
~❤️~
Aurora duduk di balkon kamar dan tak lupa mengunci pintu kamarnya agar tidak seorang pun bisa masuk ke dalam kamarnya.
ia menangis di atas balkon memikirkan cara agar bisa cepat pergi dari semua drama permainan kakaknya ini.
tidak mungkin ia membongkar semua rahasia ini, dan juga bukankah ia sudah terlambat? pasti semua keluarganya membencinya dan tidak menganggapnya ada.
Aurora menatap foto keluarga nya, dengan kerinduan teramat dalam, karena sudah 2 Minggu ini, ia tidak memeluk tubuh ibunya dan ayahnya, ia hanya memeluk sekali dan kakaknya meminta untuk bertukar posisi kembali.
jangankan untuk bertemu, bahkan sekedar berbicara lewat telfon saja Aurora tidak berani, takut rahasia besar mereka akan terbongkar.
saat sedang merenung, tiba tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar membuatnya mau tidak mau harus membuka pintu tersebut.
"ada apa bi"
"maaf nona muda, tuan meminta anda untuk turun kebawah menemui nya dengan nyonya Aurel"
"baiklah"
__ADS_1
Aurora pun bergegas turun ke bawah menuruni tangga. hingga saat sampai di tangga terakhir, ia melihat Alvaro sedang duduk memangku Aurel.
Aurora mendekati keduanya, ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "ada apa memanggilku..???"
"ohh kau sudah datang, aku hanya meminta kau untuk menemani kami mengelilingi kota Paris, dan juga aku tau kau pasti bosan terus berada di mension"
"tidak perlu, aku malah betah berada di dalam kamar ku terus" jawab aurora dengan wajah datarnya.
kemudian Aurora melenggang begitu saja tanpa berpamitan, tentu saja membuat kedua sejoli itu merasa emosi dengan sikap semena mena Aurora.
sesampainya di kamar.
Alvaro mengejar Aurora dengan perasaan marah yang menggebu gebu, hingga akhirnya masuk ke dalam kamar wanita itu.
"sial! bisa bisanya dia tidur dengan nyaman setelah membuat aku dan istriku marah" alvaro yang tersulut emosi melangkah mendekati aurora, dan tanpa banyak kata menyeret wanita itu sampai terjatuh dari atas tempat tidur.
"awww..," teriak Aurora saat tubuhnya terjatuh. kepalanya terasa begitu pusing dan pandangan matanya bum begitu melihat jelas karna efek terbangun dari tidur secara tiba tiba.
"kak...apa yang kau...ahkk" teriak kembali Aurora saat tangannya di tarik tiba tiba keluar dari kamar.
__ADS_1
"setelah kau bersikap tidak sopan terhadap istriku, kini dengan santainya kau tertidur ha!" bentak Alvaro sembari menarik tangan Aurora menuruni tangga.
diam diam dari bawah ruah utama, Aurel tersenyum puas melihat adiknya di siksa oleh suaminya.
ini yang ingin ia lihat selama ini, ia ingin adiknya meneteskan air mata kesedihan, buka kebahagiaan yang selalu ia dapatkan sementara dirinya tidak.
"apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Aurora dengan Bernai menatap tajam ke arah Alvaro, saat pria itu berhenti menyeretnya seperti hewan.
ia berusaha berdiri meskipun lututnya terasa sakit dan berdarah.
"Bagus, sekarang kau menunjukkan aslimu, wanita murahan, arogant, dan bahkan manja, dan hanya membebani semua orang dan wanita pembawa sial" Alvaro berkata dengan sinis.
tadinya, ia sempat merasa sedikit kasihan saat mendengar teriakan kesakitan Aurora, tapi sekarang perasaan itu sudah lenyap saat melihat sosok Aurora yang sebenarnya.
"mulai detik ini, kau tidak boleh masuk ke dalam mension dan harus terus berada di luar sebelum aku dengan Aurel pulang mengerti??"
"untuk apa? aku tidak mau" ucap Aurora hendak beranjak kembali masuk ke dalam mension, namun kembali terjungkal kebelakang saat suaminya kembali menarik tangannya dengan kasar.
"apa kau tuli? aku bilang kau tidak boleh masuk" bentak Alvaro berjongkok dan mencengkram rahang Aurora dengan kuat"
__ADS_1