
Seminggu sudah Velia tinggal di rumah Elleana. Dirinya merasa cukup beruntung di pertemukan dengan orang baik yang mau menolongnya, di sisi lain dia merasa kesal kenapa tidak membiarkan dirinya mati saja saat itu.
Setelah kesehatan Velia membaik, Elleana memberitahu kenyataan pahit untuk kesekian kalinya bagi Velia bahwa dia telah kehilangan malaikat kecil yang hidup di rahimnya.
Meskipun kata David bayinya belum terbentuk sempurna, tapi bagi Velia itu tetap malaikat kecilnya.
Semenjak mendengar kabar itu Velia hanya berdiam diri di dalam kamar. Velia merasa menyesal telah datang ke negara ini.
''Maafkan mama sayang, mungkin takdir memang tidak mengizinkan kita bertemu, tunggu mama di sana nak," ucap Velia dalam hati lalu mengiris pergelangan tangannya. Darah segar terus mengalir, Velia tidak meringis atau kesakitan karena luka di hatinya lebih pedih dari apa pun.
Velia hanya memejamkan mata seperti menikmati saat-saat terakhir hidupnya.
Terdengar samar-samar suara memanggil namanya.
Krriieeett
Terdengar suara seseorang membuka pintu.
David dan Luna terbelalak melihat Velia sudah tergeletak dan bersimbah darah.
Mereka berlari ke arah Velia.
"Kak cepat siapkan mobil!!!." teriak David. Luna pun bergegas keluar memanggil sopir.
David membuka dasi yang di pakainya lalu mengikat lengan Velia sebagai pertolongan pertama.
David membopong tubuh Velia yang terasa sangat ringan baginya. David berlari menuju mobil yang sudah ada di depan pintu rumah lalu segera masuk.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!," perintah David.
Kali ini Luna yang membawa mobil katena David tahu kemampuan kakaknya tidak di ragukan lagi dalam hal kebut-kebutan di jalan
Setelah berhasil menerobos jalan dengan kecepatan tinggi akhirnya mereka sampai di rumah sakit milik David.
Tanpa menunggu dokter jaga datang David membawa masuk Velia ke ruang instalasi gawat darurat (IGD).
Para dokter dan perawat jaga segera membantu David. Setelah ditangani oleh dokter Velia di pindah di ruang rawat.
David dan Luna dengan setia berada di sisi Velia.
"Sepertinya kau senang sekali berada di rumah sakit," ujar David begitu melihat Velia tersadar.
"Aku berharap ketika membuka mata, aku sudah di dunia lain!." Velia tersenyum kecut.
"Apa yang ada di pikiran mu hah?," bentak David.
"Apa orang-orang yang menyakitimu akan sedih melihat kondisimu seperti ini!!!??, tidak Ve mereka justru bahagia karena ini lah yang mereka inginkan!!." ucap David dengan emosi yang meluap-luap.
"Dan satu hal lagi!, anakmu tidak akan bahagia di atas sana melihat ibunya yang pengecut seperti mu!!." lanjutnya.
"David!! cukup!!," seru Luna. David lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Brraakk!. Terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras.
Luna memeluk Velia dan mengelus-elus pundaknya. Velia hanya terdiam perkataan David melayang-layang di pikirannya.
Luna melepas pelukannya lalu berkata. "Ayo bangkit Ve, kamu pasti bisa."
Velia mengangguk, ia merasa perkataan David memang benar adanya.
"Maafkan sikap David yah Ve. Dia memang kadang cuek dan menyebalkan tapi dia sangat peduli dengan orang lain," ungkap Luna.
"Tak apa kak Luna, aku justru berterima kasih padanya telah membuka jalan pikiranku yang buntu," ucap Velia.
"Jangan pernah merasa sendiri Ve, aku akan selalu membantu mu apa pun itu," kata Luna.
Velia terdiam sesaat. "Apa kak Luna dapat membantuku?" tanya Velia.
"Tentu!, apa pun itu!," jawab Luna.
"Aku ingin memberi pelajaran pada pria brengsek itu, bahkan aku ingin membunuhnya karena telah membuat anak pergi selama-lama," ucap Velia dingin.
"Aku tidak bisa!, kau sendiri yang akan melakukannya. Aku akan menemukan kecoa jalanan itu dan sisanya terserah padamu!," aura pembunuh darah dingin keluar saat Luna mengatakan itu.
"Baiklah!," balas Velia sembari menganggukkan kepala.
Sebelum pergi Elleana memberikan tugas pada Luna dan David untuk menjaga Velia sementara dia pergi ke negara A.
Velia kini merasa cukup kuat menghadapi semua ini. Velia sadar sekarang mengapa kedua orang tuanya begitu protektif kepada dirinya, karena ternyata sesakit ini pernah kehilangan seorang anak yang sangat di cintai.
Berbanding terbalik dengan keadaan Revan yang saat ini merasa sangat gelisah. Sedari tadi hanya mondar-mandir di ruang kerjanya.
Meskipun Velia tinggal bersama orang tuanya setelah berpisah tapi Revan tidak pernah absen menghubungi Velia walau tak pernah sekalipun Velia menjawab telepon dan membalas pesan dari Revan.
"Perasaanku tak enak beberapa hari ini padahal semua baik-baik saja kecuali Velia yang menghilang tanpa kabar." batinnya
Revan pernah datang ke rumah orang tua Velia tapi sesampainya di sana Revan di usir secara kasar. Orang tua Velia sangat marah dan kecewa pada Revan.
Namun Revan hanya pasrah dan menerima perlakukan kurang menyenangkan itu, karena Revan merasa dialah dalang dari kekacauan ini.
"Apa aku menghubungi Kinara saja, dia pasti tahu dimana Velia!," gumam Revan.
Beberapa kali panggilan teleponnya tidak terjawab membuat Revan sempat menyerah.
Dia lalu mengirim pesan "Tolong jawab teleponku sekali saja Nara, aku mohon!."
Beberapa detik setelah pesan terkirim panggilan telepon masuk dari Kinara.
"Ada apa," kata Kinara dari seberang telepon.
"Apa kau tahu dimana Velia sekarang?,"
"Tidak tahu!," ketus Kinara.
__ADS_1
"Aku mohon Ra hanya kamu harapanku saat ini, beri tahu aku dimana Velia sekarang!, atau tidak beri aku nomor ponselnya yang baru!," mohon Revan.
"Aku jadi ikut membenci mu Revano, kau membuat aku kehilangan calon keponakanku!!," seru Kinara.
"Keponakan?? Apa maksud mu Ra??."
Tut. tut. tut. panggilan telepon telah di putus sepihak oleh Kinara.
"Hallo!! Hallo!! Kinara!!,"
Aaarrggghhh.
Revan mengacak-ngacak rambutnya. Dia merasa kesal bukannya mendapat informasi malah mendapat teka-teki.
"A. Apa tadi dia bilang?, keponakan?, apa jangan-jangan Velia hamil?!," gumam Revan.
Revan terduduk lemas dilantai.
"Astagaa! anakku!!, maaf aku ini ayah yang bodoh, aku tidak bisa menjagamu maafkan aku!," ucap Revan menitikan air mata lalu terisak.
Setelah meluapkan kesedihannya, Revan bangkit dari duduknya lalu mengambil kunci mobil.
Dia lebih memilih pulang ke rumah karena percuma saja tetap di kantor dengan suasana hati yang tidak baik tidak akan membuatnya konsenterasi.
Selama perjalanan Revan selalu merutuki dirinya yang bodoh.
Sesampainya di rumah ia membuka pintu dan langsung masuk begitu saja tanpa memperdulikan Tania yang sedari tadi memanggilnya.
Tania menarik lengan Revan. ''Revan! ada apa!!?." ucapnya.
Revan menepis tangan Tania dengan kasar.
''Kamu bilang ada apa?!! ini semua karena kamu!," hardik Revan.
''Aku??!," kata Tania sembari menunjuk dirinya.
''Aku tidak tahu apa masalah yang telah aku buat?? aku hanya di rumah saja sedari tadi!," lanjut Tania yang mulai emosi.
''Jika kita tidak bertemu aku tidak akan kehilangan anak dan istri yang sangat aku cintai Tania!," seru Revan.
''Apa kau tidak mencintai kami??," Tania terisak.
''Aku tidak mencintaimu! tapi aku mencintai anak kita karena bagaimana pun dia darah daging ku," ucap Revan yang mulai bisa mengendalikan emosi.
Tania masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang kata-kata Revan membuat hatinya merasa sedikit ngilu.
''Kita sudah menikah bahkan memiliki putri yang cantik, apa tidak ada cinta sedikit pun untukku?,'' gumam Tania.
''Tadi dia bilang anak?? apa Velia hamil?? astaga aku tidak menyangka takdir pun berpihak padaku!," pikir Tania tersenyum puas.
"Tunggu! Apa mungkin Velia masih hidup??," gerutu Tania lalu segera mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1