
πππ
hari sudah malam. tampak Aurora berdiri di balkon memandangi hutan gelap yang memang terlihat sangat jauh dan setinggi pohon pisang. namun aslinya pohon itu tingginya melebihi pohon kelapa. Aurora kembali mengingat ayah dan ibunya, ia juga merindukan kakak nya Alberto.
"apa yang sedang kakak lakukan, aku juga merindukan kakak ipar" gumam nya sendiri. hingga tiba tiba sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. "sayang kau membuatku kaget"
"benarkah? apa aku membuat jantung mu copot" gumamnya sembari mencium perlahan leher jenjang berwana putih mulus itu. "Alvaro, itu menggelikan, kau membuatku geli" ucap Aurora terkekeh pelan.
"besok kau ikut ke kantor ku ok"
"ngapain? aku harus menjaga anak anak"
"Tidak pikirkan anak anak sayang, mereka sudah ada 2 Beby sister dan juga, mereka memiliki 4 orang pengawal"
"sayang, jika kau seperti itu sama saja kau mengekang mereka" ucap Aurora khawatir , ia takut anak nya kurang beradaptasi dengan lingkungan hingga mereka akan menjadi takut pada seseorang. "Tidak akan sayang, mereka akan di bawa jalan jalan kemana pun yang mereka mau besok, dan itu kesempatan kita berdua" ucap Alvaro memeluk erat tubuh ramping Aurora.
"terserah kau saja sayang, asalkan anak anak kita bahagia"
__ADS_1
Alvaro tersenyum, ia mengecup singkat bibir merah muda yang di warnai oleh lipstick. Aurora sengaja menahan kepala Alvaro hingga ciuman mereka pun berlanjut lama. alvaro mendudukkan tubuh istrinya di atas meja rias. kisah mereka saling membelit, Alvaro semakin bersemangat mencium istrinya, apalagi wanita itu membalasnya.
tiba tiba pintu di ketuk seseorang. awalnya mereka tak peduli, namun ketukan itu semakin keras hingga membuat aurora menahan kepala suaminya. "sayang ada yang mengetuk pintu"
"biarkan saja sayang"
"eumm- Alvaro, kasihan dia siapa tau itu anak anak" Alvaro mendengus kesal, ia menatap tajam ke arah pintu, kemudian ia pun berjalan membukanya. benar saja belum juga melihat tiba tiba pintunya terdorong hingga membuat Alvaro mundur karna terkejut.
"Deddy!!! momy!!!" teriak si kembar berlari mencari ayah dan ibu mereka. Aurora terkejut, ia segera turun dari meja rias dan merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan karna ulah Alvaro. Alvaro mendengus sebal, anak anaknya itu mengganggu waktu nya dengan istrinya.
"Queen melihatnya dari mana"
"lihat di laptop mom hhhe"
"aku juga mom, Abercio ingin membeli alat bela diri, agar Abercio semakin jago dalam membela diri"
"baiklah, besok kalian akan di antar sama Beby sister dan pengawal kalian ok"
__ADS_1
"horee!! terimakasih ded"
"tidak!" si kembar yang awalnya berjingkrak kesenangan kembali berhenti dan menatap ibunya dengan tatapan butuh penjelasan. "kenapa mom? kenapa tidak boleh"
"sayang..bukankah laptop mu masih bagus, dan juga Abercio bukankah alat yang kau katakan itu sudah lengkap di ruang pribadi mu"
"tapi itu sudah usang mom, kami ingin yang baru"
"itu benar mom, laptop Queen juga udah mulai rusak rusak"
"sayang, apa kalian lupa jika kita dulu sangat berhemat"
si kembar menundukkan kepalanya, memasang wajah sendu. "sayang biarkan saja"
"anak anak Deddy besok tetap beli, tenang saja tidak usah khawatir" ujar Alvaro berusaha membuat keduanya kembali ceria. "tapi momy" tanya Queen perlahan menatap ibunya. Aurora pun akhirnya mengiyakan karna merasa kasihan pada Kedua anaknya. "horee thanks mom i love you"
Aurora merasa gemas, ia mencium satu persatu anaknya. ia sangat senang jika kedua anaknya merasa sangat senang.
__ADS_1