Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
60. Sedikit Lagi


__ADS_3

Cucu Nyi Parijem berjalan menuju pintu rumah yang kini terbuka lebar, Mbak Ukha dan Lukman tampak mengikuti di belakangnya dengan langkah waspada.


Mata keduanya tampak tak tenang, melirik ke sana ke mari memastikan bahwa mereka tak akan langsung disambut dengan penampakan hantu atau semacamnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di dalam ruangan depan rumah Nyi Parijem yang tak seberapa terang,


Ruangan itu kosong dan sepi, namun tercium bunga tujuh rupa yang untuk pemakaman.


Selain itu, tercium pula aroma kemenyan putih yang meski tak terlalu kuat, namun tetap saja cukup terasa memenuhi ruangan.


Mbak Ukha tangan kanannya menggapai lengan Lukman, karena rasanya tiba-tiba tubuhnya jadi merinding membayangkan sosok adik iparnya akan muncul di sana.


"Duduklah, Mbah sepertinya masih belum selesai."


Kata cuci Nyi Parijem pada Mbak Ukha dan Lukman,


Mbak Ukha dan Lukman saling pandang, lantas sepintas mereka menganggukkan kepala untuk kemudian sama-sama duduk di atas tikar pandan yang digelar di atas lantai ruangan itu.


Cucu Nyi Parijem sendiri berjalan ke belakang, meninggalkan Mbak Ukha dan Lukman.


Dan...


Begitu cucu Nyi Parijem masuk ke ruang belakang, tiba-tiba pintu depan rumah Nyi Parijem pelahan menutup sendiri.

__ADS_1


Mbak Ukha dan Lukman seketika menoleh ke arah pintu yang lantas terkunci sendiri juga.


"Hah, Man, apa itu?"


Mbak Ukha tampak panik, perempuan itu berdiri dari duduknya karena melihat pintu itu mengunci sendiri,


Lukman yang duduk di sebelah sang kakak juga akhirnya ikut berdiri, keduanya sama-sama menatap pintu dengan wajah panik,


"Ki... Kita pulang saja Man, ini tidak beres."


Ujar Mbak Ukha,


Lukman baru akan menuruti keinginan Mbak Ukha, saat kemudian terdengar suara perempuan tua dari dalam kamar,


"Duduk dan diamlah, kalian sangat berisik!"


Keduanya tampak sama-sama mematung, bingung harus bagaimana.


Sekian detik berlalu, keduanya tampak takut mau duduk lagi, pun juga takut jika harus nekat lari.


Sampai cucu Nyi Parijem kembali muncul dengan satu baskom berisi air yang telah dicampur bunga tujuh rupa,


Cucu Nyi Parijem berjalan sambil membawa baskom berisi air bunga tersebut.

__ADS_1


Tampak ia memasuki ruangan depan yang di mana Mbak Ukha dan Lukman yang sedang berdiri kebingungan kini menatapnya dengan ekspresi masih menyimpan ketakutan juga,


"Kenapa berdiri? Duduklah."


Ujar Cucu Nyi Parijem, yang lantas meletakkan baskom berisi air bunga di atas tikar pandan di depan Mbak Ukha dan Lukman.


Dua kakak beradik itupun lantas duduk kembali, mereka menatap air bunga di dalam baskom yang baru saja di letakkan cucu Nyi Parijem.


"Ini untuk apa?"


Tanya Lukman penasaran,


Cucu Nyi Parijem menatap Lukman, lalu tampak ia tersenyum aneh.


Senyuman yang entah kenapa membuat bulu kuduk Lukman sedikit merinding.


Cucu Nyi Parijem lantas kembali berdiri, yang bersamaan dengan itu pintu kamar depan dekat ruangan tersebut kini tampak terbuka perlahan.


Mbak Ukha dan Lukman pun menoleh ke arah pintu kamar depan tersebut, yang kemudian tampak di sana Nyi Parijem berjalan keluar membawa satu kendi dari tanah liat berukuran kecil yang diikat tali,


Cucu Nyi Parijem sigap membantu, ia tampak begitu telalen menyiapkan semuanya.


"Mar... Marni, kemarilah."

__ADS_1


Kata Nyi Parijem sambil menatap ke sudut pintu rumah.


**------------**


__ADS_2