Aku Pulang Mas...

Aku Pulang Mas...
62. Mirna


__ADS_3

"Pergiiii... Pergi kaaaau!!!"


Winda menjerit-jerit seperti orang kesetanan, ia meronta-ronta sambil matanya mendelik ke atas.


Semua orang panik luar biasa, Ibunya bahkan ikut histeris karena melihat Winda jadi seperti orang gila.


Sejak Ibunya pulang dari warung dan menemukan Winda tergeletak di atas lantai kamarnya tak sadarkan diri, Ibunya merasa ada hal aneh dan janggal pada diri Winda.


Ya...


Tentu saja aneh untuk Ibunya Winda, karena tak biasa-biasanya Winda masuk ke kamar Ibu di saat Ibu sedang tidak ada di rumah, apalagi begitu masuk, ia juga jatuh pingsan di sana.


Dan...


Sungguh Ibu semakin bertambah-tambah merasakan ada keanehan, saat Ibu minta tolong tetangga memindahkan Winda ke kamar, Ibu merasa ada suara perempuan yang tertawa cekikikan di dekatnya di dalam kamar.


"Pergiii!"


Winda berteriak-teriak lagi, matanya terus saja menatap ke atas eternit kamarnya, ia benar-benar ketakutan.


"Cepat panggilkan Pak Sono atau Nyi Parijem tolong..."


Pinta Ibunya Winda, beberapa tetangga yang ada di rumah membantu memegangi Winda yang terus menjerit sambil meronta dan juga yang menemani Ibu tampak membantu menenangkan Ibu,


"Sudah Bu, Pak RT sedang ke tempat Pak Sono, kita tunggu saja, semoga sebentar lagi sampai."


Beberapa dari mereka berkata, Ibu menangis tersedu melihat Winda,

__ADS_1


"Wiiin, kamu kenapa sih naaak..."


Ibu khawatir sekali melihat keadaan Winda yang seperti orang gila menjerit-jerit terus tak jelas.


Ya, tentu saja bagi yang lain, yang tak bisa melihat apa yang Winda lihat, mereka menganggap Winda seperti orang gila menjerit-jerit tak jelas. Padahal...


Sosok perempuan yang tak lain adalah Mirna kini tampak berada di atas Winda.


Rambutnya yang panjang tergerai menjuntai ke arah wajah Winda, sementara wajahnya yang pucat semakin mendekati wajah Winda.


Sosok itu terus menyeringai ke arah Winda, bersamaan dengan itu suara-suara berisik seorang memenuhi kedua telinga Winda.


"Jauhi Yanto, dia milikku."


"Jauhi Yanto, dia milikku."


Winda tampak penggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, sambil memejamkan kedua matanya karena wajah Mirna yang semakin mendekat dirinya.


"Tidak... Tidak... Tidak..!!"


Winda begitu keras kepala, ia sangat takut, tapi ia pun enggan melepaskan Yanto.


Hingga kemudian,


"Pak Sono datang... Pak Sono datang."


Tiba-tiba suara warga ramai menyebut soal Pak Sono, dan itu langsung membuat Ibunya Winda langsung tergopoh-gopoh menyambut,

__ADS_1


Sosok hantu perempuan yang semula ada di atas Winda tampak menatap ke arah pintu di mana banyak orang kini perhatiannya tertuju pada Pak Sono yang baru datang.


Mirna, si hantu perempuan baru akan melayang ke sudut ruangan, manakala tiba-tiba terlihat satu sosok tinggi besar masuk ke dalam kamar Winda dan tanpa basa basi langsung menarik Mirna,


"Lepaskan!"


Mirna berusaha melepaskan diri, tapi sosok tinggi besar itu tentu tak peduli,


"Sudah kukatakan, jangan membuat masalah jika kau ingin tenang."


Kata sosok tinggi besar itu.


Mirna berteriak minta dilepaskan,


"Aku harus membuat perhitungan dengan perempuan itu!"


Kata Mirna.


Bersamaan dengan itu, Pak Sono masuk ke dalam kamar setelah lebih dulu menenangkan Ibunya Winda yang benar-benar takut anaknya akan gila atau apa.


Pak Sono memandang ke arah tempat tidur di mana kini Winda dipegangi agar tak memberontak, setelah itu laki-laki tua itu beralih memandang ke arah di mana Mirna kini di pegang sosok tinggi besar yang tak lain adalah pengikut Pak Sono.


"Kau lagi,"


Kata Pak Sono pada Mirna yang terlihat menyeringai ke arah Pak Sono.


**----------------**

__ADS_1


__ADS_2