Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI

Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI
EXP 48


__ADS_3

~❤️~


"Queen cepatlah makan, dan segera beristirahat"


"baik mom"


mereka makan dengan tenang, meski sedikit ada masalah tadi, namun kini mereka kembali seperti biasa, menganggap kejadian itu seolah olah tidak terjadi.


di kediaman Alberto.


pria tampan itu berada di ruang kerjanya ditemani asistennya Lucas. pria itu menyeringai sinis. "masih syukur aku membuka jalan untuk memperbolehkan mu masuk ke negara Italia, jika tidak mana mungkin kau bisa masuk ke negara italia" sinis Alberto masih geram dengan adik iparnya.


jika Alvaro bukan mantan asistennya sekaligus teman masa kecilnya hingga sekarang, sudha di pastikan Alberto akan membunuh pria itu. dan masih syukur Aurel juga adik kandung alberto , sehingga pria itu tak menyakiti nya sama sekali, biarlah adiknya itu mendapatkan hukuman dari ayah dan ibunya.


tiba tiba, seorang wanita masuk kedalam kamar membawa segelas jus yang Alberto minta.


istrinya Ariana, wanita itu masuk dan menaruh jus itu di atas meja. setelah itu wanita itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ariana benar benar marah karna suaminya itu kini mengabaikannya, bahkan suaminya itu selalu tidur di ruang kerja beberapa hari belakangan.


Alberto menghela nafasnya dengan berat. ingin sekali ia melepas bebannya dan menghabiskan waktu bersama istrinya. sudah semestinya sang anak menggantikan dirinya, namun matheo masih SMA.


"Lucas, selesai kan semuanya, aku akan pergi ketempat istriku"


"siap tuan"


Lucas asisten yang penurut dan tidak pernah membantah sedikitpun, beda halnya dengan Alvaro dulu, Alvaro selalu saja mengumpat diam diam, maka dari itu gaji Lucas lebih besar dibandingkan dia.

__ADS_1


asisten ke dua Alberto untuk menjaga markas sekarang Maxim, pengawal yang di angkat menjadi asisten Markas Alberto.


dalam kamar.


Alberto melihat istrinya yang berdiri di balkon dengan menaruh kepalanya di Railing balkon.


Alberto mendekatinya dan memeluk dari belakang, pria itu meletakkan kepalanya di atas kepala Ariana.


"kau masih marah padaku hmm??"


"...."


"sayang, aku bertanya padamu"


"...."


Alberto menaruhnya di pangkuannya, Ariana membuang wajahnya memilih untuk menikmati pemandangan kota.


Alberto menarik dagu wanita itu agar bertatapan dengannya. "sayang maafkan aku, pekerjaan ku sangat banyak, aku hanya dapat tidur saat pekerjaanku selesai, itu saja aku masih tertidur, jadi ku tak sempat untuk kembali kekamar"


"ya sudah, mengapa kau tidak menikahi saja pekerjaan mu, aku akan mencari pria lain" bohong Ariana yang memang sedang kesal karna suaminya itu begitu sibuk tanpa melirik kearahnya sama sekali dari beberapa hari yang lalu.


"apa? coba ulangi perkataan mu tadi? siapa pria yang akan kau nikahi! apa itu sky" ucap Alberto sedikit tinggi karna rasa cemburu tingkat dewa.


"sky suaminya Luna, mengapa kau bawa bawa dia"

__ADS_1


"sayang, aku tak suka kau berbicara seperti itu, maka dari itu kau akan mendapatkan hukuman yang layak" muncul seringai licik di wajah pria itu, Ariana menelan salivanya dengan susah.


ia menyesali perkataannya dan mengutuk suaminya itu. alhasil mereka pun bermain hingga Ariana merasa sangat lemas.


negara Italia.


masih di apartemen, kini Alvaro berada didalam kamar istrinya, pria itu tak mau menjauh dari Aurora, wanita itu menjadi sedikit risih, alasannya takut Aurora akan pergi lagi darinya.


"jika kau begini aku tidak bisa membuat surat pengunduran diri Alvaro"


"berikan saja nomor ponselnya, aku yang akan berbicara dengan nya"


"bagaimana aku mau bicara, ponselku saja kau buang hingga kini tak berbentuk" kesalnya karna kebodohan suaminya itu.


"hhehe aku lupa sayang"


Alvaro merogoh ponsel di sakunya, ia pun menghubungi seseorang yaitu asisten Ali.


"ada yang bisa saya bantu tuan"


"kemana ponsel yang aku minta kemarin"


"saya menaruhnya di dalam lemari nyonya tuan, bukankah Anda yang menyuruhnya"


"baiklah"

__ADS_1


__ADS_2