Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI

Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI
EXP 44


__ADS_3

~❤️~


byur!!


"bodoh! apa yang kau lakukan, lihatlah bajuku menjadi basah semua" pekik Aurora merasa kesal pada pria tampan itu.


Alvaro hanya terkekeh kecil. "siapa suruh kau menendang kakiku sayang" genitnya dan menarik tubuh Aurora dan mendorongnya hingga kepentok ke dinding kolam.


Alvaro dengan senyum mesumnya menahan tangan Aurora agar tak dapat bergerak, pria itu menghimpit tubuh wanita itu, semakin membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


"apa kau gila, disana ada pengawal bagaimana jika mereka melihatnya" bisik Aurora sembari sebentar bentar melirik ke arah pengawal Alvaro. "kenapa? mengapa meski malu, aku suamimu"


"cihh, lepaskan aku sekarang tuan Alvaro Alexander" sinis Aurora menatap tajam pria itu. "ya itu namaku nyonya Aurora Alexander"


"sejak kapan namaku berganti menjadi Alexander??"

__ADS_1


"semenjak kau menjadi istriku" Alvaro langsung membungkam bibir merah itu dengan bibirnya, Alvaro menekan lebih dalam membuat Aurora menjadi sulit bernafas. apa yang harus ia lakukan? tangannya saja ditahan oleh pria itu, tubuhnya? tentu saja terhimpit oleh tubuh kekar Alvaro.


Aurora hanya bisa pasrah, dari pada harus membuang buang tenaga namun tak bisa menyingkirkan pria itu. perlahan Alvaro melepaskan pangutannya dan menatap Aurora sangat dalam.


"hiduplah bersamaku selamanya, aku yang akan menghadapi semua keluargamu nanti, aku tau kau pasti takut kembali karna orang tua mu membencimu, tetapi percayalah, hanya kau satu satunya menantu di keluarga Alexander.


"aku tidak perduli apa katamu, kau sangat mencintai kakakku, kau ingin hidup bersamaku karna ada Abercio dan Queen" tiba tiba hujan turun dengan derasnya, Aurora dan Alvaro masih setia berada di kolam. "apa kau butuh bukti jika aku sangat mencintaimu lebih dari Alberto mencintai Ariana?"


"kau tidak bisa berkata seperti itu, karna cinta kakakku sangatlah besar pada istrinya, bahkan ia rela mati demi istrinya sekalipun"


"ya kau memang seperti kakakku, sangatlah kejam, bahkan dulu tak segan segan kau ringan tangan padaku" ucap Aurora dengan mata berkaca kaca, namun air matanya tertutupi oleh hujan.


"maafkan aku, dulu aku sangat terobsesi pada kakakmu Aurel dan hatiku hanya mencintaimu dari dulu"


"aku tidak tau harus mempercayaimu atau tidak Alvaro, perbuatan biadab mu membuatku takut untuk hidup bersanding denganmu"

__ADS_1


karna tak kunjung mendapat kepercayaan dari Aurora, dengan kasarnya ia meninju dinding kolam yang terbuat dari keramik itu, hingga keramik itu pecah. tangan Alvaro mengeluarkan darah segar, bahkan hingga membuat kolam berubah menjadi warna merah karna darahnya.


Aurora terkejut dan menutup mulutnya menggunakan tangannya, tubuhnya yang masih di himpit oleh Alvaro membuatnya sulit untuk bergerak dan hanya bisa berteriak.


Alvaro mengambil serpihan keramik itu dan menatap tajam ke arahnya. "Alvaro apa kau akan membunuh ku???" ucap Aurora bergetar ketakutan Alvaro bisa merasakannya itu.


"aku tidak akan pernah membiarkan ibu dari anakku pergi meninggalkanku sebelum aku yang meninggal dunia ini lebih dulu"


"apa maksudmu"


"hanya ini bukti yang aku punya Aurora, aku mengorbankan nyawaku, demi mendapatkan cintamu, aku bersumpah atas itu, jika kau tidak mencintaiku aku memilih untuk mengakhiri hidupku saja" saat Alvaro hendak menusukkan serpihan keramik itu di lehernya, Aurora menahannya dengan cepat hingga tangannya tertusuk dan mengeluarkan darah.


Alvaro tentu saja terkejut dan membuang serpihan keramik itu dan menarik tangan istrinya. "apa yang kau lakukan, mengapa kau menahanku"


"aku tidak ingin anak anakku hidup tanpa seorang ayah" ucap Aurora lirih dengan nafas sedikit tersendat menahan rasa sakit di tangannya.

__ADS_1


"jangan akhiri hidup mu hanya sebuah cinta Alvaro, cinta bisa kembali jika kau bertahan untuk mendapat kan cinta dari seseorang yang engkau cintai, namun jika cinta tak kembali padamu, lebih baik kau meninggalkan nya, dan jangan pernah untuk kembali mengejarnya" terang Aurora dengan sedikit deraian air mata


__ADS_2