AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan

AKU, KAU, Dan Buku Novel Ringan
Ternyata Dia


__ADS_3

Jadi aku memutuskan untuk sesaat mengusap kepalanya guna menyalurkan rasa gemasku padanya. Jadi dengan cepat aku segera mengusapkan tangan kananku ke rambut hitam lurus yang dia miliki. Nia lantas merasa terkejut ketika aku tiba-tiba mengusap kepalanya, rasa malu pun memenuhi hatinya dan membuat wajahnya mengeluarkan rona merah tak lama setelahnya.


Ia juga langsung berusaha untuk melepaskan tanganku dari kepalanya sambil berkata:


"Duh Kak Ray kenapa sih, ini malu-maluin tau." ucapnya dengan nada malu-malu.


Menyadari sikap penolakan dari Nia, membuatku langsung sadar diri dan segera melepaskan tanganku dari kepala nya sambil berkata:


"Oh, ternyata kamu engga suka ya, kalo gitu kaka minta maaf ya." ucapku dengan nada sopan.


"Bukan begitu maksud Nia kak, tapi aku cuma mau tau kenapa kaka sampai ngusap kepalaku? " ucap Nia dengan nada heran sambil memandang ke arahku.


"Engga ada alasan khusus kok, Kak Ray cuma lagi pengin sekali-kali ngusap kepalamu." ucapku dengan nada gugup menanggapi pertanyaan dari Nia.


"Oh ternyata kaka cuma mau ngusap kepalaku ya, kalo begitu sih aku enggak masalah kak, lagian kita ini juga saudara kandung kan." ucap Nia memaklumi ucapanku dengan nada santai.


Hati ku langsung merasa gembira dan terharu ketika mendengar perkataan itu di ucapkan oleh Nia sendiri. Ini artinya dia selama ini memang masih menganggapku sebagai kakaknya ya. Makan malam yang dingin itu lantas berakhir dengan keadaan baik bagiku dan Nia. Ini karena nasihat ibu yang berhasil membuka pintu maaf di hati Nia yang semula tak bisa menerima bahwa kakak yang dia kagumi terkena surat skorsing dari sekolah.


Diakhir percakapan kami, Nia bahkan memberikan sebuah kata-kata dukungan untuk membantuku menghadapi masa hukuman. Dengan nada ramah dia berkata:


"Kak Ray tetep semangat buat belajar di rumah ya, jangan sampai buang-buang waktu dan ketinggalan pelajaran loh." ucapnya seraya berdiri sambil membawa piring bekas makan malamnya lalu melangkahkan kakinya ke dapur.


Mendengar kata-kata itu diucapkan olehnya langsung membuat hatiku tenggelam dalam rasa senang yang tak bisa digambarkan dengan imajinasi manusia. Dan karena perasaan ini aku pun tak bisa menanggapi ucapanya itu dengan jelas dan hanya bisa berkata pendek:


"Iya, terima kasih untuk sarannya Nia." ucapku dengan nada gugup seraya memandang ke arah Nia.

__ADS_1


Mendengar tanggapan dariku sempat membuat Nia menghentikan langkahnya untuk memberikan senyumannya ke arahku sebagai tanda bahwa dia senang dengan tanggapan yang aku berikan sebelum akhirnya kembali meneruskan langkahnya ke dapur untuk mencuci sendiri piring bekas makan malamnya. Aku pun segera mengikuti langkah Nia untuk mencuci piring bekas makan malamku tepat setelah dia selesai melakukan hal itu. Nia lantas masuk ke dalam kamarnya untuk memulai kebiasaan belajarnya setelah makan malam.


Aku juga bergegas mempercepat pekerjaanku di dapur karena ingin sesegera mungkin membaca novel ringangku lalu kembali memeriksa teks milik Manda yang dia pesankan kepadaku kemarin. Tapi setelah aku selesai mencuci piring dan hendak menuju ke kamar, tiba-tiba ibu mengajakku untuk bicara empat mata di meja makan. Ketika itu hatiku langsung merasa cemas dan berpikiran bahwa pembicaraan ini akan berisi teguran ibu karena hukuman skorsingku.


Sesaat kemudian kami sudah duduk berhadapan di meja makan, karena perasaan cemas yang mengganjal di hatiku lantas membuatku tak berani untuk memulai pembicaraan ini.


Akhirnya sepersekian detik kemudian ibu pun memulai pembicaraan dengan berkata:


"Begini Ray ada sesuatu yang pengin ibu ngomongin sama kamu?" ucap ibu dengan nada serius.


Dalam hati aku langsung bergumam: "Nah kan, ibu pasti akan ngomongin aku karena hukuman yang baru aja kuterima tadi pagi."


Tapi dengan keberanian hati, aku pun menanggapi perkataan ibu dengan berkata:


Ibu pun lantas memandangku dengan tatapan serius seraya memulai pembicaraan kami dengan berkata:


"Begini Ray, tadi ibu kan pergi ke rumah sakit buat jenguk temen kuliah ibu yang lagi sakit, terus ternyata dia punya anak perempuan yang umurnya seumuran kamu." ucap ibu menjelaskan kepadaku dengan nada tenang.


Setelah mendengar bahwa awal pembicaraan ibu tak menyinggung tentang hukuman skorsingku, rasa cemas di hati dan pikiranku lantas menghilang seraya memunculkan rasa penasaran dari dalam pikiranku karena untuk apa ibu sampai menceritakan pengalamannya tadi kepadaku, jadi aku pun menanggapi perkataan ibu dengan berkata:


"Terus apa hubungannya itu sama Ray, bu?" ucapku dengan nada heran seraya balik memandang ke arah ibu.


"Jadi begini Ray, kebetulan juga anaknya temen ibu itu satu SMA sama kamu loh, makanya ibu mau tanya ke kamu kira-kira kenal enggak sama anak ini?" ucap ibu dengan nada tenang menjelaskan maksud ucapannya yang pertama tadi.


"Heh beneran bu, memang siapa nama anaknya temen ibu itu, siapa tau aku tau." ucapku dengan nada pura-pura tertarik padahal merasa biasa aja.

__ADS_1


Mendengar reaksi tanggapan dariku yang terdengar antusias dengan perkataannya lantas membuat hati ibu merasa senang dan berkata:


"Oh Kayaknya kamu pengin tau banget ya Ray, syukur deh kalo begitu, berarti mungkin kamu bisa secepatnya kenalan sama dia ya." ucap ibu dengan nada senang seraya tersenyum kecil ke arah ku.


Jujur sebenarnya aku cuma berpura-pura senang mendengar perkataan dari ibu karena seperti yang kalian tau, di sekolah aku sangat susah untuk bergaul dengan orang lain kan. Jadi rasanya tak mungkin aku bisa berkenalan dengan anak perempuan dari temannya ibu yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan kami.


Alasanku pura-pura senang juga sebenarnya untuk mengalihkan pembicaraan ibu supaya tidak membahas tentang surat skorsing yang baru saja aku terima tadi pagi, gumamku dalam hati setelah mendengar perkataan dari ibu. Aku lantas kembali menanggapi perkataan ibu dengan berkata:


"Enggak sampai segitunya juga bu, Ray cuma pengin tau namanya buat bisa tau orangnya aja kok enggak lebih dari itu." ucapku dengan nada tenang.


"Aduh Ray, Ray kamu ini memang ya, dari SMP selalu aja susah kalo disuruh cari teman, jangan jadi orang yang terlalu tertutup gitu dong nak cobalah untuk bergaul dengan siswa dan siswi di sekolahmu." ucap ibu memberikan nasihat kepadaku dengan nada penuh kesabaran.


Secara pribadi aku adalah anak yang selalu berusaha untuk mematuhi nasihat orang tuaku, khususnya anjuran untuk lebih bergaul sejak aku duduk di SMP. Tapi entah kenapa, hatiku masih enggan untuk terlibat pergaulan lebih jauh dengan teman-teman sekelasku kecuali jika ada tugas kelompok.


Sebenarnya aku juga ingin bisa memiliki banyak teman yang bisa membuat cerita masa sekolahku menjadi lebih berwarna, tapi untuk saat ini hatiku masih belum siap untuk melakukannya. Akupun menanggapi perkataan ibu dengan Berkata :


"Iya deh bu, kalo begitu Ray akan coba buat kenalan sama anak perempuannya temen ibu." ucapku dengan nada setengah hati.


"Nah begitu dong Ray, jangan jadi anak yang tertutup terus kalo di sekolah ya." ucap ibu memberikan nasihat dengan nada tegas untuk merubah kepribadianku di sekolah.


"Oke bu mulai sekarang, Ray bakal coba membuka diri buat berteman sama teman-teman di sekolah deh." ucapku dengan nada gugup karena merasa terintimidasi dengan nasihat dari ibu.


"Baguslah kalo kamu mau berusaha untuk membuka diri dan mencari teman Ray, oh iya nama anak temen ibu yang seangkatan sama kamu itu namanya Mandalina Dwi Pratiwi, Ray."


Dalam sepersekian detik aku sempat tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ibu. Tapi sesaat kemudian aku tersadar bahwasanya hal-hal yang kebetulan terjadi seperti ini bisa saja terjadi dalam kehidupan kan?, gumamku dalam hati seraya menatap ibu dengan tatapan kosong.

__ADS_1


__ADS_2