AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Episode 31 : Isi Hati Sherly


__ADS_3

Melihat senyumannya itu lantas membuatku malu dan gugup, sehingga tak berani menatap wajahnya lagi untuk membalas ucapan terima kasih itu. Aku lalu berkata dengan nada malu-malu :


"Engga papa-papa kok, aku juga kebetulan engga punya masalah sama hal itu."


Manda hanya bisa tersenyum kecil melihat reaksi malu-maluku saat ini, Sial kenapa hatiku kok jadi sesak begini ya kalo liat dia tersenyum?


Apa ini yang juga dirasakan bapak pas jatuh hati ke ibu ya, tapi kalo aku memang benar-benar jatuh cinta sama Manda apa dia mau pacaran sama cowok cemen kaya aku?


Pikirku dalam hati sembari memandang Manda dengan tatapan kosong. Manda lalu menepuk kedua tangannya tepat di depan wajahku yang terdiam.


Prak.....


Karena suara tepukan tangan itu cukup keras, refleks aku pun langsung terkejut dan hampir saja jatuh ke belakang bersama dengan kursiku. Untung aku bisa menyeimbangkan tubuh dan tak jadi kena apes deh. Manda yang melihatku hampir celaka lalu berkata dengan nada cemas :


"Maafin aku ya Ray, gara-gara aku kamu hampir jatuh deh. "


"Iya iya engga papa, tapi kamu kenapa tadi ngagetin aku sih? "ucapku dengan nada santai untuk menyembunyikan rasa kesalku karena tepukan Manda tadi.


"Soalnya tadi kamu ngelamun sih, jadi aku tepuk tangan deh biar kamu sadar lagi."ucap Manda dengan nada cemas.


"Oh iya deh, engga papa tapi lain kali jangan kaya gitu lagi ya, hampir lepas jantungku tau."


"Ok Ray, kalo itu memang kemauanmu, aku janji engga ngagetin kaya gitu lagi deh."


Bel masuk kelas terbunyi tepat setelah Manda mengatakan janjinya itu. Segera ia kembali duduk di kursinya, tetapi sebelumnya ia sempat mengingatkanku dengan berkata :


"Udah ya Ray, jangan lupa janji kita hari minggu ini ya." ucapnya dengan nada ramah.


Aku hanya menanggapi perkataannya itu dengan nada datar:


"Iya aku usahakan dateng ya."


Para siswa yang lain masuk tak lama setelah kami berdua sudah duduk di kursi masing-masing. Segera mereka juga di kursinya masing-masing dan pelajaranpun dimulai tak lama setelahnya.


Tanpa terasa jam pulang sekolah telah tiba, bel pulang sekolah yang berbunyi langsung memecah suasana membosankan di kelas kami menjadi suasana penuh suka cita.


Para siswa segera merapikan bukudan alat tulisnya ke dalam tas lalu berdoa pulang bersama. Setelah guru keluar dari kelas para siswa di kelasku lantas mengikutinya. Manda sebenarnya sempat mengajakku untuk jalan bareng sampai pintu gerbang depan dengan berkata :


"Yuk kita jalan bareng sampai ke gerbang depan, kamu mau engga? " ucapnya dengan nada ramah padaku dengan menunjukkan wajah cantiknya.


Tapi karena teringat akan pesan dari Sherly, jadi akupun menolak tawarannya itu dengan berkata :


"Maaf ya Man, kayaknya kamu duluan aja deh aku masih ada urusan soalnya."


"Emang urusan apa Ray, aku bisa nemenin kamu engga? "ucapnya dengan nada polos.


"Kamu engga perlu ikut Man ini cuma urusan pribadiku kok, engga ada untungnya juga kalo kamu ikut."

__ADS_1


"Engga papa Ray, aku enggak ngarep dapet keuntungan apapun kok."


"Iya sih Man, tapi tolong ya kali ini kamu enggak usah ikut-ikutan ke urusanku ini." ucapku dengan nada memohon kepada Manda.


"Oh gitu ya, kalo gitu aku pulang duluan ya Ray."


Manda lantas berjalan keluar kelas setelah mengatakan hal itu, aku lalu membalas ucapannya itu dengan berkata :


"Sampai ketemu hari minggu ya. " ucapku dengan suara lantang karena kelas yang sudah sepi dan tinggal aku dan Manda yang masih ada di kelas.


Manda hanya tersenyum menanggapi ucapanku itu, lalu berjalan keluar melewati pintu kelas dan menghilang dari jarak pandangku. Segera setelah Manda sudah keluar kelas, aku lantas mengambil tasku seraya berdiri dari tempat duduk dan mulai berjalan keluar kelas.


Di luar kelas aku sempatkan diriku untuk melihat ke arah kanan dan kiriku untuk memastikan bahwa Manda benar-benar sudah pulang dan tidak akan mengikutiku diam-diam.


Setelah aku tidak melihat keberadaannya segera aku langkahkan kakiku ke belakang sekolah untuk bertemu dengan Sherly sesuai chat WA yang dia kirimkan kepadaku.


Sesampainya aku di belakang sekolah, aku mendapati Sherly sedang termenung menungguku sembari berdiri bersandar pada dinding belakang sekolah. Menyadari kedatanganku lantas membuatnya segera berdiri tegak dan menghadap ke arahku. Dengan wajah datar Sherly lalu mulai berkata kepadaku:


"Maaf ya Ray, sampai ngajak kamu ketemu aku di sini."


"Iya engga papa kok Sher, tapi ada perlu apa ya sampai kamu ngajak aku ketemuan di sini? "


"Itu sebenarnya ada masalah pribadi yang mau aku tanyain ke kamu Ray."


Dalam hati aku langsung berkata :


"Masalah pribadi apa Sher yang kamu maksud? "tanyaku pura-pura bingung dengan ucapan dari Sherly.


"Begini Ray, kamu sebenarnya suka sama Manda kan? "


"Eeh, kenapa kamu tanya masalah itu Sher?"ucapku dengan nada kaget mendengar ucapan Sherly yang tak sesuai dengan perkiraanku.


"Udah kamu ngaku aja deh, selama beberapa minggu terakhir ini kepincut sama pesona Manda kan? "ucapnya dengan nada memaksaku untuk menerima tuduhannya.


"Iya itu urusan pribadiku tau, jadi aku punya hak untuk engga menjawabnya kan." ucapku dengan nada gugup seraya memberikan alasan pribadiku.


"Ih dasar kamu ya Ray, engga bakal jawab sebelum pake paksaan."


"Ehh, tunggu bentar Sher, jangan langsung emosi begitu dong semuanya bisa kita bicarakan baik-baik kan? "


"Dasar kamu ya Ray, udah berani buat perasaanku campur aduk kaya gini." ucap Sherly dengan nada sedih seraya menundukkan kepalanya.


"Memangnya salahku ke kamu apaan Sher? " ucapku dengan nada cemas karena melihat Sherly bersedih seperti ini.


"Sal...lah... mu... ke... aku.... ban.. yak Ray huhuhu."ucap Sherly dengan terbata-bata karena air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.


Melihat reaksi Sherly yang seperti itu, tentu membuatku merasa kasihan dengan keadaan hatinya saat ini. Sebenarnya apa salahku ke dia ya?, sampai membuatnya menangis seperti ini.

__ADS_1


Rasa iba dalam hatiku lantas tanpa sadar menggerakkan tubuhku hingga akupun memeluknya lembut untuk menenangkan keadaan hatinya saat ini sekaligus untuk menebus rasa bersalahku kepadanya. Sherly yang masih menangis tersedu-sedu tak menolak pelukanku dan malah membalasnya. Aku yang memejamkan kedua mataku saat memeluknya lalu berkata :


"Kalo memang aku ada salah ke kamu, aku minta maaf ya Sher."ucapku dengan nada penuh perhatian untuk menenangkan hati Sherly.


Sherly yang mulanya masih menangis di pelukanku lantas mendengar permintaan maafku itu, dia lalu menanggapinya dengan berkata :


"Tapi hatiku ini masih sakit buat maafin kamu Ray."ucap Sherly dengan nada sedih seraya mengusapkan air matanya di lengan bajuku.


"Jujur ya Sher, sebenarnya salahku ke kamu apaan sih?, kok sampai buat kamu sedih kaya gini? "ucapku dengan nada memohon untuk bisa memperoleh penjelasan Sherly.


"Kamu jahat Ray, soalnya tiba-tiba ngerebut Manda dari aku."ucap Sherly dengan nada sedih seraya diam-diam mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


Aku sempat terkejut mendengar penjelasan Sherly tentang kesalahanku padanya. Apakah kehadiran seorang Manda sangat berarti untuknya ya?. Belum sempat aku memikirkan hal itu lebih jauh.


Tiba-tiba aku merasa Sherly mempererat satu tangannya untuk memelukku dan menusuk pelan perutku dengan sesuatu yang tumpul.


Dia juga sudah menghentikan tangis kesedihannya. Menyadari kelakuan aneh Sherly lantas membuatku membuka mata dan bertanya kepadanya dengan berkata :


"Anuu Sher, sebenarnya maksud kamu ngelakuin ini buat apa ya? "ucapku dengan nada cemas.


"Hei Ray, apa kamu tau benda apa yang sekarang aku tusukan ke perutmu sekarang ?"ucap Sherly dengan nada mengancam yang malah balik nanya ke aku.


"Aku enggak tau Sher, memangnya itu apa? "ucapku dengan hati penuh kecemasan setelah mendengar perkataan Sherly.


"Ini pisau lipat Ray, tapi mata pisaunya masih ketutup kok."ucap Sherly dengan nada dingin untuk mengancamku.


Aku sangat kaget ketika mendengar jawabannya itu.


Apa ini artinya dia mengancam mau membunuhku ya?, pikirku khawatir di dalam hati. Belum sempat aku berucap, Sherly sudah kembali bertanya kepadaku :


"Apa kamu mau tau, penyebab aku ngelakuin ini ke kamu, Ray?"ucap Sherly dengan nada datar sembari lebih dalam menusuk perutku dengan pisau lipatnya yang tetutup itu.


"Aku enggak tau apa sebabnya Sher."ucapku dengan nada cemas, tapi masih memeluk erat tubuh Sherly.


"Ini karena kamu udah terlalu deket sama Manda, udah gitu sampai bikin dia nagis lagi."ucap Sherly dengan nada santai menjelaskan sebab dari tindakannya itu.


"Kalo gitu aku minta maaf Sher, kalo menurutmu aku terlalu deket sama Manda, tapi perlu kamu tau Sher, aku juga engga bisa melihat Manda bersedih." ucapku dengan nada sabar menjelaskan pada Sherly.


"Hmm, kamu mulai berlagak jagoan ya sekarang." ucap Sherly dengan nada meremehkan padaku.


"Aku serius Sher, aku bakal janji sebisa mungkin engga buat Manda sedih lagi dan pelan-pelan menjauh dari dia deh."


"Oke, kalo gitu aku pegang omonganmu ya, terus bisa aku minta satu hal lagi ke kamu engga? "


"Kalo gitu terima kasih udah percaya sama aku Sher, kamu mau minta apa lagi dari aku? "


"Bisa tolong lepasin pelukanmu engga, ini mulai menggangguku tau."ucap Sherly dengan nada malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2