluh persen ya."ucap bapak dengan nada tegas seraya menekankan ucapan terakhirnya.
Dalam hati aku langsung berkata:
__ADS_1
"Hemm, sepertinya bulan depan aku akan mulai membawa bekal buatan ibu nih. Karena uang sakuku pasti tak cukup untuk beli makan siang di kantin." gumamku dalam hati memikirkan tentang masalah makan siangku di bulan depan.
Tapi memikirkan hal itu membuatku tersadar akan hilangnya sosok ibu yang biasanya selalu menyambutku ketika sampai di rumah setiap sore. Karena rasa penasaran yang memuncak membuatku langsung bertanya pada bapak dengan berkata :
"Oh iya pak, ngomong-ngomong ibu pergi ke mana ya?, kok dari tadi engga ada di rumah?"
"Ibumu pergi menjenguk teman masa kuliahnya dulu yang sekarang lagi sakit parah di rumah sakit."
"Oh gitu ya pak, terus tadi ibu berangkatnya naik apa pak? "
"Tadi dia berangkat numpang mobil temennya yang sama-sama mau jenguk juga."
"Memangnya ibu tadi berangkat ke sana jam berapa pak? "
"Ibumu berangakat sama temen-temennya baru sekitar setengah jam yang lalu Ray, jadi kemungkinannya mereka pulang ba'da maghrib nanti." ucap bapak dengan nada santai menjelaskan kapan ibu pergi menjenguk temannya.
"Tapi apa ibu udah tau tentang surat ini pak? "ucapku dengan nada gugup kepada bapak.
"Haduh, haduh kamu ini tanya apaan sih Ray, masa hal kecil kaya gitu masih ditanya, ya udah pasti ibumu tau lah!, soalnya bapak aja dapet surat ini dari ibumu kok."ucap bapak dengan nada kesal mendengar pertanyaanku yang menurutnya engga bermutu.
"Oh, iya udah pak kalo begitu Ray izin ke kamar buat sholat ashar ya. "ucapku dengan nada sopan seraya mulai berjalan meninggalkan meja makan.
Bapak hanya berdeham sesaat menanggapi perkataan terakhirku, ia lalu mengambil kembali surat pemberitahuan skorsing itu dan segera berjalan ke kamarnya.
Sementara aku lantas mengambil air wudhu dan bersiap melakukan sholat Ashar di kamarku. Tapi ketika aku akan melewati kamar Nia, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Nia pun keluar dari sana dengan baju santainya sehari-hari.
Pandangan kami lalu sempat bertemu selama beberapa menit. Namun, entah mengapa cara dia memandangku sangat berbeda dengan caranya memandangku saat pagi hari tadi.
__ADS_1