
Terdengar suara motor milik Lukman masuk ke halaman rumah.
Ibunya Yanto dan Bibik Nur yang semula merasa ada seseorang di balik tirai kamar akhirnya bernafas lega.
"Lukman dan Ukha itu."
Kata Ibunya Yanto, terlihat Bibik Nur berdiri sebelum kemudian Ibunya Yanto juga berdiri dari duduknya.
Kedua kakak-beradik itu lantas sama keluar dari kamar depan rumah Ibunya Yanto, demi untuk menyambut kepulangan Mbak Ukha dan juga Lukman dari rumah Nyi Parijem.
"Buuu..."
Terdengar kemudian suara Mbak Ukha sambil membuka pintu depan rumah,
Ibunya Yanto dan Bibik Nur tampak langsung menghampiri Mbak Ukha yang membawa satu botol air.
"Di dalam saja Bu, Bik."
Kata Mbak Ukha pada keduanya.
Mereka pun lantas berjalan ke ruang dalam, dan duduk di tempat makan.
Mbak Ukha meletakkan botol air yang ia bawa di atas meja ruang makan, lalu melepas tas selempangnya dan meletakkannya juga di sana.
"Ada Nyi Parijemnya Kha?"
Tanya Ibu.
Tampak Mbak Ukha mengangguk.
"Ada Bu, kebetulan juga sedang tidak ada tamu."
Kata Mbak Ukha.
"Oh syukurlah..."
Bibik Nur ikut lega mendengarnya.
Mbak Ukha lantas duduk, wajahnya cukup tegang, membuat Ibu dan Bibik juga jadi kembali ikut tegang.
"Apa katanya?".
Tanya Ibu penasaran dan sedikit curiga karena takutnya ternyata Nyi Parijem belum apa-apa tidak mau bantu.
Mbak Ukha menghela nafas,
"Mirna, dia sepertinya ada masalah yang belum selesai Bu, Bik."
Kata Mbak Ukha.
"Masalah apa?"
Tanya Ibu.
Mbak Ukha menggeleng,
"Aku tidak tahu, Nyi Parijem juga tidak bicara banyak, ia hanya bilang bahwa ia ingin memberi waktu pada Mirna untuk menyelesaikan masalahnya di dunia sebelum ia ditenangkan."
Tutur Mbak Ukha.
"Diberi waktu? Apa Nyi Parijem sudah gila? Dia memberi waktu pada hantu dan mengharuskan kita ketakutan setiap hari?"
__ADS_1
Tanya Ibu sedikit kesal,
"Sabar Mbak Yuu..."
Bibik Nur mengusap lengan tangan Kakaknya.
"Ya bukan masalah hantu itu Mirna atau bukan, ini masalahnya adalah sosoknya bukan lagi Manusia, Nyi Parijem ini kenapa?"
Ibu tampak mengelus dadanya yang jadi sesak.
"Soalnya jika tak diberi waktu, hantu Mirna malah akan semakin sulit ditenangkan Bu, kita hanya diminta menggantung jimat di pintu dan air ini juga untuk di siram di setiap sudut rumah. Itu saja."
Kata Mbak Ukha.
"Paling tidak rumah kita tidak bisa dimasuki."
Tambah Mbak Ukha.
Tampak Mbak Ukha mengeluarkan selembar potongan kain kafan yang sudah ditulis huruf arab dan hanacaraka oleh pengikut Nyi Parijem.
Ya... sosok Ki Wulung, ternyata bukanlah suami atau Manusia, tapi sebangsa jin yang selama ini menghuni keris milik Nyi Parijem.
Keris yang akan menghilang di setiap tanggal satu suro dan kembali tujuh hari setelahnya itu telah bersama Nyi Parijem selama hampir tiga puluh tahun.
"Nanti Lukman saja yang gantung jimatnya, airnya biar Ukha yang siram-siram."
Kata Mbak Ukha pula.
**--------------**
Suara kipas angin dan detik jarum jam memenuhi kamar berukuran 3 x 4 meter persegi itu.
Suaranya mengimbangi suara dengkuran halus Yanto yang terlelap setelah sekian hari kurang istirahat.
Angin berhembus pelan, meski tetap mampu membuat dedaunan pohon yang tumbuh di depan rumah bergoyang-goyang.
Lamat-lamat di kejauhan, sesosok perempuan melayang mendekat ke arah halaman rumah.
Ia terlihat melayang begitu pelan, dengan gaun putihnya yang menjuntai ke atas tanah dan juga rambutnya yang nyaris sepanjang mata kaki.
Ia terus melayang, hingga akhirnya ia berhenti di depan pagar halaman sebuah rumah minimalis yang tampak begitu nyaman ditinggali.
Sosok itu lantas menembus pagar rumah, ia melayang semakin mendekati rumah, namun tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tak bisa masuk ke dalam rumah.
Sosok itu lantas berdiri di depan pintu, matanya terlihat sangat sedih.
"Mas... Maaaas... Aku pulaaaang Mas... Bukakan pintu untukku..."
Suara itu terdengar sayup-sayup,
"Maaas... Mas Yantoooo... Aku pulang Maaaas..."
Mirna...
Ya Mirna, sosok perempuan itu kembali bersuara, ia begitu menghiba.
Mirna mendekati jendela kaca rumahnya, berdiri di sana menatap nanar ke dalam rumah, kedua telapak tangannya seolah menempel pada kaca jendela, berusaha masuk tapi tidak bisa.
Sementara itu, Yanto di dalam kamar yang tiba-tiba merasa ada yang memanggil-manggil dirinya, kini iapun tampak pelahan membuka matanya.
Ia terbangun dari posisinya berbaring, lalu duduk sejenak sambil menyapukan pandangan matanya ke seluruh ruangan, termasuk ke arah foto pernikahannya dengan Mirna.
__ADS_1
Mirna, perempuan yang sangat cantik itu telah pergi untuk selamanya, begitu banyak hal yang ingin Yanto sampaikan dan itu belum terlaksana membuat Yanto benar-benar merasa terbebani.
Yanto kemudian terlihat turun dari tempat tidur, saat kemudian ia mendengar suara ketukan di pintu depan.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan yang pelan itu terdengar beberapa kali, Yanto menatap jam dinding kamarnya.
"Sudah selarut ini, siapa yang datang berkunjung? Lukman kah?"
Batin Yanto.
Yanto akhirnya keluar dari kamar, saat bersamaan suara di depan rumah berganti lonceng yang memang dipasang sebagai pengganti bel.
Yanto pelahan melangkah melewati ruang depan, hingga kemudian langkahnya terpaksa berhenti, saat sebuah bayangan terlihat di depan kaca jendela rumah.
Bayangan itu lantas seolah berdiri di depan kaca.
Meski tak begitu jelas karena terhalang tirai putih yang lumayan tipis, tapi Yanto jelas bisa melihat sosoknya mirip dengan Mirna.
Yanto terhuyung hampir jatuh, manakala wajah sosok di luar sana seperti ditempelkan di kaca jendela.
"Maaaas... Aku pulang Maaaas... Aku pulang Maaaas..."
Suara itu terdengar jelas,
Yanto menggelengkan kepalanya,
"Pergi! Kau sudah mati! Pergi!!!"
Kata Yanto.
"Maaas, bukankan kau ingin aku pulang? Bukankan kau juga merindukanku Maaas..."
Terdengar lagi suara Mirna yang seperti sambil menangis.
Iba dan takut yang kini bercampur menjadi satu di dalam hati Yanto begitu terasa sangat membebani.
Yanto menangis pula,
"Kau kenapa Miiir, kau kenapa sebetulnya? Masihkah kau sebetulnya belum memaafkan aku???"
Yanto sesenggukan, ia begitu sakit hatinya, merasa begitu bersalah, sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ia harus bagaimanapun ia tak tahu.
Ia merasa bersalah pada anak-anak karena kini mereka tak punya Mama yang mengurus mereka, dan ia juga merasa bersalah karena tak sempat memperbaiki segalanya.
Tapi...
Jika ia harus memperbaiki semuanya sekarang bersama hantu, tentu saja Yanto tak sanggup pula.
Maka...
"Mir, pergilah Mir... Ku mohon."
Lirih Yanto seraya bersimpuh di lantai.
__ADS_1
Tapi, Mirna yang menangis darah tak mau pergi, ia ingin tetap di sini, ia tak mau pergi, ia tak mau pergi.
**------------**