Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI

Aku Bukanlah Seorang RAHIM PENGGANTI
EXP 5


__ADS_3

~❤️~


Alvaro meninggalkan istrinya, ia ingin menelfon istri pertamanya, ia sudah sangat merindukan istrinya itu.


Aurora mengikuti langkah Alvaro, ia duduk di ranjang mendengar pembicaraan Alvaro dengan kakak kembarnya.


"sayang, aku tidak mau tau besok kau harus pulang"


"iya sayang, aku pasti pulang, tapi Aurora juga harus sering sering melakukan itu padamu agar cepat memiliki anak dan semuanya selesai, aku tak kuat menahan cemburu"


"aku tidak akan pernah mencintai wanita manapun selain kamu" ucap Alvaro berhasil menusuk hati Aurora.


"jika bukan karna kakak ku menginginkan seorang anak, aku juga tidak akan mau menikah dengan mu Alvaro Alexander" batin Aurora menahan sakit di dada, lantas pria cinta pertama nya mengatakan hal yang begitu menyakitkan.


Aurora menundukkan kepalanya, ia memilih untuk bermain ponsel dan mengenakan earphone di telinganya agar tidak mendengar pembicaraan Alvaro dengan kakak kembarnya.


"sayang apa Aurora melayani mu dengan baik"

__ADS_1


"cukup baik, akan tetapi aku terbiasa di layani olehmu"


"sabar sayang, aku melakukan ini demi kebahagiaan kita berdua"


"sayang bolehkah aku bertanya?"


"tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan"


"apa kau tidak menyesal melakukan ini pada Aurora, bagaimana pun ia adik kembarmu bukan"


"aku kasihan,akan tetapi keluargaku bersikap pilih kasih terhadapku, selalu Aurora yang di perlakukan seperti ratu, aku seperti orang lain"


"baiklah jangan tidur terlalu malam sayang, besok kau harus ke kantor pagi pagi bukan"


"kau juga sayang, nanti aku bisa sakit jika tidur terlalu malam"


mereka pun mengakhiri pembicaraan, Alvaro masuk kedalam mencari keberadaan istri ke duanya. ia melihat Aurora sedang memainkan ponselnya dengan mengenakan earphone di telinganya.

__ADS_1


Alvaro mengguncang lengan Aurora hingga wanita itu menatap ke arahnya. "ada apa kak??"


"kau tidur lah di sofa, aku tidak ingin tidur seranjang denganmu"


"baiklah"


saat Aurora hendak melangkah menuju sofa, Alvaro menarik tangannya membuat ia menghentikan langkah. "ada apa lagi kak?"


"ini cek karna tadi kau melayani ku hingga aku sangat puas, dan ingat! cepat hadirkan anak itu di rahimmu agar urusan kita cepat selesai" ujar Alvaro benar benar merendahkan harga dirinya.


Aurora tersenyum miris, ia mendorong cek itu dan tak menerimanya karna baginya, ia bukanlah wanita murahan. "ambil saja kak, aku menolong kalian secara ikhlas tak butuh imbalan, dan satu lagi sesuai kesepakatan, aku akan menghadirkan anak yang sehat untuk kalian dan segera pergi dari kehidupan kalian" ucapnya dengan memantapkan hatinya dan tetap tersenyum menahan sakit.


"bagus aku pikir kau wanita yang di luaran sana" setelah mengucapkan kalimat itu, Alvaro langsung menaruh Kemabli cek itu di atas nakas, dan merebahkan dirinya tak memperdulikan Aurora yang masih mematung menatapnya dengan keadaan yang menyedihkan.


Aurora memilih keluar kamar untuk melepaskan beban ini, ia tau jika ini balasan karna ia menjadi putri kesayangan keluarga ayahnya.


ya, ia ingat dengan sangat jelas jika semua keluarganya itu lebih menyayangi nya dari pada Aurel, karna ia berbeda hanya semenit dengan kakak nya.

__ADS_1


Aurora berada di kursi taman, menatap langit langit yang di hiasi bintang bintang indah yang memenuhi langit.


taman yang cukup luas menambah suasana menjadi semakin sunyi. Aurora mendongak keatas, seolah olah ia berbicara dengan Tuhan sekarang.


__ADS_2