
~❤️~
"ya tuhan, apa ini adalah cobaan untukku, atau ini balasan karna aku lebih di sayang dari kakak kembarku"
"jika memang iya, aku akan menerimanya dengan ikhlas ya tuhan" lanjutnya lagi.
Aurora meneteskan air mata, ini adalah cobaan yang sangat menyakitkan baginya, apa ia akan merasakan kesedihan yang tidak akan ada habisnya. saat asik melamun, tuan tiba ponselnya berdering menandakan ada seseorang yang menghubunginya.
"halo kak"
"hai Aurora apa kau dirumah?" pertanyaan kakak iparnya Ariana mampu membuat Aurora kalang kabut.
"eh-emm itu kak, ak aku..tentu saja aku dirumah memang nya ada apa?"
"berarti kau sudah tau bukan jika akan ada makan malam di mension ded kenzo"
"eh, kayanya aku belum tau,"
"benarkah?"
__ADS_1
"iya"
Ariana cukup heran, namun ia tidak memperpanjang karna kini ia harus menyiapkan makan malam untuk anak dan suaminya.
apalagi sedari tadi Alberto tidak bisa diam, pria itu selalu bermain di area kesukaannya.
"baiklah, kalau begitu aku tutup ponselnya"
"emm iya kak"
setelah Ariana mematikan ponselnya, dengan buru buru Aurora menghubungi kakak kembarnya dan menceritakan apa yang terjadi.
"kau tenang saja, mom memang belum berbicara apa pun padaku"
"tidak, bahkan seluruh keluarga memanggilku Aurora, dan ternyata menjadi dirimu itu sangat enak ya, di beri kasih sayang yang lebih oleh mom and ded, mereka begitu memanjakan ku tadi, tau begini mengapa kita saudara kembar dan mengapa tidak aku saja yang menjadi adik kak alberto kau tidak ada" ujar Aurel dengan enteng tanpa memikirkan perasaan Aurora sekarang.
"kak, mengapa kau berbicara seperti itu? apa kau menyesal kita terlahir kembar"
"tidak, aku tidak bermaksud begitu, sudahlah kau tidur sekarang, dan kau jangan sampai merebut suami kakak mu sendiri"
__ADS_1
"tenang saja, aku tidak akan merebut suami kakak kembarku sendiri"
"baguslah"
Aurel pun mematikan ponselnya, Aurora memegang dadanya yang terasa sakit, hari ini benar benar hari tersiksa di hidupnya, menjadi rahim pengganti kakak kembarnya sangat menyakitkan. sungguh, ia menginginkan hidupnya yang dulu sekarang, ia ingin bermain dengan teman teman nya seperti dulu.
Aurora pun masuk kedalam mension, ia kembali menuju kamar, namun saat masuk ia minat Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi.
"dari mana kau?" tanyanya menatap tajam kearahnya
"aku habis dari taman kak"
"kau tau ini sudah malam? apa di mension utama kau di biarkan bebas oleh alberto? aku tak yakin kau wanita baik baik" ucapan menyakitkan itu keluar begitu saja dari mulut pria itu, hingga berhasil membuat wanita di depannya ini menangis dengan lepas.
"mengapa Kaka bicara seperti itu? bukankah kesucian ku sendiri kakak yang merenggutnya dari ku"
"aku tau itu, akan tetapi belum tentu bibirmu itu aku yang pertama menyentuhnya"
Aurora yang mendengarnya tentu saja sangat sakit, ia meninggalkan pria itu begitu saja, malam ini ia memilih untuk tidur di kamar lain dari pada harus tidur satu kamar dengan suami nya yang bermulut pedas tak berhati itu.
__ADS_1
ia tidak akan tahan mendengar itu semua, ia ingin memeluk ayah dan ibunya saat ini, namun apalah dayanya, ia sudah menjadi istri orang kaya no 2 sekarang.
ia tak mungkin langsung ke mension utama, bisa bisa rencana mereka akan terbongkar oleh ibu dan ayahnya