Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
63. Sang Perantara


__ADS_3

"Bagaimana? Yanto mau datang?"


Tanya Mbak Ukha pada Lukman, saat adiknya kembali masuk ke ruangan di mana Mbak Ukha duduk berhadapan dengan Nyi Parijem.


"Mas Yanto di makam, kata Mas Munir nanti diantar ke sini."


Kata Lukman duduk di sebelah Mbak Ukha lagi.


Mbak Ukha menghela nafas,


Nyi Parijem meludah ke dalam wadah di sampingnya, lalu menatap Mbak Ukha dan Lukman sebelum kemudian bicara,


"Setelah nanti kalian tahu, berjanjilah untuk menyelesaikan semuanya sebaik mungkin sesuai permintaan mereka."


Kata Nyi Parijem,


Mbak Ukha mengerutkan kening,


"Mereka?"


Mbak Ukha seperti bergumam,


Nyi Parijem lantas memanggil cucunya mendekat,


"Kalau aku yang mengatakan semuanya sendiri, kalian pasti berpikir aku mengada-ada,"


Kata Nyi Parijem membuka suara,

__ADS_1


Mbak Ukha dan Lukman menatap Nyi Parijem,


Nyi Parijem meminta cucunya berbaring di depan mereka,


"Akan kubiarkan kalian bertanya sendiri pada Marni, aku hanya akan menjembatani kalian menyelesaikan masalah ini."


Kata Nyi Parijem, lalu...


Tampak Mbak Ukha dan Lukman terdiam, mereka belum tahu apa yang akan dilakukan Nyi Parijem dan cucunya sebetulnya,


Hingga kemudian Nyi Parijem tampak komat-kamit membaca mantera sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam air yang dicampur dengan bunga tujuh rupa di dalam baskom yang telah disiapkan sebelumnya.


Nyi Parijem dengan terus membaca mantera, tampak kedua tangannya diusapkan pada cucunya yang berbaring dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Cucu Nyi Parijem yang berbaring itu memejamkan matanya, sambil kedua tangannya berada di atas tubuh macam seorang mayit.


Setelah sekujur tubuh sang cucu telah diseka air campuran bunga tujuh rupa dan kemudian ditutup rapat dengan kain kafan, Nyi Parijem kemudian mengambil bunga tujuh rupa yang bercampur dengan air di baskom.


Bung-bunga itu lantas di taburkan di atas kain kafan yang menutupi tubuh cucunya sebagaimana menaburkan bunga di atas makam.


Mbak Ukha dan Lukman menatap ngeri pemandangan di depannya, hingga kemudian Nyi Parijem berucap mantera dan...


"Cuh... cuh... cuh..."


Nyi Parijem seperti meludah ke arah kain kafan, saat kemudian tiba-tiba terdengar suara tangisan di balik kain kafan.


Suara tangisan seorang perempuan yang jelas sekali Mbak Ukha dan Lukman kenali betul itu suara siapa.

__ADS_1


Mbak Ukha meraih lengan Lukman, tangannya gemetaran karena takut, sementara matanya terus menatap kain kafan yang menyelimuti cucu Nyi Parijem,


Bersamaan dengan itu sebuah ketukan terdengar di luar pintu rumah Nyi Parijem,


Tampak Nyi Parijem menatap Lukman, di mana tatapan itu seolah perintah agar Lukman membukakan pintu rumah Nyi Parijem itu untuk yang datang.


Lukman pun buru-buru menurut bangkit berdiri dan cepat menuju pintu rumah untuk membukakan pintu itu,


Suara deritan pintu terdengar, dan ketika pintu terbuka, tampak Yanto berdiri di sana.


Yanto yang berdiri bersebelahan dengan Munir tiba-tiba saja seperti ada yang mendorong masuk ke dalam ruangan rumah Nyi Parijem hingga menubruk Lukman.


Munir yang hendak membantu justeru didorong keluar entah oleh siapa.


Munir yang didorong dan nyaris jatuh langsung berusaha melompat ke arah pintu, namun pintu rumah Nyi Parijem tiba-tiba menutup sendiri dan mengunci sendiri pula.


Yanto yang semula juga akan menahan pintu segera ditarik oleh kekuatan gaib lagi,


"Duduk! Kita selesaikan saja semuanya! Aku tidak mau kalian nanti bolak-balik menggangguku!!"


Ujar Nyi Parijem


Lukman yang merupakan saudara paling kecil hanya terlihat mengulum senyum.


Lalu...


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2