Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
13. Desas Desus


__ADS_3

Yanto yang ditunggu pulang di rumah Ibunya hingga tengah hari tak juga kunjung kelihatan batang hidungnya.


Ibu yang baru saja menidurkan lagi dede bayi tampak keluar kamar mencari Mbak Ukha yang sedang menyetrika di ruang TV sambil gelaran karpet, sementara di dekatnya Tita tertidur juga dengan pulas.


Tita tidur dengan buku gambar di sampingnya, buku gambar di mana ia menggambar sebuah makam dan perempuan berdiri di dekat makam.


Ibu menghela nafas, saat kedua matanya bertemu dengan kedua mata Mbak ukha.


"Katanya itu Mama, dia bilang kenapa harus ada kematian?"


Kata Mbak Ukha manakala Ibu akhirnya duduk selonjoran di sebelah Mbak Ukha yang tetap menyetrika.


"Yanto belum pulang, sudah berapa hari tidak makan, kalau dia nanti sakit bagaimana nasib dua anak ini."


Lirih Ibu sedih,


"Tadi Lukman kirim pesan Bu."


Kata Mbak Ukha.


"Apa? Apa katanya?"


Tanya Ibu pula.


Mbak Ukha sejenak menoleh ke arah Tita yang tertidur pulas di dekatnya, tak mau mengganggu tidur Keponakannya, dan juga karena tak mau nantinya Tita bisa tidak nyaman jika sampai mendengar cerita Lukman, maka Mbak Ukha akhirnya lebih memilih untuk meraih hp nya saja dan memberikannya pada Ibu nya agar bisa membaca sendiri tentang apa yang disampaikan Lukman padanya.


Ibu mengambil hp dari tangan Mbak Ukha, untuk kemudian dia baca,


Para warga sekitar rumah Mas Yanto heboh pagi tadi.


Mereka siram-siram air doa dan tabur doa.


Semalam, anak tetangga belakang rumah Mas Yanto katanya melihat penampakan.

__ADS_1


Penampakan perempuan mirip Mbak Mirna.


Mereka ribut karena tidak diadakan pengajian, mereka khawatir akan ada penampakan terus.


Mereka langsung terganggu dengan mitos perempuan hamil atau habis melahirkan meninggal akan jadi kuntilanak.


"Ya Allah, tega sekali."


Lirih Ibu setelah membaca pesan-pesan yang dikirim Lukman.


Mbak Ukha mengangguk,


"Sudah Ukha bilang, jangan beli rumah di sekitar situ, daru dulu orangnya kan terkenal agak kurang empatinya pada orang lain."


Kata Mbak Ukha.


Ibu mengelus dadanya, sakit rasa-rasanya, menantunya yang baru saja meninggal dikatakan jadi kuntilanak.


Padahal jelas-jelas dalam agama dikatakan perempuan yang meninggal setelah melahirkan adalah kematian syahid.


Semulia itu malah di tengah masyarakat muncul kepercayaan yang seperti itu.


Ibu jadi sangat sedih.


Sekalipun ia merasakan semalam memang ada yang aneh, tapi sungguh Ibu tak mau berpikir jika Mirna menantunya menjadi hantu.


"Ibu lebih baik juga makan dulu, jangan terlalu capek, besok kita terima saja tawaran Bibik untuk bergantian mengurus Dede bayi, nyatanya mengurus anak tak semudah yang dibayangkan kan Bu?"


Ibu mengangguk mengiyakan.


"Usia Ibu sudah tak lagi muda, itu sebabnya mengurus bayi satu saja rasanya lelah sekali."


Kata Ibu.

__ADS_1


Mbak Ukha mengangguk mengerti.


Nyatanya memang begitu.


Jangankan untuk Ibu yang sudah tua, untuk banyak pasangan muda juga mengurus anak adalah hal yang sangat berat.


"Kamu masak apa tadi?"


Tanya Ibu.


"Sayur bening dan ikan goreng, tahu, sambal."


Jawab Mbak Ukha.


"Pengajian nanti malam Bibik mu membuat hidangan apa katanya?"


Tanya Ibu.


"Goreng pisang dan goreng tahu kayaknya tadi cerita, sama apa ya..."


Mbak Ukha seperti mencoba mengingat-ingat sambil mencopot kabel setrika.


"Bakwan?"


Tanya Ibu seraya berdiri dari duduk selonjornya,


Mbak Ukha menggeleng, lalu...


"Oh, kacang rebus, ya tadi bilangnya bikin kacang rebus, itu kan Mirna suka, begitu katanya."


Tutur Mbak Ukha.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2