
"Ukha dan Lukman jadi ke tempat Nyi Parijem mbak yu?"
Tanya Bibik pada Ibunya Yanto, yang merupakan kakaknya.
Keduanya adalah adik kakak di dalam keluarga mereka yang masih diberi umur panjang, setelah tiga kakak mereka telah meninggal.
"Sekarang lagi ke sana, mudah-mudahan Nyi Parijem sedang ada di rumah, belakangan banyak orang bilang ia sulit ditemui sejak ada polisi yang datang."
Kata Ibunya Yanto.
"Apa iya ada polisi datangi Nyi Parijem? Kena kasus apa dia Mbak Yu? Kok aku tidak dengar ya kabarnya."
Bibik tampak antusias, ia jelas penasaran karena ia memang belum sempat mendengar.
"Sudah satu bulanan kok, wong kamu kan juga baru pulang dari Purworejo, yo jelas belum dengar."
Ujar Ibunya Yanto.
"Ah iya juga Mbak Yu, ini kayaknya juga aku paling akhir bulan ke sana lagi, wong susah itu si Yuni kan tidak seperti Ukha lho Mbak waktu jaman pertama melahirkan langsung mandiri."
"Yo sabar, namanya anak yo beda-beda, kakaknya Yuni, si Lilis kan juga sama kayak Ukha, tidak sampai minta ditemani."
__ADS_1
Kata Ibunya Yanto,
"Iya sih iya, tapi ini sebetulnya aku lho pengin mbantu Mbak Yu ngurus si Panji, betul kan Mbak Yu, namanya Panji?"
Bibik bertanya, Ibunya Yanto mengangguk,
"Iyo, tali pusarnya sudah putus, besok buat bubur merah putih saja yo Nur."
Kata Ibunya Yanto.
"Iya, nanti aku saja yang masak."
Kata Bibik sambil mengelus pipi dede bayi yang sebentar lagi akan diberi nama Panji.
Muhamad Panji Mubarak, begitulah rencananya Ibunya Yanto akan memberikannya nama.
Panji terlihat menggeliat khas anak bayi, aroma bedak dan minyak telon yang khas tercium memenuhi seluruh ruangan kamar di mana kini dede Panji tidur.
"Lelah ya Mbak Yu? sudah hampir lima puluh delapan tahun, masih harus mengurus anak dari cucu."
"Lumayan Nur, capeknya kalau malam tidak bisa tidur, kalau dulu kan aku punya anak masih ada bapaknya anak-anak, bisa gantian jaga, kalau sekarang, meskipun Ukha mau gantian, tapi tetap saja aku tidak boleh tidur, dianya takut."
__ADS_1
Mendengarnya Bibik jadi terkekeh,
"Ya wajar Mbak Yu, di luar juga cerita yang berseliweran lumayan membuat panas telinga. Kasihan sebetulnya aku dengan Mirna, dia sejak menikah dengan Yanto kan macam dibuang keluarganya, sekarang sudah meninggal tidak juga bisa tenang."
Lirih Bibik.
Ibunya Yanto mengangguk membenarkan,
"Aku apalagi Nur, buatku Mirna itu tidak seperti menantu, tapi anak perempuan. Makanya meski aku lelah, tetap aku akan rawat anak ini sampai besar. Tidak peduli Yanto mau marah seperti apapun, karena ingin anaknya diboyong semua, aku tetap tidak akan melepaskan si bayi ini."
"Tita apa tidak lebih baik di sini juga Mbak Yu? Di sana kan tidak ada siapa-siapa, Yanto juga karakternya begitu, mana telaten dia mengurus anak seorang diri, malah kasihan nanti Tita, Mbak."
Ibunya Yanto menghela nafas,
"Kau juga tahu bagaimana aku ribut dengan Yanto saat sore hari Tita bicara soal ia mandi ditemani Mamanya."
Ah mendengarnya Bibik jelas langsung merinding, begitupun dengan Ibunya Yanto, ia pun seperti merasakan hal yang sama.
Keduanya celingak-celinguk, terutama pada tirai pintu kamar yang sesekali meriap-riap karena angin dari pintu belakang rumah yang dibuka.
Lalu...
__ADS_1
.
**---------------**