
Malam hari, gerimis kembali turun, tak deras, hanya gerimis tipis saja, macam terbawa angin dari satu tempat.
Pemilik warung dekat rumah Ibunya Yanto baru keluar dari kamar, meminta anak laki-lakinya menutup warung karena hari sudah larut.
"Tidak akan ada yang beli lagi, tutup saja."
Kata si Ibu pemilik warung.
Anak laki-laki si Ibu yang sedang asik main games, akhirnya terpaksa beranjak dari duduknya dengan malas. Dengan mata masih fokus melihat hp, anak laki-laki kelas dua SMP itu menuju warungnya yang ada bekas garasi rumah.
Ia baru akan menuju rolling door warung, manakala ada suara dari luar warung Ibunya.
"Tumbas..."
Suara itu lembut terdengar, tak jelas sekali, tapi masih bisa tertangkap di telinga.
Si anak laki-laki pemilik warung lantas mengalihkan pandangan matanya sejenak dari arah layar hp keluar warung, sambil berjalan pula keluar warung.
Ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri.
Sepi, tak ada siapapun.
Si anak laki-laki pemilik warung garuk-garuk kepala, karena ia tadi merasa benar ada suara.
Apa cuma perasaanku? Batin si anak laki-laki pemilik warung.
"Juuun, cepat ditutup warungnya, lalu ini bantu Ibu angkat galon,"
Suara Ibu dari dalam terdengar lagi,
Junaedi, nama si anak laki-laki pemilik warung pun menghela nafas.
Dasar emak-emak, kalau menyuruh, satu belum selesai sudah ditambah-tambah, buat keder anak saja.
Junaedi pun meski hatinya mengomel, tapi sebagai anak yang terpaksa berbakti, karena memang semua hal baik butuh dipaksakan, maka Junaedi akhirnya mulai menutup rolling door warung.
Sampai rollingdoor yang ditutupnya dengan cara ditarik dari atas ke bawah itu sudah sampai separuh kaki, di mana Junaedi tampak membungkuk,
Tiba-tiba ia melihat dari celah kakinya, ada seperti seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Tumbaaas..."
Dan suara itu terdengar lagi, suara yang terasa tak seperti kebanyakan manusia yang jelas di telinga, suara itu seperti terhalang sesuatu, seperti terbawa angin tapi dekat.
Junaedi pun lantas berdiri lagi, kesal sebetulnya karena Rollingdoor warung sudah tinggal ditutup, malah datang orang lagi.
Kenapa dari tadi tidak datang?
__ADS_1
Buat lama saja.
Gerutu Junaedi dalam hati.
Junaedi pun lantas menoleh ke belakangnya, dan tampak kini berdiri isteri Mas Yanto, tetangganya,
Mendiang isteri Mas Yanto, berdiri di sana, matanya tak menatap Junaedi, ia menatap warung, tatapan kosong macam orang buta.
Wajahnya pucat pasi, bibirnya bahkan sampai putih tak berwarna, rambutnya panjang tergerai dan...
Junaedi menatap kakinya yang tidak ada, hanya gaun putih saja menjuntai ke lantai, dan baru disadarinya, sepertinya itu juga mengambang.
Junaedi mundur beberapa langkah, hp yang ada di tangan terjatuh pun ia tak merasa.
"Kun... Kun... Kun..."
Junaedi tergagap takut luar biasa, ia bahkan rasanya nyaris mengompol karena tak bisa menahan takut.
"Tumbas kapuk."
Suara itu terdengar lagi, seiring dengan kedua mata mendiang isteri Mas Yanto itu kemudian bergeser menatap Junaedi,
"Tumbas kapuk... Mas."
Junaedi terjatuh ke belakang,
Kata Junaedi,
Mendiang istri Mas Yanto menyeringai ke arah Junaedi, ia menghampiri Junaedi,
"Tumbas kapuk Mas... Tumbas kapuuuk..."
Suara itu begitu menyeramkan, membuat Junaedi yang mengumpulkan seluruh keberaniannya akhirnya menjerit.
"Aaaaaaaaaa!!!"
Dan...
"Juuun... Juuun... Ada apaaa?"
Suara Ibu pun dari dalam langsung terdengar panik.
"Ada kuntinya Mbak Mirna, Buuuuuu..."
Junaedi menyahut yang sudah jelas membuat orang-orang yang rumahnya di sekitar mereka berhamburan keluar.
Mendiang isteri Mas Yanto yang menghilang begitu Junaedi menjerit kini benar-benar langsung tak nampak.
__ADS_1
Ibu pemilik warung keluar dari rumah dengan tergopoh-gopoh, semua orang mengerubuti Junaedi yang ditolong tetangga sebelah untuk berdiri.
Keluarga Yanto yang juga mendengar jeritan Junaedi juga ikut keluar dari rumah, terutama Lukman, yang kebetulan baru saja pulang sepuluh menit lalu, karena setelah diminta Ibunya ke supermarket untuk melihat kondisi mobil Mas Yanto, Lukman mampir dulu ke rumah temannya.
Lukman, dan juga Bibik Nur dan Mbak Ukha ikut keluar dari rumah mereka, termasuk juga Paman, si suami Bibik Nur.
Junaedi yang masih ketakutan diberi minum yang diambilkan dari dalam rumah.
Junaedi kemudian diminta cerita dia tadi melihat apa.
Anak laki-laki pemilik warung itupun bicara pada semuanya, soal pengalaman menyeramkan barusan.
Ia tampak masih begitu ketakutan, karena terlalu jelas berhadap-hadapan dengan mendiang.
"Kau yakin itu Mbak Mirna?"
Tanya Lukman agak kurang suka sebetulnya belakangan ini kakak iparnya akhirnya jadi bahan pergunjingan, tapi...
"Ya, itu dia, jelas itu dia."
Kata Junaedi.
"Tidak, itu bukan dia, itu pasti hantu lain yang menyerupai dia,"
Ujar Mbak Ukha menyela,
Lukman yang memang belum sempat diberitahu soal kejadian di rumah oleh Mbak Ukha tampak menoleh ke arah Mbak Ukha,
Kaget pastinya, karena tidak biasanya Mbak Ukha seolah ingin membela adik ipar yang selama ini tak terlalu disukainya karena terkait masa lalu, yang sebetulnya juga tak pantas dijadikan alasan Mbak Ukha kurang suka pada Mirna.
Karena, Mbak Ukha toh hanya dengar dari kata suaminya, bukan ia melihat sendiri.
"Hantu lain bagaimana? Sudah jelas Junaedi bilang itu Mirna isteri Yanto. Memang dia penampakan di mana-mana."
Ibu pemilik warung berang.
Mbak Ukha yang jelas-jelas diberitahu oleh Mirna jika itu hantu di luar sana bukan dia jelas tidak terima juga.
Maka terjadilah akhirnya perdebatan soal hantu yang sulit mencari bukti untuk memperlihatkan siapa yang benar dan salah.
Mbak Ukha sampai harus gebrak meja, dan malah jadi diserang sana sini.
Lukman dan Paman pun akhirnya terpaksa harus menarik Mbak Ukha pulang, sedangkan Bibik Nur yang mewakili keluarga meminta maaf.
"Lebih baik dibuatkan acara doa lagi, dia sepertinya mati tidak tenang itu, kalau begini bisa bangkrut warungku orang pada takut mau belanja."
Ujar si pemilik warung pada Bibik Nur.
__ADS_1
**-----------**