
Hari telah beranjak siang, matahari bersinar terik luar biasa, bersanding dengan hembusan angin kencang. Tampaknya, musim memang akan segera berganti. Dari penghujan menjadi kemarau.
Yanto berjalan macam orang linglung ke rumahnya, di belakangnya Munir mengikuti setelah keduanya turun dari kendaraan.
Yanto beberapa kali terlihat menghela nafas, jelas sekali ada banyak sekali yang kini membebani pikiran dan perasaannya.
Munir sabar memperhatikan dan menemani teman baiknya sejak dulu itu, pernah merasakan ditinggal mati isteri membuat Munir memang memiliki empati yang tinggi pada Yanto.
Meskipun...
Tentu saja, kematian isteri Munir untungnya tidak sampai ada drama penampakan macam mendiang isteri Yanto sekarang ini.
Yanto membuka pintu rumahnya,
Rumah yang belakangan tak lagi ditempati dan kembali dikosongkan terasa lembab.
Yanto memasuki rumah, sementara Munir yang mengikuti Yanto dari belakang sejenak menghentikan langkahnya di ambang pintu utama.
Ditatapnya sepenjuru ruangan depan rumah Yanto terlebih dahulu, ruangan yang kini terlihat kosong karena dinding-dinding yang biasanya dihiasi figura foto Yanto dan mendiang isterinya itu sekarang telah diturunkan, bahkan mungkin telah dibuang entah ke mana.
"Masuklah Nir, bantu aku membongkar kamar Tita."
Kata Yanto sambil menoleh pada Munir,
"Ya,"
Sahut Munir,
Yanto meneruskan langkahnya menuju kamar anaknya, ruangan benar-benar terasa aneh untuk Munir, mungkin karena efek rumah yang sering dikosongkan.
Sungguh jauh berbeda, dengan saat masih ada mendiang Isteri Yanto dahulu.
Saat Munir mampir ke rumah Yanto, dimana kadang ia juga dijamu makan bersama keluarga kecil Yanto, rasanya rumah teman baiknya ini terasa begitu hangat.
Namun sekarang...
Krieeeet...
Suara derit pintu kamar Tita terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut.
Yanto masuk ke kamar anaknya, yang kemudian diikuti oleh Munir.
"Di bawah tempat tidur katanya."
Gumam Yanto, saat Munir berdiri di sebelah Yanto.
"Ayok kita bongkar, sebentar lagi pasti Mbak Ukha dan Lukman juga tiba bukan?"
__ADS_1
Kata Munir.
Yanto mengangguk,
"Apa sebetulnya yang disimpan oleh Mirna, ada apa sebetulnya?"
Gumam Yanto pula, sambil mendekati tempat tidur Tita untuk mulai membongkarnya.
Munir melepas jaketnya, lalu setelah itu bergerak sigap membantu Yanto.
Sementara itu, saat keduanya tengah sibuk membongkar tempat tidur Tita, tampak Mbak Ukha dan Lukman baru saja sampai.
Mbak Ukha yang bisa dibilang jarang datang ke rumah Yanto, kini tampak memandangi bangunan rumah adiknya yang terlihat jauh lebih bagus daripada terakhir kali ia melihatnya.
"Sepertinya Mas Yanto dan Mas Munir sudah mulai bongkar kamar, aku masuk duluan Mbak."
Kata Lukman.
Mbak Ukha mengangguk,
"Ya masuk duluan saja sana, bantu mereka, aku di sini menunggu Nyi Parijem sampai."
Kata Mbak Ukha pula.
Lukman pun lantas mengacungkan ibu jarinya tanda setuju, ia tampak berjalan cepat masuk ke dalam rumah Yanto yang pintu utama rumahnya dibiarkan terbuka lebar.
Kucing liar itu lantas mengeong ke arah sebelah Mbak ukha, yang tentu saja kelihatannya untuk manusia di sana tidak ada apa-apa, namun bagi kucing, ia melihat bahwa sesosok perempuan berdiri di samping Mbak Ukha.
Sosok itu, sosok perempuan yang dulu tinggal di rumah yang kini kucing itu lewati. Perempuan yang selalu menyediakan makanan untuknya, dan juga satu mangkuk air di depan rumah hingga ia serta teman kucing liar lainnya tak pernah kehausan.
Tapi...
Sosok perempuan itu rupanya tak lagi bisa melakukan hal yang sama, dan sang kucing hanya mampu mengeong untuk menyapa.
Angin berhembus lagi, kali ini tak terlalu kencang, namun tetap saja hembusannya menerbangkan debu-debu jalanan.
Mbak Ukha menatap ujung jalan, berharap Nyi Parijem muncul dengan cucunya.
Hingga...
"Uhuk... uhuk... uhuk..."
Setelah sekitar hampir setengah jam, Lukman keluar dari dalam rumah, Mbak Ukha menoleh ke arah Lukman yang terbatuk-batuk.
"Kenapa Man?"
Tanya Mbak Ukha,
__ADS_1
"Tidak apa Mbak, hanya debu di dalam kamar lumayan pengap."
Kata Lukman.
"Sudah dibongkar?"
Tanya Mbak Ukha,
"Sedang dibongkar Mas Munir."
Jawab Lukman,
"Nyi Parijem lama sekali, coba Mbak masuk saja ingin lihat."
Ujar Mbak Ukha akhirnya karena penasaran,
Mbak Ukha pun masuk ke dalam rumah, Lukman kembali masuk mengikuti kakak perempuan nya.
Debu sudah mulai berkurang, karena kamar Tita disiram dan membuat rumah benar-benar kotor.
Tampak Munir sudah menggali sekitar tiga puluh senti bawah keramik kamar Tita, dan saat galian berikutnya, alat untuk menggali tanah yang dipegang Munir terantuk satu benda keras.
Munir menatap Yanto sejenak,
"Sepertinya ada sesuatu di sini Yan."
Kata Munir.
Yanto mengangguk, lantas cepat ia mengais-ngais tanah yang menutupi sesuatu itu.
Hingga...
Yanto tercekat, sebuah kotak kayu kecil yang tak asing untuknya terlihat di sana.
Yanto meraih kotak kayu itu dengan tangan gemetaran.
Keringat di tubuh dan kepalanya terlihat masih terus menetes,
Yanto bersila, memangku kotak kayu yang ia masih ingat betul dulu ia pesan khusus di salah satu temannya yang merupakan orang Jepara.
Kotak kayu itu, di mana ia gunakan untuk hadiah Mirna, yang di dalamnya ia letakkan gaun putih untuk kencan pertama mereka yang akhirnya berakhir dengan Mirna melepaskan kesuciannya.
Yanto menitikkan air mata saat ia melihat ukiran nama Mirna juga masih jelas ada di kotak kayu itu,
Lalu...
**------------**
__ADS_1