
"Veliaaa kau mau kemana lagi??," teriak David begitu melihat Velia menuju garasi mobil dengan pakaian yang rapi.
Velia menoleh ke sumber suara lalu berkata. "Berburu!!,
"Tunggu aku!!," David lalu berjalan dengan langkah panjangnya menyusul Velia.
"Aishh kenapa dia ini selalu saja ikut!," gerutu Velia
Velia menarik David saat pria itu hendak duduk di kursi pengemudi . "Aku saja yang bawa! kalau tidak mau jangan ikut aku!,"
"Kau iniii??!!!," David mengangkat kedua tangannya seolah ini mencekik.
''Cekik aku kak.. cekik aku!!," tantang Velia dengan wajah memohon.
David akhirnya berpindah ke kursi sebelah.
''Kenapa aku bisa suka dengan wanita macam itu!," gerutunya dalam hati.
Setelah itu mobil mereka melaju meninggalkan mansion Jordan.
''Kita mau kemana Ve?,''
''Ketemu seseorang! kau jangan ikut lebih baik tunggu saja di mobil!," perintah Velia.
''Kenapa??,'' David masih penasaran.
Ckiitt..
Tiba-tiba Velia menghentikan mobilnya.
''Kalau Kak David banyak tanya, lebih baik turun sekarang!!'' ancam Velia yang merasa kesal.
David menggelengkan kepala lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Velia melajukan mobilnya lagi, tak lama kemudian kemudian mereka tiba di sebuah taman kota.
''Jangan kemana-mana!! awas kalau hilang, aku tinggal!!,'' Velia lalu keluar dari mobil sambil membawa dua botol minuman.
Dia berjalan lalu mendekat ke arah seorang pria yang tengah duduk di bangku taman seorang diri, suasana di taman sedang sepi karena para pengunjung sudah pulang.
''Apa aku terlambat?,'' ucap Velia lalu duduk di samping pria itu.
''Tidak!,''
''Revan?!,'' panggil Velia.
Pria itu nampak tertunduk dengan mata yang mulai berair. ''Maafkan aku Ve!! aku terbawa emosi saat menamparmu tempo hari!!,''
Velia memutar bola matanya, kali ini dia harus berpura-pura baik di depan Revan.
Dengan tersenyum Velia menjawab. ''Aku maafkan,''
"Awas saja setelah ini akan ku beri kau shock terapi!," batin Velia.
Velia melihat situasi sudah aman, dia mengeluarkan sebuah alat seperti pena lalu menusuk lengan Revan.
"Apa yang kau lakukan Ve?!," seru Revan lalu ia berdiri, beberapa detik kemudian dia terduduk kembali dan pandangannya mulai kabur lalu tak sadarkan diri.
Velia menoleh ke pria yang berdiri tak jauh dari mereka. "Bawa dia!!," perintah Velia melalui headset yang terpasang di telinganya.
Beberapa pria pun muncul dan membawa Revan masuk ke dalam mobil mereka, sedangkan Velia kembali ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Ceklek..
"Astaga!!," Velia terkejut melihat David menatap dirinya dengan tatapan maut.
"Dasar kau ini berandal cantik!!, kau menculik pria secara terang-terangan!!," ucap David dengan penuh penekanan.
Velia tersenyum hingga menampakan seluruh giginya yang indah. "Terima kasih! aku memang cantik!!" lalu ia masuk ke dalam mobil.
David membuang wajahnya sambil melipat kedua tangan di dada. "Apa tidak bisa kita langsung membunuh mereka semua supaya semua masalah ini cepat berakhir Ve?!,"
"Tidak semudah itu Ferguzo!!," Velia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Aku bukan Ferguzo!!," kesal David namun hanya di balas senyuman oleh Velia.
Mobil berhenti di depan markas Red Dragon.
Velia menunjuk seseorang dengan telunjuknya.
"Kau!! kemari!!," perintahnya.
Pria yang di tunjuk lalu berjalan ke arah Velia.
"Ada apa Bos?!,"
"Bawa dua pria sial*an itu ke ruangan khusus!," perintah Velia.
"Baik Bos!," jawab Pria itu lalu pergi.
David menghela napas panjang, ia bisa menebak Velia akan berbuat apa.
Mereka berdua berjalan bersama lalu masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti penjara.
"Velia?!," ucap Revan begitu melihat wajah wanita cantik itu ada di hadapannya.
"Iya itu namaku!!,"
"Dimana aku?! apa yang akan kau lakukan?," seru Revan.
"Aku akan membuatmu melihat kenyataan yang sesungguhnya!,"
David ikut duduk di samping Velia. Revan menatap David tidak suka.
"Aku tidak akan menganggu reuni kalian!! aku hanya jadi penonton terbaik saja!," David seakan mengerti maksud tatapan Revan.
"Apa harus dengan cara seperti ini Ve?!,"
"Dulu kau tidak begini Ve!, ternyata benar ucapan Tania tentang mu!!," Revan tersenyum kecut.
Plaakk.
Velia menampar Revan dengan keras hingga sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.
"Lihat ini!," Velia menunjukan rekaman cctv dimana Tania menyuruh kedua orang pria yang kini ada bersama mereka membawa Revan masuk ke dalam kamar Tania.
"A..Apa ini??," Revan menatap Velia dengan tajam.
"Seharusnya di malam pertama kita, kita bisa melewatinya dengan indah namun sayang Tania malah menjebak mu dan kau melakukan itu dengan wanita lain Revan," hardik Velia.
"Tidak mungkin!! aku tidak ingat apa pun Ve, sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana dia bisa hamil anak ku!!," jelas Revan
Velia menggelengkan kepala. "Sekarang kau sudah tahu!!,"
__ADS_1
"Tanyakan saja pada kedua pria itu!!," Velia menunjuk ke arah pria di sampingnya.
"Apa benar semua itu??," bentak Revan.
Kedua pria itu menganggukkan kepala.
Revan tertunduk dan terdiam, air matanya mulai berjatuhan. Dia tidak menyangka orang yang saat ini dia percaya ternyata telah membohonginya.
"Itu belum seberapa Revan, Sebenarnya masih ada satu hal yang sangat penting yang ingin ku beri tahu!!," kata Velia.
"Katakan saja semuanya Ve!!," desak Revan.
Velia berdiri lalu berjalan ke arah Revan.
"Istrimu tersayang itu telah membunuh anak kita!!," ucap Velia.
"Bagaimana bisa?!,"
"Dia menyuruh kedua pria itu untuk membunuhku!!, mereka juga melecehkan ku hingga aku akhirnya kehilangan malaikat kecilku!,"
"Kalian katakan padanya!!," perintah Velia.
"Iya benar, dia yang menyuruh kami!!," ucap pria itu dengan gemetar, ia tahu hidupnya akan berakhir sekarang.
Doorr.
Benar saja, peluru dari pistol Velia tepat mengenai jantungnya. Pria itu tewas seketika, Revan yang melihat Velia sangat terkejut.
"Velia!!?," ucap Revan.
Bersambung...
...★★★★★★...
Author ada rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca sambil nunggu up berikutnya. Ayoo pada mampir yah di novel temen author..
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.
__ADS_1