
Setelah mengirimkan beberapa foto ke Tania, Velia datang menghampiri Revan yang sedang duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepala.
''Revan!," panggil Velia.
Revan mendongkakkan kepala lalu menatap Velia heran. ''Apa yang kau lakukan di sini??,"
''Aku kan calon pemilik rumah sakit ini juga!!," ucap Velia tanpa sadar.
''Ehh.. maksud ku, aku lagi datang menemani David!," lanjutnya dengan tersenyum kaku.
"Mulut ini suka sekali menghianati ku!," batinnya.
"Apa yang kau lakukan di sini??, apa Tania sakit??," ucap Velia pura-pura tak tahu.
"Aku tidak sengaja menabrak orang tadi, jadi aku membawanya ke sini karena ini rumah sakit ini yang terdekat!," ucap Revan sambil menatap Velia.
"Kau semakin cantik saja Ve, andai saja tidak ada Tania yang masuk ke dalam hubungan kita sudah pasti kita akan bersama menjadi keluarga kecil yang bahagia," batin Revan.
Tiba-tiba dokter memanggil Revan. "Tuan, anda sudah bisa bertemu dengan nya!,"
Revan lalu berdiri. "Bagaimana keadaan nya dokter?,"
"Semua baik-baik saja, hanya beberapa jahitan saja dan sisanya hanya tergores hanya jadi anda harus tetap kontrol luka nya beberapa hari ke depan!," jelas dokter jaga tersebut.
"Terima kasih Dokter!," balas Revan.
"Saya permisi Tuan!," ucap dokter lalu ia sedikit menundukkan kepala ke arah Velia. "Nona muda saya permisi dulu!," kemudian dokter itu pergi.
Velia juga membalas dokter tersebut dengan menganggukkan kepala.
"Apa benar ini rumah sakit mu??," tanya Revan yang jadi penasaran.
"Iya memang ini akan menjadi miliknya juga!," ucap seorang pria dengan suara bariton nya .
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Nampak pria itu sedang berjalan ke arah mereka.
"David!!," seru Velia sambil berlari ke arah David. Ia lalu bergelayut manja di lengan David.
Revan yang melihat sikap Velia mendadak merasa panas. Bagaimana pun juga Revan masih memiliki perasaan ke Velia meski sudah tak sebesar dulu.
"Ayo kita pergi!," ajak David lalu berjalan meninggalkan Revan sambil merangkul pundak Velia.
"Udah lepasin!," ucap Velia sambil melepas tangan kekar yang merangkulnya begitu mereka berdua sampai di parkiran.
"Kenapa??," heran David.
''Berat!," alasan Velia lalu masuk ke dalam mobil begitu juga David. Mereka berdua akhirnya meninggalkan rumah sakit lalu menuju ke markas Red Dragon.
__ADS_1
Disisi lain Revan menemui wanita yang di tabraknya tadi. ''Aku akan mengantar mu pulang,"
Wanita itu menggelengkan kepala. ''Aku bisa pulang sendiri!, Anda tidak perlu repot mengantar ku!,"
''Jangan menolak, ini sebagai bentuk tanggung jawab ku!,"
''Baiklah!,"
Revan menggendong wanita itu sampai di mobil.
"Pria ini baik sekali," wanita itu menatap wajah pria yang menggendongnya. Ia dengan refleks mengalungkan lengannya di leher Revan agar tidak terjatuh.
Revan kemudian membantu wanita itu masuk ke dalam mobil setelah itu dia juga masuk.
Ia melajukan mobilnya keluar rumah sakit.
"Siapa nama mu??," tanya Revan sambil fokus menyetir mobil.
"Aku Yumi!," balas wanita itu.
"Aku Revan!," sambil menoleh ke arah Yumi.
"Rumah mu di mana?," lanjutnya.
"Agak jauh sih dari sini!, nanti aku akan menunjukan jalannya padamu, maaf yah Revan sudah membuat mu repot!," ucap Yumi sambil menundukkan kepala merasa tidak enak dengan pria di sampingnya itu.
Revan tersenyum. "Aku tidak masalah!,"
Mobil Revan berhenti di sebuah rumah minimalis dengan halaman yang sangat asri.
"Terima kasih sudah mengantar ku!," ucap Yumi begitu keluar dari mobil.
Revan mengeluarkan ponsel miliknya lalu memberinya ke Yumi. "Aku butuh nomor ponsel mu untuk menghubungimu kalau mau kontrol ke dokter!,"
Yumi dengan ragu mengambil ponsel Revan lalu menyimpan nomor ponselnya.
"Aku akan menghubungi mu!," ucap Revan mengambil ponselnya lalu melajukan mobil menuju tempat tujuan yang sebelumnya tertunda.
Yumi pun masuk ke dalam rumah. Nampak seorang wanita paruh baya menghampiri Yumi.
"Kamu kenapa??," ucap wanita paru baya itu dengan khawatir.
"Aku nggak apa-apa kok Bibi!," balas Yumi sambil terus berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kamu istirahat saja kalau gitu!," ucap Bibi Yumi.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju markas David dan Velia di penuhi canda tawa.
"Aku ingin terus seperti ini bersamamu Velia!," batin David sambil menatap wanita cantik di sampingnya.
"Daddy juga mau datang ke markas kan??," tanya Velia.
"Iya, dia ingin melihat-lihat keadaan di markas!," balas David.
Hanya beberapa kilo meter lagi mobil mereka berdua sampai ke markas, namun saat memasuki jalan yang cukup sepi mobil mereka di hadang beberapa mobil.
David menghentikan mobilnya. Ia menggenggam tangan Velia. "Kau selalu siap akan situasi seperti ini??,"
"Tentu saja!," Velia lalu mengambil beberapa senjata begitu juga David.
Nampak beberapa pria keluar dari mobil menghujani mobil David dengan peluru.
Untung saja Jordan sudah menyuruh asistennya untuk melengkapi keamanan semua mobil dirumahnya sehingga peluru kecil itu tidak menembus mobil David.
Velia membuka sedikit jendela lalu membalas tembakan dari musuhnya. Para musuhnya pun berjatuhan.
Merasa terdesak musuh mereka mengeluarkan sebuah bola kecil ke mobil David. Bola itu terhenti di depan mobil yang tersisa berjarak beberapa meter lagi menyentuh mobil David.
"Apa itu??," tanya Velia lalu menoleh ke arah David.
"Merunduk!!," seru David.
Duaarr.
Sebuah bom meledak membuat semua kaca mobil David pecah dan mobil mereka terpelanting.
David perlahan tidak sadarkan diri. Dia samar-samar melihat Velia yang masih sadar di tembak oleh musuhnya lalu di bawa ke dalam mobil mereka dan akhirnya David tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian beberapa rombongan mobil datang ke lokasi David. Nampak seorang wanita turun dari mobil lalu berlari ke arah mobil David.
"David!!..David!!..," teriaknya histeris melihat adiknya tak sadarkan diri dengan penuh luka dan bersimbah darah.
Luna mencari keberadaan Velia namun tidak menemukannya. "Sial mereka membawa Velia!," geram Luna.
"Kalian cepat kemari!!," Luna memanggil Carlos dan Alden.
Alden dan Carlos sangat terkejut melihat kondisi David, meski pun begitu mereka langsung membantu Luna mengangkat tubuh David dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Luna bergegas membawa adiknya ke rumah sakit, sedangkan sisanya mencari petunjuk keberadaan Velia.
Luna nampak pucat karena khawatir dengan kondisi David. Dia trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu.
"David aku mohon jangan tinggalkan kami juga!, aku nggak mau kehilangan adik lagi!," ucap Luna sambil menggenggam tangan adiknya.
__ADS_1
Mobil yang membawa Luna dan David pun tiba di rumah sakit.
Para staf rumah sakit sudah siap menunggu kedatangan Luna setelah mendapat instruksi dari Morgan yang mengetahui informasi ini dari Luna sebelumnya.